Sekolah Pascasarjana Unhas Diskusi Buku Tragedi Sejarah Sains Indonesia

INIPASTI.COM, Universitas Hasanuddin melalui Sekolah Pascasarjana (SPS) dan Fakultas Kedokteran (FK) menggelar Diskusi Buku “Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Maut Romusha 1944-1945”. Kegiatan berlangsung secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting, pada Sabtu (21/11), mulai pukul 16.00 Wita.

Buku ini mengisahkan tentang Prof. dr. Achmad Mochtar, seorang ilmuwan, yang tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menjabat Direktur Lembaga Eijkman. Ia gugur dipancung pada tanggal 3 Juli 1945 oleh tentara pendudukan Jepang di Indonesia.

Inline Ad

Mochtar dituduh melakukan sabotase terhadap Jepang, dengan cara mencemari vaksin tifus-kolera-disentri dengan bakteri dan racun tetanus. Ratusan Romusha meninggal dunia akibat vaksin tersebut. Sebelum dipancung, Mochtar mengalami penyiksaan selama lebih sepuluh bulan, dipaksa mengakui perbuatannya.

Prof. Sangkot Marzuki, penulis buku yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan bahwa selain menyiksa Achmad Mochtar, tentara pendudukan Jepang juga menyiksa ilmuwan-ilmuwan Lembaga Eijkman lainnya, untuk memperoleh pengakuan bahwa mereka mencemari vaksin yang menyebabkan ratusan Romusha meninggal di Klender, Jakarta Timur.

Baca Juga:  Pertama Kali, Umi Jadi Tuan Rumah Pimnas 2017

Namun Jepang tidak memperoleh satupun pengakuan. Untuk menghentikan siksaan terhadap para ilmuwan dan sejawatnya, Achmad Mochtar akhirnya memberi pernyataan sesuai keinginan Jepang, sehingga ia dihukum pancung.

“Penjelasan peristiwa Mochtar melibatkan kompeksitas teknis vaksinasi terhadap tetanus. Aspek teknis ini muncul sebagai kelemahan paling mencolok dalam mendeteksi kebohongan yang dibangun untuk menyembunyikan kebenaran. Penjabaran kisah sejarah ini sebelumnya melewatkan aspek teknis yang krusial tersebut dalam menganalisa niat, tindakan, dan tipu daya Jepang,” papar Prof. Sangkot.

Peristiwa ini dilihat sebagai benturan antara kebenaran ilmiah dan kebenaran politik, ketika sedang terjadi pendudukan Jepang di Indonesia.

Hal senada juga dikemukakan oleh penulis lainnya, Kevin Baird. Ia berbicara tentang bagaimana hubungan etis antara kebenaran ilmiah dan perlakuan terhadap sains dalam konteks situasi yang berbeda.

Sementara itu, Prof. Irawan Yusuf, Ph.D (Guru Besar Fakultas Kedokteran Unhas) membedah peristiwa yang dialami Achmad Mochtar dalam perspektif interseksi antara sains, politik, dan bisnis.

Baca Juga:  Pasca UNM Berduka, Kaprodi S2 Fisika Prof Muris Cei Meninggal Dunia.

“Sains bisa tumbuh dan berkembang karena ambisi, baik ambisi personal maupun ambisi negara. Hal itu terjadi karena sains sudah dicampur diadukkan dengan politik. Dalam perkembangan dewasa ini, sains, politik dan bisnis menjadikan sesuatu menjadi kompleks,” kata Irawan.

Narasumber lainnya adalah Uswatul Chabibah, yang mengulas proses terjemahan dan editing yang dilakukan terhadap buku yang aslinya berjudul “War Crimes in Japan Occupied Indonesia” yang diterbitkan pada tahun 2015. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia terbit tahun 2020, oleh Penerbit Komunitas Bambu pada bulan September.

Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, mengatakan bahwa Diskusi Buku ini merupakan hal yang penting, untuk selalu memposisikan ilmu pengetahuan pada tempat yang strategis dalam pengambilan kebijakan.

“Saintific based policy atau kebijakan berbasis sains seharusnya menjadi agenda strategis yang diambil oleh setiap pemimpin dan pengambil kebijakan,” kata Prof. Jamal.

Baca Juga:  Akuntabilitas Lembaga Amil Zakat, Begini Hasil Penelitiannya

Diskusi Buku yang dipandu oleh Sudirman Natsir, Ph.D ini menghadirkan 100 peserta, berakhir pada pukul 16.00 Wita.(*/ir)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.