Sepi Pengunjung, Bandara terancam Karena Utang?

Top Ad

Oleh : Asma Sulistiawati (Mahasiswa UM Buton)

INIPASTI.COM, OPINI — Utang adalah perkara yang urgen, apalagi kita sebagai kaum muslim apabila memiliki utang maka wajib untuk membayarnya.

Inline Ad

Pengelolaan sejumlah bandara baru yang sepi penumpang menjadi salah satu penyebab bengkaknya utang BUMN.  Di antar bandara baru itu contoh yang diungkapkan Wakil Menteri (Wamen) BUMN adalah bandara baru Yogyakarta (YIA). Imbas dari bengkaknya biaya operasional bandara baru yang sepi penumpang. Kartika Wirjoatmodjo mengakatakan PT Angkasa Pura I atau AP I memiliki beban utang mencapai 35 triliun. Utang itu bahkan bisa membengkak jadi Rp 38 triliun. (Kumparan.com, 05/12/2021).

Masa Krisis

Pembangunan bandara-bandara Angkasa Pura Airports dilakukan untuk memperluas konektivitas dan meningkatkan kapasitas grafik angkutan udara di wilayah tengah dan timur Indonesia. Hal ini dilakukan guna memudahkan arus wisatawan mancanegara ke berbagai wilayah di Indonesia.

Namun untuk pembangunan infrastruktur ekonomi layaknya harus diperhatikan oleh negara. Sebab banyak pembangunan bagus cuman dampak  dari anggaran itu juga gak main-main. Alhasil bisa dilihat bahwa utang semakin bengkak dan negara belum juga melunasinya.

Sampai penguasa kudu berpikir kritis bagaimana cara untuk menutupinya. Negara harus berperan aktif ketika memikirkan bagaimana jalan keluar dari sini. Karena jika dibiarkan pihak asing yang menginvestasikan utang ini bisa mengambil alih aset untuk menjadi cara pembayarannya.

Inilah jika sistem sekuler yang diberlakukan. Masalah yang terjadi tidak akan sampai tuntas diatasi. Masa krisis bagi Indonesia jikalau hal ini terus berkelanjutan tanpa ada penanganan serius maka jelas akan sangat merugikan kita.

Apalagi dimasa pandemi ini wajar jika bandara terlihat sepi penumpang. Tanggapan dari pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono menilai pengetatan syarat penerbangan pesawat dinilai bagus untuk mencegah terjadinya gelombang ketiga Covid-19. Meski kebijakan wajib tes PCR bagi penumpang pesawat diskriminatif karena memberatkan dan menyulitkan konsumen.

Ekonomi dalam Islam

Islam dalam masalah ekonomi akan memberikan penanganan yang menyeluruh untuk masalah utang. Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman di QS. Al Baqarah : 282

Apabila melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya… Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik kecil maupun besar.

Pada era kekhalifahan Umayyah, pengaturan baitulmall sangat bersih terjadi pada masa kekuasaan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Begitu khalifah Umar II berkuasa, tanpa ragu dan pandang bulu semua harta kekayaan para pejabat dan keluarga bani Umayyah diperoleh secara tak wajar dibersihkan.

 Pada bidang pajak, Umar memotong pajak dari orang Nasrani. Tak cuma itu, ia juga menghentikan pungutan pajak dari mualaf. Khalifah menggunakan dana di baitulmal (kas negara) untuk memakmurkan dan menyejahterahkan rakyatnya.

Ragam fasilitas dan pelayanan publik dibangun dan diperbaiki. Sektor pertanian terus dikembangkan melalui perbaikan lahan dan saluran irigasi. Sumur baru terus digali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih.

Jalan dikota Damaskus dan sekitarnya dibangun dan dikembangkan. Untuk memuliakan tamu dan para musafir yang singgah, khalifah membuat penginapan. Sarana ibadah seperti masjid diperbanyak dan diperindah. Masyarakat sakit ditangani dengan diberikan pengobatan gratis. Khalifah Umar II bahkan memperbaiki pelayanan di dinas pos, sehingga aktivitas korespondensi berlangsung lancar. Hingga rakyatnya benar-benar hidup sejahtera.

Pada masa Abbasiyah, kepala perpajakan merupakan orang yang terpenting dalam pemerintahan. Pada era dinasti ini, kemajuan tercapainya oada masa kepemimpinN khalifah Harun Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun. Kemajuan dalam sektor perekonomian, perdagangan dan pertanian itu membuat Baghdad menjelma menjadi pusat perdagangan terbesar dan teramai di dunia saat itu. Dengan kepastian hukum serta keamanan yang terjamin, berbondong-bondong para saudagar dari berbagai penjuru dunia bertransaksi melakukan pertukaran barang dan uang. Negara pun mendapatkan pemasukan yang begitu besar dari aktivitas perekonomian dan perdagangan itu serta tentunya dari pungutan pajak.

Pemasukan kas negara yang begitu besar itu tak dikorup sang khalifah. Harun Ar-Rasyid menggunakan dana itu untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyatnya. Baghdad pun menjadi kota dengan bangunan yang indah dan megah. Gedung tinggi berdiri, sarana peribadatan tersebar, hingga sarana pendidikan menjamur dan fasilitas kesehatan gratis tetap diberikan bahkan dengan pelayanan yang prima.

Masalah ekonomi daulahpun menjadi terjamin karena baik penguasa maupun pejabat didalamnya sigap dalam menerimah amanah sesuai kedudukannya. Rakyat menjadi prioritas apalagi ketika utang seakan mencekik. Harap penguasa bisa mengambil contoh diatas bahwa tidak semua penyelesaian itu mengandalkan akal manusia. Lagi-lagi standar kita sebagai seorang kaum muslim adalah ketakwaan kita kepada Allah.

Wallahu’alam

 

 

Bottom ad

Leave a Reply