Pidato Ulama Getarkan Parlemen Eropa

INIPASTI.COM – Sudah lebih dari 10 tahun ketika Grand Mufti Suriah, Syaikh Ahmad Badruddin Hassoun, menggetarkan Parlemen Eropa dengan pidatonya. Tepatnya pada 15 Januari 2008, pria kelahiran Aleppo 1949 ini membuat para anggota parlemen tercengang atas ungkapannya yang penuh cinta.

Masih terbayang senyuman Sang Mufti ketika ia dipersilahkan menaiki podium yang disiapkan untuknya. Pesan-pesannya dalam pidato tersebut masih sangat dibutuhkan untuk perdamaian dunia. Apatah lagi di bulan Ramadhan ini, ketika Gaza, Palestina kembali dibombardir oleh Israel.

“Kita semua ini adalah ciptaan atau hasil kreasi Allah. Oleh karena itu, aku menghormati kalian dengan sebutan ‘Saudaraku’. Wahai saudaraku di bumi, Wahai saudaraku dalam ruh, Wahai saudaraku dalam kemanusiaan,” serunya sebagai pengantar.

Dalam Dialog Kebudayaan itu, Ahmad Badruddin Hassoun menjelaskan bahwa hanya ada satu peradaban di bumi, yaitu peradaban manusia. Sedangkan kebudayaan hanya sebatas mengisi dan memperkaya peradaban kemanusiaan.  

“Semua kita bersama-sama membangun satu peradaban yang kita namakan peradaban kemanusiaan. Oleh karena itu, kami tidak percaya dan tidak mengenal istilah benturan/perang antar peradaban. Selamanya kami tidak percaya. Maka peradaban hanya ada satu di dunia ini, sedangkan kebudayaan memang ada banyak,” jelas putra Muhammad Adeeb Hassoun itu.

Olehnya, Doktor lulusan Universitas Al-Azhar itu mempertanyakan penyebab adanya benturan peradaban. Padahal menurutnya peradaban hanya berbenturan dengan kebodohan, terorisme, dan keterbelakangan. Adapun orang yang berbudaya, kata dia, apa pun agama dan latar budayanya, pasti akan selalu bergandengan tangan untuk bersama-sama membangun Peradaban Kemanusiaan.

“Maka dari itu marilah kita meninjau kembali pemaknaan istilah Benturan Antar Peradaban. Itu sangat berbahaya, sebab peradaban tak mungkin dibangun secara terisolasi,” ujarnya

Baginya, Peradaban bukanlah milik agama tertentu. Karena menurutnya peradaban itu adalah budaya kemanusiaan yang agama dituangkan ke dalamnya untuk memberikan nilai luhur dan akhlak. “Maka tidak ada di sana peradaban Islam, peradaban Nasrani, ataupun peradaban Yahudi. Agama memberi nilai-nilai luhur dan akhlak ke dalam peradaban. Peradaban, kitalah yang membuatnya,” tegasnya.

Baca Juga:  Clinton Pilih Kaine Sebagai Calon Wakil Presiden

Sedangkan Agama, lanjutnya, adalah buatan Allah SWT. Ia kembali menegaskan bahwa seluruh umat manusia adalah satu peradaban. Peradaban lainnya adalah peradaban hewan. Sedangkan manusia, apa pun bahasanya, apa pun agamanya, adalah saudara. Setidaknya dari Nabi Adam alaihissalam. 

Mufti Besar Suriah ini menekankan bahwa seluruh Nabi diutus oleh Allah SWT dengan tujuan yang sama. Yaitu Mensucikan Allah dan memuliakan manusia. Sedangkan syariat dan hukum tentu berbeda-beda sesuai dengan zamannya. 

“Tuhan kita dan Tuhan kalian semua adalah Tuhan yang satu dan kita semua tunduk dan patuh kepada-Nya. Dari situ bisa disimpulkan bahwa tidak mungkin terjadi pertentangan antar agama. Atas dasar ini pula, tidak ada perang yang suci. Saya tidak percaya pada perang suci. Karena perang tidak mungkin disebut suci, kapan pun itu. Hanya perdamaian yang pantas disebut suci,” tukasnya.

Olehnya, ia mengajak seluruh umat untuk mengajarkan anak-anaknya bahwa yang suci adalah manusia itu sendiri. Baginya, yang suci bukanlah Ka’bah, bukan pula Masjid Al-Aqsa, bukan Tembok Ratapan, maupun gereja dan Alquds. 

“Sesungguhnya manusia adalah makhluk tersuci di dunia ini. Sehingga bagi kami, darah seorang anak kecil sama sucinya dengan seluruh tempat suci itu,” tegasnya dengan disambut tepuk tangan dari seluruh hadirin.

