Soal Leadership, Pengamat Kebijakan Fiskal: Anies Masih di Bawah Ahok

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Mantan Gubernur DKI Jakarta Ahok
Top Ad

INIPASTI.COM, JAKARTA – Munculnya Kasus Lem Aibon DKI Jakarta, membuat beberapa pihak kembali membandingkan antara Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Perbandingan antara kedua sosok tersebut juga datang dari Pengamat Kebijakan Fiskal, Yustinus Prastowo.

Menurutnya, adanya masalah ini adalah merupakan masalah leadership (kepemimpinan). Dia pun menilai bahwa Anies Baswedan masih di bawah Ahok yang juga pernah memimpin DKI Jakarta.

Meski demikian, dia mengaku tetap mengapresiasi beberapa capaian oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies Baswedan. Apresiasinya itu terkhusus pada hal kebijakan Pajak Bumi Bangunan (PBB). Dia pun menyampaikan harapannya terkait anggaran yang dipersoalkan ini.

Baca Juga:  INDEM: Ombudsman Mestinya Usut PT IBU

“Saya berharap, untuk konteks anggaran juga seperti itu. Problemnya apa? Sekdanya sama, semua birokrasinya sama, tetapi kenapa output-nya berbeda? Jadi bagi saya ini problem leadership. Kalau saya katakan -memang harus diakui- kapasitas leadership Pak Anies masih di bawah Pak Ahok. Itu objektif menurut saya, untuk konteks anggaran,” tegasnya pada ILC ‘Anies Tak Putus Dirundung Tuduhan’ yang tayang di tvOne pada Selasa, 12 November 2019 kemarin.

Dia pun mengungkapkan bahwa masalah anggaran, bukanlah semata-mata problem akuntansi. Melainkan, kata dia, juga merupakan program konstitusi. Tapi dia kembali menegaskan bahwa Anies Baswedan masih mempunyai waktu 3 tahun untuk membuktikan bahwa dirinya lebih baik dari Ahok.

Baca Juga:  Nadiem Makarim, Merintis Gojek Menuju Kabinet Jilid II

Sebelumnya, Yustinus Prastowo juga menganggap bahwa hal ini muncul karena publik rindu dengan kepemimpinan Ahok yang dianggapnya sebagai Benchmark (patokan). Hal itu dinilainya sebab sosok Ahok menampilkan leadership yang berbeda.

“Saat ini kita punya benchmark yang sulit dibantah yaitu Ahok. Ini menjadi isu nasional, menjadi perhatian publik, ya karena ada SARA/Sindrom Amat Rindu Ahok menurut saya. Kenapa? Karena Ahok itu menunjukkan leadership yang memang berbeda. Dia membongkar kebiasaan-kebiasaan yang selama ini sudah menjadi pattern (pola) dalam penyusunan anggaran,” katanya.

(Sule)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.