Tambora: Pompeii dari Timur

image/hilman
Top Ad

INIPASTI.COM– Tambora hingga hari ini masih menyimpan banyak misteri yang belum tersingkap. Mungkin saja karena asal muasal nama Tambora yang berasal dari kata “lakambore” bahasa Mbojo (Dompu/Bima) yang berarti mau kemana. Juga ditafsirkan berasal dari kata “ta” (mengajak) dan “mbora” (menghilang). Tambora secara etimologis berarti mengajak untuk menghilang. Gunung Tambora adalah stratovolcano aktif (gunung api kerucut) yang terletak di pulau Sumbawa. Secara administratif, Tambora masuk di wilayah dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi Selatan sampai Barat Laut), dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi Selatan hingga Barat Laut, dan kaki hingga puncak sisi Timur hingga Utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tambora membentuk semenanjungnya sendiri di Pulau Sumbawa yang disebut semenanjung Sanggar. Di sisi utaranya adalah laut Flores dan di sebelah Selatan terdapat Teluk Saleh dengan panjang 86 km dan lebar 36 km. Di mulut Teluk ini terdapat pulau kecil-menawan yang melegenda yang disebut Puau Mojo’, tempat beberapa pesohor dan selebriti dunia pernah menghabiskan akhir pekannya.

Struktur Sosial

Di tepian Teluk Saleh yang tenang dan indah ini penulis menghabiskan waktu beberapa hari, mengamati interaksi dan struktur sosial masyarakat yang sangat dinamis karena interaksi yang mulai intensif dengan dunia luar. Masyarakat di sekitar teluk Saleh terbilang unik. Mereka umumnya adalah pendatang dari wilayah terdekat seperti Dompu, Bima, Sumbawa dan juga Lombok. Sebagian lainnya adalah transmigran dari Pulau Bali dan Pulau Jawa. Di wilayah perbatasan antara Bima dan Dompu, pemerintah mencanangkan program nasional yang disebut dengan Kota Terpadu Mandiri. Kota baru yang didesain untuk menghidupkan perekonomian lokal yang diisi oleh migran dari berbagai daerah di tanah air. Mencari penduduk asli (indigeneous community) dengan tradisi sosial budaya yang terawat di tempat ini tidak akan kita temukan.

Suku bangsa yang paling dekat wilayahnya dari Teluk Saleh adalah suku Donggo. Mereka pertama kali datang ke tempat ini sekitar akhir tahun 1970-an ketika perusahaan yang bergerak di perkebunan jambu mete membuka lahan ribuan hektar di sepanjang teluk Saleh. Suku Donggo yang asalnya tinggal di daerah pegunungan di wilayah Dompu dan Kempo dengan tradisi bertani dengan sistem berpindah (shifting cultivation), begitu berat menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan di wilayah pesisir. Karenanya, meski di wilayah ini sangat kaya dengan ikan laut, tidak ada sama sekali restoran yang menjual makanan laut. Mereka lebih gemar memakan daging ayam dan telur, sebagaimana tradisi leluhurnya di wilayah pegunungan.

Cuaca kontras

Penulis merasakan cuaca yang kontras di daerah ini. Di siang hari cuaca bisa mencapai 35 derajat celcius dan dimalam hari sedingin 18 derajat celcius. Di tepian Teluk dengan pemandangan pantai dan padang savanah sejauh mata memandang, penulis dengan bebas memandangi gunung Tambora yang pernah merubah sejarah dunia dengan letusannya yang maha dahsyat.

Tambora yang meletus pada tanggal 5 April 1815 diklaim terbesar dalam sejarah selama rentang waktu 2000 tahun. Dentumannya terdengar sampai Makassar, Jawa, Ternate dan Sumatera (2.600 km). Di puncaknya tersisa kaldera seluas 6-7 km dengan kedalaman 600-700 meter. Pada saat letusan kedua 10 April 1815, abunya melayang sejauh 1.300 km dan kegelapan terlihat di puncaknya dari jarak 600 km selama 2 hari. Tinggi letusannya diperkirakan mencapai lapisan stratosfir (43 kilometer) dengan daya ledak mencapai angka 7 Volcanic Explosive Index (VEI). Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan gunung Krakatau tahun 1883.

