Resesi Kini di Ambang Pintu

INIPASTI.COM, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,49% pada kuartal III-2020. Dengan begitu, Indonesia resmi resesi karena realisasi pada kuartal II pun minus 5,32%.

Dilansir di laman detiknews, Resesi adalah pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut atau lebih. Ada beberapa fakta yang membuat ekonomi Indonesia resesi. berikut fakta-faktanya: Resesi Setelah 22 Tahun
Indonesia resmi resesi lagi setelah sebelumnya pernah terjadi pada tahun 1998 atau 22 tahun lalu. Indonesia resesi karena realisasi pertumbuhan ekonominya minus 3,49% di kuartal III-2020.

Inline Ad

Resesi adalah pertumbuhan ekonomi negatif dua kuartal berturut-turut atau lebih. Realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 adalah minus 5,32%

“Terakhir kita mengalami resesi pada tahun 1998/1999 saat mengalami krisis ekonomi,” kata pengamat ekonomi Piter Abdullah saat dihubungi detikcom, Jakarta, Kamis (5/11/2020).

Baca Juga:  Lima Pimpinan Baru KPK Pilihan DPR

Berdasarkan data yang dimiliki detikcom, realisasi ekonomi pada kuartal II-1998 yang pertumbuhan ekonomi nasional minus 13,34%. Sementara kuartal I-1998 realisasinya minus 4,49%, Tidak berhenti di situ, realisasi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III-1998 pun masih minus 16,00%, dan kuartal IV-1998 pun minus 18,26%.

Pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di zona negatif pada kuartal I-1999 yang realisasinya minus 6,13%. Setelah itu, ekonomi nasional mulai tumbuh positif hingga pada akhirnya kembali negatif di kuartal II-2020 dan kuartal III-2020.

Daya Beli Nyungsep

BPS mencatat konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2020 masih minus 4,04%. Hal ini menunjukkan daya beli masyarakat yang lesu di tengah Indonesia resesi.

“Konsumsi rumah tangga, pada kuartal III-2020 secara year on year memang masih terkontraksi 4,04% tapi tidak sedalam kuartal II minus 5,52%” kata Kepala BPS Suhariyanto, Kamis (5/11/2020).

Baca Juga:  Publik Makassar Smart Dukung Upaya Smart City

Suhariyanto menjelaskan ada banyak indikator yang mencerminkan pada pengeluaran rumah tangga. Mulai dari penjualan pakaian hingga bahan bakar yang mengalami penurunan.

Ekonomi Semua Daerah Minus

Rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia ini juga terlihat dari pertumbuhan seluruh daerah atau pulau di tanah air. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, seluruh daerah pertumbuhan ekonominya minus.

“Dari sisi pertumbuhan ekonomi, seluruh pulau alami kontraksi dengan kedalaman berbeda-beda,” kata Suhariyanto dalam video conference, Jakarta, Kamis (5/11/2020).

Berdasarkan catatan BPS, pertumbuhan ekonomi Jawa minus 4,00%, Sumatera minus 2,22%, Kalimantan minus 4,23%, Sulawesi minus 0,82%, Bali dan Nusa Tenggara minus 6,80%, Maluku dan Papua minus 1,83% (Syakhruddin)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.