Site icon Inipasti

Verdi R. Baso: Kisah Datu Museng-Maipa Deapati Terinspirasi Sinrilik

Penulis kisah cinta Maipa Deapati-Datu Museng, Verdy R Baso. (Foto: Yahya)

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Alunan sinrilik yang dimainkan begitu syahdu oleh Daeng Mappata, selalu mengulang kisah cinta sepasang anak manusia yang tak pernah lekang oleh masa. Kisah cinta yang menumental, memiliki kekuatan tak terpisahkan antara dua remaja yang berasal dari dua keluarga bangsawan besar di zamannya, kebangsawanan Gowa dan Kesultanan Sumbawa.

Si lelaki yang dikenal dengan nama Datu Museng, adalah pemuda pemberani yang gagah perkasa dari Gowa, jatuh cinta pada wanita yang cantik jelita, kembang Kesultanan Sumbawa.

Antara tahun 1957 dan 1959, kisah cinta Maipa Deapati dan Datu Museng ini selalu indah saat dilantunkan kembali dalam nyanyian dengan musik tradisional, sinrilik oleh sang maestro, Daeng Mappata.

Nyanyian sinrilik inilah yang membantu Verdi R Baso untuk menulis kembali kisah cinta pemuda-pemudi bangsawan yang akhirnya mempertautkan dua negeri, Gowa dan Sumbawa. Untuk menuntaskan penulisan kisah cinta ini hingga selesai, Verdi membutuhkan waktu yang cukup lama, tiga tahun.

Kisah cinta Maipa Deapati dan Datu Museng, selalu menghanyutkan saat didendangkan dalam alunan sinrilik di tengah masyarakat kampung. Permainan sinrilik Daeng Mappata yang sepenuh hati, seringkali mengantar para pendengarnya untuk berada di situasi saat kisah cinta itu berlangsung. Permainan sinrilik Daeng Mappata inilah yang membantu Very dalam memulai hingga menyelesaikan penulisan kisah kasih Maipa Deapati dan Datu Museng.

Ditemui di rumahnya awal September 2016, Verdi menceritakan bahwa dirinya menulis kisah cinta Maipa Deapati dan Datu Museng, saat masih duduk di kelas 1 SMA. Ide itu muncul karena selalu mendengarkan kisah cinta itu melalui sinrilik yang dimainkan oleh Daeng Mappata.

Saat itu, tahun 1954. Verdi yang masih kelas 1 SMA, sudah mengenal baik Daeng Mappata, seniman sinrilik yang buta, namun yang selalu berkeliling kampung menghibur masyarakat. Setiap kali bermain sinrilik, Daeng Mappata selalu membawakan cerita yang sama, kisah cinta Maipa Deapati dan Datu Museng.

Daeng Mappata mempunyai daya ingat yang cukup tajam. Meski buta, namun dia juga memiliki daya tahan yang kuat. Setiap kali membantu Very menulis kisah itu, Daeng Mappata mampu bermain tiga jam nonstop, mengulang-ulang cerita, sehingga Verdi tidak kehilangan secuil bait dari kisah perjalanan cinta itu.

“Setiap sore, saya pergi jemput Daeng Mappata yang tinggal sekitar Pabaeng-baeng, dengan sepeda dan membawanya ke rumah Vert di Jalan Maradekaya, Jalan Gunung Latimojong,” jelas Verdi mengenang masa-masa penulisan kisah Maipa Deapati.

Setiap hari, bait demi bait cerita yang dilantunkan Daeng Mappata, Verdi tulis dengan cermat di atas kertas. Saat menemani Verdi menulis cerita, Daeng Mappata juga selalu dikelilingi para penggemarnya yang sangat senang mendengarkan lantunan lagu dan sinrilik seniman itu. Meski buta, Daeng Mappata memang sangat terkenal sebagai Passinrilik yang kesohor di masanya.

Dalam menyanyikan kisah cinta Maipa Deapati-Datu Museng, Daeng Mappata menggunakan bahasa sastra yang sangat elok dan tutur yang mendayu.