Baca Juga:  Beberapa Pertanyaan Krusial Terhadap Kudeta Turki

Eskavasi Tambora

Tidak banyak diketahui tentang jejak letusan di tahun 1815. Studi-studi vulkanik, arkeologi dan geologi belum banyak dilakukan dalam mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi saat letusan, terutama mengenai peradaban Tambora yang hilang. Eksavasi di wilayah yang diperkirakan pemukiman atau pusat peradaban Kerajaan Tambora belum dilakukan secara mendalam baik oleh ilmuwan Indonesia maupun dari mancanegara. Salah satu buku yang sering dijadikan rujukan tentang tragedi Tambora “The Year Without a Summer: The History and Legacy of the 1815 Eruption of Mount Tambora”, ditulis oleh William K. Klingaman dan Nicholas P. Klingaman (2013). Belum banyak tulisan berbahasa Indonesia yang mengungkap tragedi Tambora yang mengubur penduduk dan perkampungannya yang diperkirakan hanya berjarak sekitar 25 kilometer dari lerengnya.

Peradaban yang tertimbun

Adalah Professor Heraldur Sigurdsson, Vulkanologis dari universitas Rhode Island Amerika yang melakukan penggalian pertama tahun 2004. Eskavasi yang dilakukannya sedikit menyingkap peradaban Tambora yang tertimbun abu vulkanik lebih dari 200 tahun. Mereka menemukan artifak yang mayoritas berbahan perunggu, peralatan yang pada masa itu juga digunakan di Kamboja dan Vietnam. Artifak itu memberi petunjuk bahwa peradaban Tambora telah berkembang dan masyarakatnya adalah pedagang yang cukup berada yang telah menjalin hubungan dagang intensif dengan negara lainnya di Asia Tenggara.

Pulau Sumbawa jauh sebelumnya memang terkenal dengan hasil hutan yang melimpah seperti madu, kayu sepang (caesalpinia sappan) dan cendana untuk dupa dan pengobatan. Salah satu dagangan andalannya adalah kuda sumbawa yang sangat terkenal karena kekuatan dan kelincahannya. Produk-produk ini bernilai tinggi di pasaran internasional saat itu. Eskavasi Sigurdsson menemukan dua orang dewasa penghuni sebuah rumah di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik. Ia menegaskan bahwa peradaban Tambora yang hilang telah ditemukan dan masih terkubur utuh di bawah timbunan pasir dan mengalami karbonisasi. Karena cirinya yang serupa, Sigurdsson kemudian merujuknya dengan menyebut Tambora yang terkubur sebagai Pompeii dari Timur.

Dunia Tanpa Musim Panas

Dari buku “The Year Without a Summer” terungkap bahwa dampak letusan Tambora telah merubah sejarah dunia dari berbagai perspektif. Di Tahun 1816 Amerika Utara, Eropa Barat dan wilayah Asia bagian Selatan mengalami gagal panen. Akibatnya terjadi bencana kelaparan lintas benua yang telah membunuh sekitar 200 ribu penduduk Eropa. Kelangkaan bahan makanan telah menyebabkan kerusuhan di Perancis, Inggris, Switzerland, Hongaria, Irlandia dan Italia. Bencana kelaparan ini diklaim sebagai terburuk di abad ke-19. Sejarawan John D Post menyebutnya sebagai krisis subsisten terbesar terakhir di dunia Barat (the last great subsistence crisis in the Western world).

