Perilaku Gen Kekuasaan

ilustrasi, google images
Top Ad

INIPASTI.COM – Watak dasar kekuasaan adalah menjadikan otak dan jasadnya untuk memikirkan, bertindak dan berperilaku agar kekuasaannya berkelanjutan dan meluas, agar kekuasaanya semakin berbisa. Penguasa yang lihai, akan menjadikan kekuasaanya seperti arsenic, yang bisa mematikan siapapun yang berbeda dengan kepentingan kekuasaannya.

Pengetahuan adalah satu-satunya yang bisa melemahkan moncong kekuasaan. Karena tidak ada kekuasaan tanpa pengetahuan, dan tak ada pula pengetahuan tanpa kekuasaan. Benar kata Foucault, kekuasaan dan pengetahuan itu tumbuh bergandengan, dan saling menguatkan.

Pada system kekuasaan modern, untuk mengimbangi kesewenangan kekuasaan, pengetahuan memproduksi apa yang disebut demokrasi. Namun demokrasi dapat memasuki bejana kekuasaan, karena pengetahuan telah berkompromi dan bermain mata dengan kekuasaan.

Demokrasi hanyalah sebuah nama untuk memanipulasi kesadaran public. Pada hakekatnya, demokrasi tetap tunduk pada kekuasaan. Piranti dan perangkat demokrasi adalah patron yang diproduksi oleh kekuasaan, justru untuk melanggengkan dan mengawetkan kekuasaan. Sebagai contoh, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai simpul system demokrasi dalam menentukan rezim kekuasaan di Indonesia, dengan mudah dapat dikoyak-koyak dan diintervensi oleh kekuasaan. Singkatnya, kekuasaan itu manipulatif, licik, trik dan penuh tipu daya. Hanya kekuasaan yang mengabaikan keberadaan pengetahuan, yang bisa diserobot oleh entitas kekuasaan yang baru. Jika pengetahuan tidak mendapat tempat dalam ranah kekuasaan, pengetahuan akan bersekutu dengan kekuatan social lain (rakyat). Jika pengetahuan meninggalkan entitas kekuasaan yang sedang berkuasa, itu pertanda entitas kekuasaan itu akan segera berakhir, dan akan diokupasi oleh entitas kekuasaan yang baru.

Perilaku kekuasaan itu mirip dengan tabiat gen. Sejenis gen egois, yang bekerja membela kepentingan dan kekuasaan pribadinya untuk dapat bertahan hidup selama mungkin dan tersebar seluas mungkin. Bertahan hidup dengan mengupayakan mesin kelestarian yang sesuai mungkin dan tersebar melalui proses persalinan generasi ke generasi. Menurut Dawkins (1989) gen memanfaatkan seluruh interaksi antar organisme untuk menlanggengkan kepentingannya. Persis dengan karakter kekuasaan yang memakai seluruh cara untuk mencapai tujuan kekuasaannya.

Baca Juga:  Tanribali Beri Perhatian Petani Gowa

Perilaku gen egois ini dapat dilihat melalui banyak kasus, bahkan pada seluruh kasus interaksi antar organisme. Dalam buku The Selfish Gene (Dawkins, 1989) setidaknya ada beberapa pola interaksi dan kontestasi untuk menjelaskan fenomena gen egois (kekuasaan monopolistic); Pertama, naluri agresivitas individu calon gen, dimana calon gen yang berada dalam satu lumbung melakukan interaksi saling mematikan, Dawkins (1989) menyebutnya sebagai tindakan agresivitas antar pemangsa dan yang dimangsa, atau dikenal dengan pendekatan evolutionarily stable strategy (ESS).

Kedua, gen egois (entitas kekuasaan) melakukan identifikasi
kelompoknya untuk menghitung tingkat derajat kekerabatan antar
individu. Dengan mengetahui derajat kekerabatan antara mereka, dan
terhadap individu lainnya, maka mereka akan tahu seberapa
‘berharga’nya individu tersebut karena porsi gen unik yang ia dan/
mereka miliki sangatlah penting untuk menentukan kapasitas gen.
Kapasitas gen dianggap sebagai penanda keberlanjutan atau
keberlangsungan kehidupan kekuasaan mereka. Pola ini sangat penting
untuk mengetahui keterkaitan antar individu yang berkerabat. Dengan
pengetahuan itu, kekuasaan akan dialirkan mengikuti berdasarkan
keterkaitan individu dan kekerabatan yang paling dekat.

