Politikus PDIP Sindir Perilaku Elite Relawan Ngambek Demi Jabatan

INIPASTI.CO – Politikus PDI Perjuangan (PDIP) Deddy Yevri Sitorus menilai saat ini ada segelintir elite kelompok kepentingan berkedok relawan yang sedang resah dengan bergulirnya tahapan Pemilu 2024.

Sekelompok kecil elite kelompok kepentingan berkedok relawan disebut seperti parasit-parasit kekuasaan yang ingin tetap eksis dan mendapatkan posisi politik serta akses terhadap APBN maupun BUMN.

Inline Ad

Menurut Deddy, sebagian aktivis relawan itu memang punya jiwa volunterisme yang besar dan sangat mengidolakan Presiden Joko Widodo, sebagaimana dilansir Berita Satu.

Orang-orang dan kelompok tersebut biasanya bekerja konkret untuk membantu mengagregasikan kepentingan masyarakat atau mengawal program pemerintah.

Akan tetapi, menurutnya, tidak banyak yang mau mengoreksi perilaku koruptif, parasit dan avonturisme politik kekuasaan yang dimainkan beberapa tokoh relawan tertentu.

Tokoh-tokoh elite politik ini bukan tidak mungkin pada saatnya juga akan berhadapan dengan kasus-kasus hukum atau mengalami pembalasan politik pada masa depan jika gegabah melakukan manuver politik.

“Saya berharap agar para elite relawan yang haus kekuasaan itu sadar dan mengoreksi diri. Sadarlah, tidak ada kekuasaan yang abadi. Semua ada akhirnya, kecuali ideologi,” kata Deddy, Sabtu 13 Agustus 2022

Menurut Deddy, kelompok relawan sebagai bagian dari volunterisme adalah bagian dari perkembangan demokrasi yang positif sebagaimana ditunjukkan dalam peradaban politik di barat dan terutama Amerika.

Volunterisme atau kerelawanan adalah semangat partisipasi politik yang muncul ketika adanya kepemimpinan baru dengan tawaran perubahan, adanya kesamaan kepentingan atau munculnya musuh bersama.

Hal itu bisa dilihat dari menjamurnya kelompok-kelompok relawan saat perhelatan demokrasi di negara-negara maju seperti Amerika dan Inggris.

Di Indonesia, fenomena positif hadirnya kelompok-kelompok relawan dapat dilihat saat Jokowi memenangkan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012.

Fenomena yang relatif sama terjadi di Amerika, Inggris dan Pilgub DKI Jakarta saat itu sangat elegan dan berkualitas.

“Para relawan dan organisasi relawan muncul dan bergerak ke arah yang sama tanpa komando dan mengalir dengan baik dari rumah-rumah, kantor, kampung hingga tingkat nasional. Gejalanya sama, volunterisme bangkit, massif tetapi bersifat ad hoc,” katanya.

“Begitu pemilu selesai, semua relawan kembali pada kehidupan normal dan hanya sedikit yang kemudian meneruskan naluri politiknya di jalur politik formal atau partisan, tetapi di Indonesia, sejak Pemilu 2014 hingga hari ini banyak relawan atau kelompok relawan yang akhirnya justru berubah menjadi aktor politik dan ormas permanen,” imbuhnya.

Aktor-aktor politik baru yang lahir sejak 2014 ini, sebagian besar sebelumnya aktif di partai politik dan ormas atau LSM. Ternyata, kata Deddy, mulai merasakan nikmatnya kekuasaan dan akses ekonomi yang didapatkan dengan terus menumpang di ketiak kekuasaan.

“Ada pimpinan relawan yang kemudian menempatkan saudara, teman dan anggotanya di kementerian-kementerian dan BUMN untuk mengakses jabatan, APBN maupun menikmati madu proyek-proyek BUMN.

Banyak dari mereka yang kemudian berperilaku buruk melebihi elite politik, bermodal kedekatan atau sekedar foto dan selfie dengan para pejabat dan penguasa,” urai Deddy.

Deddy mengatakan pernah ada elite relawan yang merajuk dan mengancam hingga akhirnya mendapatkan posisi wakil menteri. Saudara kandung dan kroninya, kata Deddy, padahal sudah mendapatkan berbagai jabatan di kekuasaan maupun BUMN.

“Saya tahu siapa yang sebenarnya punya massa, yang benar-benar bergerak saat pemilu dan siapa yang saat ini jadi benalu kekuasaan,” ujarnya.

Deddy menyatakan di tengah ketidakpastian calon presiden atau partai afiliasi, para elite relawan bermental parasit ini mencoba melakukan berbagai manuver-manuver politik.

“Tidak lebih dan tidak kurang, tujuannya adalah agar punya saham dalam pemerintahan berikutnya dan terus menikmati kue kekuasaan yang memabukkan itu,” kata Deddy.

Menurutnya, atas nama organisasi, mereka membawa-bawa massa yang sangat mencintai Presiden Jokowi dan bertindak seolah-olah sebagai kepanjangan tangan atau aparatur kehendak politik Presiden.

“Para anggotanya tidak pernah tahu bahwa para pentolan relawan itu hidup dan berperilaku melebihi elite politik, meskipun seringkali mereka harus keluar ongkos sendiri dalam setiap kegiatan,” tuturnya (syakh/bersat)

Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.