Erupsi Tambora menghamburkan ratusan juta ton debu vulkanik, 55 juta ton sulfur dioksida sampai di ketinggian sekitar 24 km ke lapisan stratosfir. Sulfur dioksida kemudian menyatu dengan gas hidroksida (hydroxide) dalam bentuk cairan yang lebih kental dengan hidrogen peroksida (peroxide) yang menghasilkan ratusan juta ton asam sulfur. Asam ini kemudian membentuk tetesan kecil yang dua ratus kali lebih halus dari rambut manusia. Tetesan ini tertahan di udara dalam bentuk awan aerosol, menyelimuti seluruh lapisan bumi yang pada akhirnya menghalangi sinar matahari, mendinginkan suhu bumi sampai setengah derajat.

Baca Juga:  Majdah Agus dan Korban Bencana Bima

Aerosol ini tertahan di stratosfir selama dua tahun dan secara dramatis merubah pola iklim dunia. Terjadilah apa yang dikenal sebagai tahun tanpa musim panas (The Year Without a Summer). Mendinginnya suhu bumi berdampak langsung pada pertumbuhan tanaman pangan dan agrikultura. Tanaman tidak mendapatkan matahari yang cukup. Ia terbungkus embun beku selama beberapa bulan. Dedaunan pun rontok, layu kemudian mati. Gagal panen pun tidak terhindarkan yang menyebabkan ratusan ribu nyawa terenggut karena kehabisan stok pangan.

Inspirasi kebudayaan

Di bulan Juni 1816 hujan yang turun terus-menerus memaksa Mary Shelley, Percy Bysshe Shelley, Lord Byron dan John William Polidori dan teman-temannya untuk tinggal di dalam Villa Diodati yang berhadapan dengan Danau Geneva selama liburan di Swiss. Mereka kemudian sepakat untuk berlomba siapa yang mampu menuliskan cerita paling menyeramkan. Shelley kemudian menulis Frankenstein atau Promotheus Modern, Lord Byron menulis “A Fragment”, yang kemudian oleh Polidori digunakan sebagai inspirasi untuk menulis “The Vampyre” – versi awal dari “Dracula”. Selain itu, Lord Byron juga terinspirasi menulis puisi berjudul “Darkness”; ketika semua burung sedang bertengger di siang hari, dan lilin pun dinyalakan layaknya di tengah malam gelap gulita.

Dengan maksud menyaksikan pesona Tambora dari dekat, penulis mengunjungi Taman Nasional Gunung Tambora, yang diresmikan oleh Presiden Jokowi pada tanggal 11 April 2015, bertepatan dengan peringatan 200 tahun letusan besar Gunung Tambora. Kawasan konservasi ini memiliki berbagai keanekaragaman flora dan fauna. Vegetasi yang tumbuh di taman ini terdiri dari 106 jenis pohon, 18 jenis epifit, 6 jenis herba, 39 jenis liana dan 49 jenis perdu. Kawasan ini adalah habitat berbagai satwa yaitu rusa timor, biawak, kadal, ular sanca serta kera abu dan aves. Di kawasan Taman nasional Kawindato’i, penulis dan beberapa orang teman menikmati hijaunya hutan hujan yang didominasi oleh tanaman walikukun, kelanggo, pulai, linggua dan lainnya. Beberapa pengunjung lainnya bergegas menuju air terjun yang suara gemuruhnya terdengar dari tempat yang cukup jauh. Air terjun yang sangat indah dengan air pegunungan yang sejuk dan bening mengalir tiada henti dari aliran sungai Oi’ Marai (air yang berlari).

Menurut Andi, penjaga Taman Nasional yang bertugas hari itu, terdapat sekitar 17 air terjun di sungai Oi’ Marai mulai dari lereng pegunungan sampai ke hilir sungai menuju Laut Flores. Satu diantara air terjun itu belum terjamah sama sekali. Menurut Andi, juru kunci Gunung Tambora belum mengizinkan untuk dieksplorasi. Air terjun yang paling banyak dikunjungi adalah air terjun bidadari. Dengan tinggi sekitar 40 meter, air terjun ini terbilang cukup dekat dari gerbang Taman nasional. Dibutuhkan sekitar 30 menit jalan kaki menelusuri tebing terjal yang sempit untuk sampai di lokasi.