“Mengapa saya mengatakan demikian? Sebab Ka’bah dibangun oleh manusia, Ibrahim. Tembok Ratapan dibangun oleh orang-orang Yahudi,  Gereja Nativity dibangun oleh orang-orang Nasrani. Sedangkan manusia, siapa yang membangun/menciptakannya? Manusia diciptakan oleh Allah. Terkutuklah orang membinasakan ciptaan Allah. Terkutuklah siapa yang membinasakan manusia!,” sambungnya.

“Sesungguhnya setiap anak di Palestina, Israel, dan Iraq, yang dibunuh hari ini, Tuhan akan meminta pertanggungjawaban dari kita semua. Sebab setiap anak adalah lambang ciptaan Tuhan. Mereka diciptakan Allah di muka bumi ini. Akan tetapi kita membinasakan lambang ini tanpa ada kemampuan mengembalikan kehidupan mereka lagi,” tambahnya lagi.

Baca Juga:  Banglades Berkabung bagi Korban Serangan Kafe Dhaka

Syaikh Ahmad menegaskan pula bahwa seandainya Ka’bah, Masjidil Aqsa, Gereja Nativity, Tembok Ratapan dihancurkan, maka akan ada generasi yang akan membangunnya kembali. Tapi tak ada satupun yang bisa mengembalikan kehidupan anak-anak yang binasa dari peperangan yang terjadi. “Saya mohon kesadaran kalian, mampukah kalian jika seorang manusia terbunuh untuk menghidupkannya kembali?,” tanyanya.

“Agama dan golongan adalah urusan kalian dengan Tuhan. Sedangkan dirimu dan diriku, kita akan tinggal di muka bumi ini dengan damai. Jangan memaksaku untuk mengikuti agama kalian, dan saya pun tidak akan pernah memaksa kalian mengikuti agamaku. Karena agama itu hubungan antara kita dengan Tuhan semesta,” serunya.

“Marilah kita membangun generasi baru yang percaya bahwa Peradaban Kemanusiaan adalah hasil kerjasama umat manusia. Dan bahwa kesucian terbesar di dunia ini adalah manusia dan kemerdekaan, tentunya setelah Allah azza wa jalla,” lanjutnya.

“Dan sesungguhnya jika kita hendak memberlakukan perdamaian di muka bumi ini, maka kita harus memulainya di tanah damai, Palestina dan Israel. Kita harus mengatakan kepada mereka, sebagaimana dikatakan Paus kepada kalian, ‘daripada membangun tembok pemisah, lebih baik kita membangun Jembatan Kasih Sayang’,” ungkapnya.

Dia menjelaskan bahwa Palestina adalah tanah damai. Jika digunakan biaya membangun tembok untuk membangun desa-desa di sana, maka ia pastikan akan tercipta persaudaraan antara anak-anak Muslim, Nasrani dan Yahudi. 

Sebagai penutup, ia menyampaikan harapannya agar tercipta perdamaian sejati, tak ada lagi panen senjata, karena ia berpandangan bahwa meskipun menang, kemenangan itu sesungguhnya adalah kerugian.

“Sesungguhnya yang memenangkan perang dengan senjata akan rugi. Sebab mereka telah membunuh manusia. Sesungguhnya pemenang atau orang yang beruntung secara hakiki adalah yang berhasil memperoleh persaudaraan dari orang lain dalam kehidupan ini. Dan tanah, tidak ada kesucian di situ, sesungguhnya manusialah yang suci. Dunia dikatakan suci ketika manusia di sana dijadikan elemen paling suci,” harapnya. 

Baca Juga:  Korban Sandera Abu Sayyaf Melarikan Diri, Istri Belum Tahu

Tak lupa, anggota parlemen Suriah selama 10 tahun ini juga berpesan kepada para anggota parlemen Eropa. Ia ingin agar semua wakil umat tersebut menjadi pencetus perdamaian.

“Seharusnya kalian mewakili kita semua dalam masalah perdamaian, kebenaran dan keimanan. Dunia Islam sekarang, api peperangan menyala di banyak negeri. Dunia ini seharusnya dalam kedamaian dan selalu membawa kedamaian. Jika di suatu tempat terjadi kedzaliman, maka yang paling dzalim adalah yang mengompori manusia ke dalam pertikaian,” pintanya.

Permintaan tersebut karena dirinya memandang bahwa seluruh agama mengajarkan perdamaian. Agama hadir untuk kehidupan, bukan untuk digunakan sebagai alasan untuk membunuh.

“Nasrani tak datang kecuali membawa kedamaian. Maka jika terdapat ekstrimisme, dipastikan mereka tidak mengerti Almasih dan ajaran Nasrani. Dan Musa as tidak datang kecuali membawa kedamaian. Jadi siapa pun yang mengatakan dirinya pengikut Musa, atau Isa, atau Muslim, dan dia ingin membunuh manusia, maka katakanlah kepadanya bahwa kamu telah meninggalkan syariatmu. Sebab agama datang untuk kehidupan, maka jangan memakai agama untuk membunuh,” tutupnya. 

(Sule)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.