Puasa dan Relevansi Penguatan Ketahanan Pangan

Top Ad

Oleh: Agung SS Raharjo, S.Sos, MPA

INIPASTI.COM, OPINI — Puasa Ramadhan dalam hitungan hari, kurang dari sepekan, akan segera berakhir. Banyak hikmah dari ibadah ini yang dapat diambil pelajarannnya. Mulai dari rehabilitasi spiritual hingga pendidikan mengenai pengaturan soal pangan. Puasa merupakan aktivitas spiritual yang menghadirkan kesehatan ragawi bagi pelakunya. Yang paling ringan adalah memperbincangkan bagaimana individu belajar menahan nafsu untuk tidak berlebihan soal urusan perutnya.  

Inline Ad

Masih sering kita temui, puasa yang semestinya menjadikan tubuh kita semakin sehat justru menghadirkan kondisi sebaliknya. Rasa lapar yang sedemikian rupa, menjadikan sebagian diantara kita menjadi begitu kalap dan makan terlalu berlebih. Alih-alih menjadikan kita makin bugar pasca puasa Ramadhan yang terjadi justru kita menjadi pesakitan. Pengendalian dan pengetahuan kita akan asupan gizi yang berimbang juga tidak beranjak lebih baik. Dan kondisi harus kita akui masih banyak ditemui ditengah-tengah masyarakat.   

Kapita Problematika

Data Riset Kesehatan Dasar (2018) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan ada lonjakan penderita obesitas pada orang dewasa dari 14,8% (2013) menjadi 21,8% (2018). Begitupun juga terjadi pada pravalensi penyakit tidak menular seperti stroke, diabetes, hipertensi dan gagal ginjal. Misal untuk pravalensi strok naik dari 7% (2013) menjadi 10,9% (2018).  Pemeriksaan gula darah, menunjukkan kenaikan pravalensi diabetes melitus dari 6,9% (2013) menjadi 8,5% (2018). Memahami gambaran riset ini maka dapat kita katakan bahwa ada problem serius dari pola konsumsi sebagian penduduk negeri ini. 

Persoalan negeri ini tentang perilaku berkonsumsi dalam beberapa hal juga nampak masih bermasalah. Pertama, bahwa dalam praktik konsumsi pangan sehari-hari kebanyakan penduduk di negeri ini bisa dikatakan belum terdiversifikasi. Asupan karbohidrat terlalu dominan sehingga kurang memenuhi kebutuhan gizi lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh. Moment puasa semestinya menjadi waktu yang tepat untuk lebih memperhatikan kebutuhan asupan gizi secara lebih berimbang. Sehingga menghasilkan dampak kesehatan yang lebih maksimal dan menjadi individu yang semakin produktif. Produktivitas dan kesehatan adalah dua hal yang saling terkait satu sama lain.

Kedua, pemborosan pangan. Puasa dalam tingkat kadar spiritual tertentu semestinya membangun kepekaan sosial dan saat bersamaan menumbuhkan pengendalian diri yang lebih baik. Mengkaitkan soal pangan, dalam konteks relasi sosial, puasa menumbuhkan keshalihan sosial untuk saling berbagi. Pangan yang seringkali kita beli ternyata tanpa kita sadari acapkali berlebih untuk kita nikmati sendiri atau sebatas keluarga. Sebab tak termakan habis, dengan gampangnya kita buang begitu saja. Bak seolah menjadi sebuah tabiat yang telah terinternalisasi, tak lagi merasa berdosa melakukan sebentuk “kejahatan” atas pemborosan pangan. Begitu biasa dan berulang begitu saja.

Jaminan pangan pada tingkat individu akan sangat mudah dipenuhi dengan menguatnya kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian ketahanan pangan ditingkat masyarakat sejatinya dapat ditumbuhkan dan dikuatkan dari struktur kelompok masyarakat terkecil misal lingkungan RT dengan membangun cara dan sistemnya sendiri sesuai nilai dan budaya yang berlaku.

Kristalisasi Nilai

Satu hal yang sering terlewatkan oleh kita sebagai individu yang sedang menjalankan ketaatan perintah Tuhan adalah kristalisasi nilai. Aktivitas spiritual sebagai bagian perwujudan penghambaan harus mampu kita kristalisasi menjadi karakter diri. Puasa yang mengajarkan individu untuk tidak bersikap berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi suatu komoditas dan belajar untuk memenuhi kebutuhan sewajarnya serta sebutuhnya ternyata tidak memberi bekas.

Goresan nilai kebaikan begitu saja memudar pasca Ramadhan telah usai. Padahal puasa menjadi satu model sikap berketahanan pangan yang strategis, baik untuk individu maupun kelompok. Tentu dengan mengambil hikmah dan nilai filosofi puasa itu sendiri secara utuh.

Puasa tidak semata menjadi jalan terapi kesehatan. Namun ibadah ini juga syarat dengan citra kepedulian sosial. Semoga ibadah puasa Ramadhan menjadi jalan perbaikan bagi individu maupun kelompok terkait dengan urusan pangan dinegeri ini. Berdampak secara sistemik dan berkelanjutan bagi kesejahteraan bersama.  Untuk ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan.

//Penulis: Analis Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian

Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.