Site icon Inipasti

Rongsokan Demokrasi pada Pilgub Sulsel

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Substansi dari politik adalah demokrasi. Demokrasi adalah bagaimana publik berpartisipasi seluas-luasnya  dalam proses politik. Penentuan pemimpin politik oleh publik secara demokratis adalah bagian terpenting dalam demokrasi. Negara yang menganut faham demokrasi, terutama calon-calon pemimpin politik harus memahami rentetan dan keterkaitan, antara: demokrasi-politik dan kepemimpin.

Pemimpin yang demokratis harus lahir dengan proses politik yang terbuka, melalui jalur politik yang jelas, dan aturan main yang lahir dari rahim demokrasi. Barangsiapa yang melewati substansi demokrasi dengan berbagai cara dan alasan tertentu, maka kekuasaan yang diraihnya tidak akan mendapat dukungan politik dari massa. Pemimpin-pemimpin yang dipilih secara sadar oleh masyarakat saja, dalam perjalanannya seringkali dicabut kembali dukungannya oleh masyarakat lantaran kinerja pemimpin yang dipilihnya tidak memuaskan. Apalagi jika ada pemimpin yang menduduki kekuasaan tapi tidak direstui oleh publik, maka niscaya ia akan kering dukungan publik.

Yang mana yang disebut sebagai proses politik yang tidak demokratis? Disebut prosesnya tidak demokratis apabila aktivitas politik yang dilakukan mengabaikan substansi dari demokrasi, yakni menyepelekan keterlibatan atau partisipasi publik yang seluas-luasnya atas peristiwa politik. Kalau ada calon pemimpin yang menggunakan ruang-ruang publik untuk mengakselerasi kepentingan politiknya, sambil berdusta kepada publik, atau menyembunyikan sesuatu kepada massa, maka itu sejatinya sebagai pemimpin yang tidak demokratis. Ciri-ciri mereka, cenderung memanfaatkan ruang-ruang publik (media massa:radio, TV, koran, medsos) untuk memanipulasi fakta, untuk mencitrakan dirinya sukses, berhasil dan jago. Pada media massa mereka sering mengeksplorasi hal-hal positif tentang dirinya, dan mereduksi hal-hal negatif yang melekat pada tubuh politiknya.

Pada kasus Pilgub Sulsel yang akan berlangsung 2018 nanti, beberapa aktor politik bakal calon gubernur Sulsel, sudah melakukan aktivitas politik yang menafikan substansi demokrasi. Ada bakal calon yang berusaha meraup semua partai politik, dan ingin melawan kotak kosong. Ada calon lain yang secara rutin memberikan pernyataan politik, atau mengklaim sesuatu tanpa takut berdosa kepada publik, karena klaim politik yang tidak pernah mengandung kebenaran. Klaim dimaksudkan hanya untuk meyakinkan publik bahwa dirinya mendapat dukungan dari berbaga pihak. Kemudian dengan entengnya mengganti calon wakilnya, dengan alasan hasil survei yang tidak signifikan, lalu menggantikan dengan calon wakil yang tidak memiliki kredibilitas politik sama sekali. Alasannya, atas permintaan partai.

Dalam politik, karakter dan kredibilitas adalah soal utama. Kalau calon pemimpin sudah tidak memiliki karakter dan kredibilitas, maka publik akan kehilangan kepercayaan terhadapnya. Kalau pemimpin diatur-atur oleh partai, kalau pemimpin ditentukan oleh pemilik modal, pasar dan “toke-toke”, maka pemimpin seperti ini hanya menunggu waktu untuk melego rakyatnya. Pemimpin harus punya keyakinan dan prinsip terhadap kepentingan rakyatnya, dan tidak gampang diintervensi. Karena tujuan pemimpin bukanlah kursi kekuasaan, tapi kepentingan rakyat. Kalau pemimpin sudah mengabaikan kepentingan rakyat, dan lebih tunduk pada pemilik modal, maka pemimpin seperti ini akan segera berubah wujud menjadi rongsokan politik, sebelum benar-benar akan menjadi sampah politik. Atau menurut Aristoteles, pemimpin sejenis ini dikenal sebagai “binatang politik.” Ini adalah bencana politik, karena menjadi rongsokan demokrasi.

Exit mobile version