Area Perburuhan Illegal

Dalam perjalanan menelusuri tepian Sungai, penulis berpapasan dengan dua bocah berumur sekitar 16 dan 17 tahun. Perawakannya kecil tapi ototnya padat berisi. Mereka adalah Bintang dan Langit, dua bersaudara yang bekerja sebagai pemandu dan porter bagi pengunjung yang berminat mendaki sampai puncak Tambora. Dengan bangga Bintang memperkenalkan diri dan adiknya dan menawarkan jasa sebagai pemandu sekaligus porter jika berminat melakukan pendakian. Mereka menawarkan upah dua ratus ribu rupiah dengan kesanggupan membawa barang bawaan 10 kg. Karena tidak bermaksud melakukan pendakian, kami pun ngobrol dengan Bintang dan adiknya tentang kehidupan di sekitar Taman nasional. Awan sangat bangga bercerita tentang pekerjaan ayahnya sebagai seorang pemburu. Bocah berbadan tegap itu berceritera bagaimana cara ayahnya berburu rusa di puncak gunung hanya bermodalkan dua ekor anjing dan jaring. Bintang dan Langit sering menemani ayahnya berburu dan mereka biasanya menginap di dalam hutan, di sebuah gubuk yang sengaja dibangun sebagai tempat peristirahatan.

Baca Juga:  Drama Politik Para Elite

Bintang dengan penuh keluguan bercerita tentang jumlah rusa yang mereka tangkap. Pernah suatu waktu beberapa bulan yang lalu, ayahnya menangkap 32 ekor rusa. Rusa tangkapan disembelih di atas gunung dan dagingnya dipikul bergantian oleh beberapa orang teman berburu ayahnya. Dagingnya kemudian dijual oleh pedagang yang khusus datang dari Bima dengan harga yang lebih mahal dari daging sapi. Menurut Bintang, ayahnya adalah pemburu yang hebat. Dari hasil buruannya, ayahnya kini telah membeli sekitar 6 hektare lahan kebun di sekitar rumahnya. Selain rusa, ayahnya juga sering menangkap sapi liar. Tetapi menurut Langit, ayahnya tidak terlalu suka daging sapi liar karenanya rasanya tidak seenak daging rusa.

Destinasi Wisata

Taman nasional yang sangat kaya dengan keanekaragaman flora dan fauna ini tentu saja dalam bahaya besar. Perburuhan liar satwa yang dilindungi tidak terkendali dan kegiatan ilegal tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurut Andi penjaga Taman Nasional, instansinya tahu tentang kegiatan perburuhan ilegal ini. Mereka tidak dapat berbuat banyak dengan alasan personil terbatas dengan jangkauan wilayah yang sangat besar. Mereka juga paham kalau masyarakat di sekitar Taman Nasional menjadikan berburu sebagai mata pencaharian.

Sayang sekali, pesona Tambora yang melegenda belum dimaksimalkan sebagai salah satu destinasi wisata (ecotourism) yang dapat menunjang perekonomian lokal. Di samping fasilitas dan infrastruktur penunjang belum tersedia, informasi tentang eksotisme Tambora juga belum banyak gaungnya baik di level nasional maupun internasional. Diperlukan kerjasama multipihak agar wilayah ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi laboratorium bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Studi-studi seperti geologi, biologi, arkeologi, antropologi, sosiologi dan vulkanologi dapat menjadikan tempat ini sebagai laboratoriumnya. Kajian lintasdisiplin sangat diperlukan agar perlahan tersingkap misteri Tambora yang belum terungkap selama lebih dari dua ratus tahun.

Doropeti, Juli 2018

Sawedi Muhammad: Sosiolog Universitas Hasanuddin

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.