Site icon Inipasti

Sejarah, Makna dan Pesan Penting di Balik Kurban

Ustaz Yusuf Mansur dan Kurban. (Foto: YouTube)

INIPASTI.COM – Perjuangan Nabi Ibrahim as, Siti Hajar, dan putranya, Nabi Ismail as dalam melaksanakan perintah Allah SWT, meskipun harus menjalani ujian yang sangat berat, selalu dikupas setiap kali hari raya Idul Adha tiba.

Sayangnya, dari kisah perjalanan dan perjuangan Nabi Ibrahim as dan keluarganya serta perilaku dan keimanan yang ada pada tiga tokoh utama; Nabi Ibrahim as, Siti Hajar dan Ismail, jarang digambarkan.

“Memotong hewan itu puncak, itu harus dilihat peristiwa sebelumnya di Palestina. Bagaimana Nabi Ibrahim mengalami kebuntuan dalam berdakwah di sana? Lalu Allah SWT menyuruh beliau hijrah ke negeri Mekkah, sampai di sana ternyata menemui tantangan yang lebih berat lagi, keluarga Nabi Ibrahim as adalah contoh teladan bagi umat Islam,” ujar Ustaz Yusuf Mansur pimpinan Pesantren Darul Quran Wisatahati Bulak Santri Tangerang.

Lama Nabi Ibrahim tak dikaruniai anak keturunan. Kegelisahannya ini disampaikan melalui untaian doa yang sangat Mustajab yang kemudian dipakai oleh pasangan yang sudah menikah tapi belum dikaruniai anak: Robbi habli minash-sholihin (Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepada kami seorang anak yang termasuk orang-orang yang soleh) seperti disebut dalam Alquran surah Ash-Shaffaat (37) ayat 100.

Lewat rahim Siti Hajar doa Nabi Ibrahim as dikabulkan. Di beberapa ayat, Allah menyebut Ismail bukan sembarang anak, tapi dia adalah nabi dan rasul (QS Maryam : 54), seseorang yang diridhai (QS Maryam : 55), seseorang yang sabar (QS Al Anbiya : 85), seseorang yang ditinggikan derajatnya (QS Al An’am : 86). Ismail juga disebut termasuk manusia yang paling baik (QS Shad : 48) dan termasuk yang diamanahi Ka’bah (QS Al Baqarah : 125). Bahkan sejak sebelum lahirnya, Allah sudah memuji Ismail dengan kalimat bighuulaamin haliim, anak yang sabar (QS Ash-Shaffaat : 101).

Bisa kita bayangkan, setelah lama penantiannya menunggu lahirnya Ismail ini, dan setelah dibawa Hijrah Ke Mekkah, tiba-tiba Allah SWT memerintahkan Ibrahim as untuk menyembelih anaknya. Bayangkan saja anak kita, jangankan dia berprestasi, sering dimuat di koran, cerdas lagi taat, anak yang biasa-biasa saja pun tidak akan ada orangtua yang rela mengorbankannya.

Dalam surah Ash-Shaffaat ayat 102 hingga 111, diceritakan lengkap kisah ini. Ismail sangat Ridho disembelih sang ayah jika hal itu merupakan perintah Allah, dan ayahnya sama sekali tidak memberitahu sang Ibu mengenai hal ini. Ibrahim hanya meminta istrinya memakaikan baju yang bagus untuk anaknya.

Hampir setiap perjalanan kehidupan keluarga Ibrahim menjadi sejarah, termasuk episode ini. Lahirnya jamarat (tempat melempar jumrah) adalah salah satu sejarah yang diabadikan oleh Allah menjadi manasikul hajj. Tidak jauh dari tempat melempar jumrah, ada satu tempat, di situlah Nabi Ibrahim melakukan prosesi kurban Ismail. Kalau jemaah haji menuju Mina dari Muzdalifah, di sebelah kiri atas akan terlihat sebuah Tugu, di situ Nabiyullah Ibrahim mengorbankan Ismail. Mereka berdua berjalan dari Mekkah menuju tugu itu melewati jamaraat.

Tertinggallah kita yang bertanya apa gerangan yang sudah kita lakukan untuk Allah? Apa yang sudah kita kurbankan dari diri kita, dari keluarga kita untuk agama Allah? Jangankan jiwa raga, harta pun kita pelit membagi untuk Allah.

Malah kalau mau lebih tajam lagi bertanya pada diri kita, jangankan jiwa raga dan harta, waktu untuk beribadah kepada Allah SWT pun seperti sayang kita lakukan. Sepertinya lebih berharga mencari dunia daripada bersusah payah shalat berjamaah, shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah, sedekah atau berdakwah. Kecintaan kita kepada Allah SWT layak kita pertanyakan.

Tapi jarang yang memetik filosofi sampai ke sana ya? Itu sudah hilang dari diri kita. Sekarang yang ditekankan kepada nilai kurbannya, bukan pada nilai-nilai kekeluargaannya. Yang ada adalah kurban tanpa makna dan ustad-ustad hanya mendorong melakukan kurban yang terbaik nanti akan mendapatkan pahala. Tapi, filosofinya tidak dapat.

Perjuangan Siti Hajar filosofinya dalam sekali. Kemudian mereka beribadah dalam sukacita, mereka beribadah dalam suasana hati yang senang, sehingga mereka maqoma ibrohima mushalla, Dia bangun makam Ibrahim dengan Ismail. Jadi, Idul Adha juga bermakna perbaikan dengan keluarga.

Ketangguhan keluarga memang harus dibangun. Memberi makna bagaimana seorang ayah lebih mencintai anaknya dan sebaliknya, seorang anak lebih mencintai orangtuanya.

Berarti berkurban bukan sekadar dalam arti fisik, seperti pemotongan hewan. Prinsip memotong hewan itu puncak, itu harus dilihat peristiwa sebelumnya di Palestina, bagaimana Nabi Ibrahim mengalami kebuntuan dalam berdakwah di sana? Lalu Allah menyuruh Hijrah Ke Negeri Mekkah. Sampai di sana ternyata menemui tantangan yang lebih berat lagi.

Momen berkurban itu sesungguhnya bukan hanya bagaimana kita berwelas asih kepada yang tidak punya makanan. Intinya, malah kalau kita lihat dari sejarah tafsir, malah tidak ada tujuan Allah untuk berkurban sekadar menyembelih hewan saja. Misalnya perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk potong kambing, ternyata tidak begitu. Tapi Nabi Ibrahim disuruh sama Allah melewati proses ujian sehingga kemudian lahir filosofi itu ke arah Tuhan. (Majalah Wisatahati Edisi Agustus 2018)

Exit mobile version