Site icon Inipasti

Singkong atau Ubi: Alternatif Sumber Karbohidrat yang Nikmat

Oleh: Agung SS Raharjo

INIPASTI.COM, ANALISIS— Mungkin akan banyak yang bilang makan singkong atau ubi itu “murahan”. Mengapa? Karena selama ini konsepsi masyarakat terhadap ketela atau ubi tak lebih dari sekedar makanan biasa saja. Makanan yang tercitrakan sebagai makanan warga kelas menengah bawah. Tidak seperti beras yang begitu rupa dibudayakan sebagai makanan pokok yang tiada “tanding dan banding” dari sisi peranannya. “Belum makan jika belum nasi” adalah cerminan bagiamana beras diperlakukan sebagai sumber karbohidrat yang tidak boleh alpa dari meja makan keluarga.
Suguhan singkong atau ubi selama ini masih banyak ditemui pada masyarakat level bawah, belum terbiasa tersedia di rumah-rumah gedongan atau kantor-kantor bertingkat. Bahkan posisinya sebagai pangan alternatif rasa rasanya belum membumi karena lebih sebagai pilihan kepepet.
Pandangan sinis terhadap singkong atau ubi sebagai menu makanan harus mulai dikikis. Perlahan namun pasti keduanya semestinya mulai ditempatkan sebagai sumber pangan alternatif pemenuhan karbohidrat. Apa maksudnya? Bahwa asupan kita terhadap karbohidrat tidak melulu harus bersumber dari beras namun perlahan mulai di saling silang posisinya dengan sumber pangan lain. Ketela atau ubi adalah salah satunya.
Perjalanan budaya pangan masyarakat negeri ini memang sudah terlanjur menempatkan beras sebagai “primadona” asupan karbohidrat. Saking begitu gemarnya memakan beras, sudah terpola secara kuat bahwa belum dianggap makan jika belum kenyang dengan nasi. Berhenti pada titik ini, sesungguhnya telah muncul faktor ketergantungan yang besar terhadap beras sedangkan persoalan akses dan ketersediaan masih saja ditemui. Beras masih terlalu “sayang” untuk dikurangi (porsi) karena logika beras ini tidak menyandarkan pada konsumsi semata namun telah merasuki ranah “psikologis dan nilai”. Bahkan beras pun dalam tinjauan sisi kebijakan ekonomi perberasan menjadi satu faktor pemicu utama persoalan kemiskinan ketika pasokan dan harganya terganggu.
Dalam satu nilai tertentu masyarakat yang telah mencukupi pemenuhan kebutuhan akan beras dianggap memiliki kemampuan ekonomi yang cukup baik untuk urusan pangannya, tentu dalam hal ini tidak kemudian secara serta merta dikatakan kaya atau tidak miskin. Namun tidak demikian adanya terhadap pandangan pada sebagian masyarakat yang masih mengkonsumsi sagu atau singkong/ubi. Dirasakan ada perbedaan tingkat “ekonomi” yang menyebabkan orang terkategori miskin atau tidak lantaran mendasarkan pada asupan pangan pokoknya. Politik perberasan Orde Baru telah melahirkan sebuah nilai kesejahteraan tersendiri. Dan ukurannya pun begitu sederhana tentang apa yang dimakan sebagai pangan pokok. Kondisi ini benar-benar dapat kita temui dilingkungan kita, dimana beras adalah bagian dari simbol dari proses pembangunan dan target kesejahteraan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika pada masa Orde Baru, Pak Suharto men-seragamkan asupan pangan pokok sumber karbohidrat dimanapun masyarakat berada yakni berupa beras. Dari ujung Sumatera hingga sisi terjauh Papua semua harus makan beras (nasi). Yang awalnya sagu sebagai sumber karbohidrat pokok harus diganti beras, begitu juga dengan yang mengkonsumsi jagung atau ketela.
Nikmat dan Bergizi
Namun demikian pandangan seperti ini sudah tidak relevan atau sebenarnya sejak awal memang tidak relevan. Siapa bilang makan singkong atau ubi itu tidak keren? Menurut hemat penulis keduanya sebagai alternatif pangan pokok sumber karbohidrat, juga mempunyai nilai yang prestisius. Barangkali masih banyak diantara kita yang kurang memperoleh informasi yang lengkap terutama pada kandungan gizi dari ketela atau ubi ini. Misal singkong, selain memberikan asupan karbohidrat, juga mengandung serat, vitamin C dan A, magnesium, kalium, serat dan tentunya masih banyak ragam gizi lain yang memberikan manfaat dan khasiat bagi tubuh kita. Sedang untuk ubi sendiri, juga tak kalah nilai gizinya. Ubi sendiri mengandung karbohodrat, kalsium, zat besi, karoten, antosianin, vitamin (A,C,D,E,B1,B2) dan lainnya. Bahkan diyakini dapat membantu mengurangi resiko kanker jika memakannya dengan takaran yang sesuai dan cocok bagi penderita diabet untuk kontrol gula darah. Nah jika melihat keuntungan yang bisa didapat bukankah ketela atau ubi itu memang makanan keren dan tentu tidak kalah cita rasanya. Kreasikan olahan ketela atau ubi dengan berbagai bahan yang lain sehingga ditemui satu menu yang memenuhi kebutuhan gizi kita. Dan telah muncul beragam menu menu kekinian yang berbahan dasar singkong atau ubi. Kenyang tak harus nasi kan?. Sekiranya diketahui ketela sendiri telah menjadi pangan pokok bagi sebagian penduduk dunia terutama di darah tropis seperti Amerika Selatan, Afrika dan Asia.
Kedepan bangsa ini harus terus melahirkan inovasi baru terutama di bidang pangan. Secara khusus teknologi pangan tersebut juga harus terus dikembangkan untuk singkong atau ubi. Bangsa ini sebenarnya tidak akan masuk dalam kategori rawan pangan jika sudah memiliki altenatif pangan pokok yang lain. Dan preferensi baru tentan pangan ini harus terus dikuatkan. Sejak dahulu sebenarnya asupan pangan pokok kita tak semata pada beras, coba tengok di NTT, Papua, Maluku atau daerah timur lain. Dan semua ini merupakan khasanah keragaman pangan di negeri yang tak ternilai. Memahami realitas ini pemerintah terus menggalakan program diversifikasi pangan dengan tujuan menggiatkan kembali pangan lokal. Menghadirkan produk pangan alternatif sumber karbohidrat adalah tujuan yang harus dicapai.

Penulis:
Analis Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian

Exit mobile version