Tutur inilah yang dituangkan kembali oleh Verdi dalam bentuk naskah tertulis. Tak heran bila dalam naskah asli novel yang ditulis oleh Verdi R Baso, kita akan menemukan tulisan naskah dengan tutur bahasa yang indah dengan makna sastrawi yang begitu tinggi.

Verdi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menyelesaikan naskah kisah cinta itu. Keadaan itu, katanya, lebih disebabkan oleh faktor ekonomi. Lelaki berusia 79 tahun ini bercerita bahwa setiap kali mendatangkan Daeng Mappata ke rumahnya untuk melanjutkan penulisan naskah, dia harus menyediakan minimal tembakau gulung dan cemilan ringan berupa ubi dan pisang goreng serta kopi.

Karenanya, bila ada uang yang bisa dipakai untuk menyediakan kebutuhan itu, barulah Verdy menjemput Daeng Mappata lagi.

Selama tiga tahun, sejak kelas 1 SMA pada tahun 1954 sampai lulus di tahun 1957, Verdi akhirnya bisa merampungkan naskah novel yang monumental itu.

Selama proses menulis, Verdi mengaku tidak ada beban apa-apa yang dia rasakan. Demikian pula bahasa sastra dalam tutur kata yang digunakan, cukup dikuasai dengan baik oleh Verdi yang memang sangat senang membaca karya-karya sastra.

Setelah selesai memindahkan tutur yang mengalun dari nyanyian dan permainan sinrilik Daeng Mappata, Verdi selanjutnya melakukan editing terhadap ribuan lembar naskah asli hasil tulisannya itu.

Dia mengaku, tulisan itu melukiskan secara sempurna karakter dan perjalanan cinta sang tokoh cerita, yaitu mengenai keberanian Datu Museng serta kecantikan Maipa Deapati. Verdy menyebutkan bahwa seluruh daya khayalnya dikerahkan untuk bisa menyelami apa yang terjadi di masa sekitar abad ke-17 dan 18 itu, atau sekitar awal tahun 1700-an.

Saat Daeng Mappata menggesek sinriliknya dan menyanyikan kisah Datu Museng dengan sepenuh jiwa, Verdi turut larut dalam suasana dan seolah terbawa ke masa saat Datu Museng dan Maipa Deapati sedang menjalin kisahnya.

Setiap kali Daeng Mappata menyelesaikan nyanyian satu episode cerita, maka Verdi pun menyelesaikan penulisan satu episode cerita yang sama.

Verdy mengaku, kisah yang dinyanyikan oleh passirinlik itu kadang-kadang dilebih-lebihkan, sehingga menjadi tidak masuk akal. Itu terutama pada kisah heorisme sang tokoh lelaki yang gagah perkasa. Karenanya, Verdy berupaya menyaring ulang cerita yang lebih logis untuk dituangkan dalam novelnya.

Verdi sendiri adalah wartawan yang sudah berkarir sejak jaman Orde Lama. Pria kelahiran Bantaeng, 14 Maret 1937 ini, setelah menamatkan sekolahnya di SMAN 2 Makassar pada 1957, sempat menjalani masa kuliah selama satu tahun di Fakultas Hukum Unhas Makassar. Namun kemudian dia lebih tertarik bekerja di Harian Marhaen pada 1959 dan bertahan sampai 1966.

Karir jurnalistiknya pun cukup panjang dan berpindah-pindah. Dari koran Marhaen, Verdi lalu pindah bekerja ke Warta Nasional. Di surat kabar ini, dia hanya bertahan dua tahun, kemudian berpindah ke Harian Tegas. Pada tahun 1974, dia pindah lagi ke Harian Pedoman Rakyat. Perjalanan karir jurnalistik Verdi R Baso berakhir, bersamaan dengan tutupnya harian Pedoman Rakyat pada 2007.

Baca juga: Maipa Deapati dan Datu Museng, si Pengantin Berbaju Merah

Exit mobile version