Ketiga, pola pengoptimalan angka kelahiran melalui proses semacan pengaturan jumlah anak yang tepat untuk memastikan gen (entitas kekuasaan) tetap terkontrol dalam suatu populasi. Disini terdapat kalkulasi sederhana untuk menentukan batas yang sesuai jumlah anak masing-masing induk. Dengan semakin banyaknya anak, kemampuan induk untuk memastikan kelangsungan hidup anak tersebut semakin kecil yang mana juga berarti kelangsungan hidup gen yang diturunkan pada anak tersebut juga berkurang. Begitu juga apabila terlalu sedikit akan menyebabkan semakin minoritas gennya dalam lumbung gen. Pola ini diekstraksi oleh system kekuasaan manusia, melalui system pernikahan silang, antara gen para penguasa, harapannya untuk mendapatkan gen yang lebih dahsyat dan berkuasa.

Baca Juga:  Doa Nahdliyin Jeneponto untuk Agus AN

Pola keempat adalah, pertarungan antar jenis kelamin. Perebutan kekuasaan antar gen dimulai saat mereka mengidentifikasi dirinya sebagai pejantan pada satu sisi dan betina pada sisi lain. Lalu identifkasi tentang sifat kejantanan (maleness) dan kebetinaan (femaleness), kemudian dilanjutkan dengan langkah taktik-taktik umum yang mungkin terjadi antar dua individu dalam mengeksploitasi investasi pada anaknya. Gerakan penanaman investasi dimaksudkan untuk mempengaruhi kecenderungan anaknya, terhadap jantan atau betina. Strategi ini bagi manusia terasa tidak manusiawi, akan tetapi tetap berlangsung secara alamiah. Untuk spesies lain, taktik ini berlangsung lebih terbuka, misalnya mulai dari berpopulasi sebanyak mungkin oleh jantan hingga bersetia dalam pemberian makan anak sampai jangka waktu tertentu. Masing-masing taktik memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing yang bisa ditelaah secara sudut pandang gen masing-masing induk.

Pola kelima adalah simbiosisme dua spesies berbeda, pola ini oleh Dawkins disebutnya sebagai ‘You scratch my back, I’ll ride on yours’ (Kamu Garuk Punggungku, Aku Garuk Punggungmu). Pola ini dimaksudkan untuk menantang prilaku gen egois, dan diganti dengan perilaku saling altruis antar spesies. Pada pola ini, dua spesies yang berbeda memiliki strategi-strategi yang unik untuk bersimbiosis. Dengan kata lain, meskipun dua spesies yang berbeda ini bersimbiosis, tetap saja dalam proses simbiositasnya terdapat unsur kontestasi.

Baca Juga:  Pilkada Serentak 2018, PPK dan PPS Jadi Ujung Tombak Suksesnya Pemilu

Nampak sekali, perilaku gen pada lima pola di atas, persis pola pengembangan kekuasaan yang terjadi pada kekuasaan manusia. Posisi individu dalam kekuasaan itu sangat fundamental. Jika individu kekuasaan mengalami kerapuhan karena waktu atau karena melemahnya fungsi kekuasaannya, maka individu itu akan segera melakukan konsolidasi untuk mengalihkan kekuasaanya kepada individu yang terdekat dengan dirinya. Jika pilihan ini gagal, maka individu kekuasaan itu akan mengalihkan kekuasaannya kepada lapisan berikutnya, dan seterusnya. Jika langkah pengalihan kekuasaan ini gagal, individu kekuasaan itu akan melakukan kolaborasi atau simbiosisme dengan individu pemilik kekuasaan yang baru. Semua langkah ini dilakukan oleh kekuasaan, bukan sekedar menyelamatkan kekuasaan yang pernah dimiliki sebelumnya, akan tetapi ia ingin terus melanjutkan kekuasaannya dengan cara yang berbeda. Pertanyaannya, sampai batas manakah gen kekuasaan atau individu kekuasaan memiliki control terhadap kehidupan? (imf-2)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.