Tiga Bulan New Normal, Riset: Kesehatan Kini Mulai Menuju Batas Kapasitas

INIPASTI.COM, JAKARTA—Tiga bulan pasca adopsi new normal, kasus Covid-19 Indonesia terus melonjak dan telah menembus 200 ribu kasus. Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), melihat tanda-tanda bahwa sistem kesehatan kini mulai menuju batas kapasitas-nya.

Hingga 5 September, angka case fatality rate (CFR) mencapai 4,2 persen, atau 7.940 kematian. Di saat yang sama, kasus positif yang membutuhkan perawatan mencapai 24,3 persen, atau 46.324 pasien.

Inline Ad

“Angka-angka ini menunjukkan pola akselerasi yang mencemaskan, seiring kasus positif harian yang juga terus menanjak. Angka kematian harian pada masa PSBB rata-rata 26 kasus (6 April-5 Juni), kemudian melonjak pasca PSBB menjadi 49 kasus (6 Juni-5 Juli), terus meningkat 73 kasus (6 Juli-5 Agustus), dan kini menembus 80 kasus (6 Agustus-5 September),” kata Nuri Ikawati, dalam diskusi hasil riset #IDEASTalk yang bertajuk ‘New Normal dan Emergency Brake Policy’ di Jakarta, Jum’at (11/09/2020).

Nuri menambahkan sebagai negara ke-4 dengan populasi terbesar di dunia, pandemi Covid-19 yang tak terkendali akan mengancam jutaan nyawa anak negeri, sekaligus menciptakan ketidakpastian regional dan bahkan global.

“Terkini dilaporkan sedikitnya 59 negara telah melarang warga Indonesia masuk ke negaranya terkait tingginya kasus Covid-19 di Indonesia, antara lain Hungaria, Brunei, Australia, Jepang, Afrika Selatan dan Malaysia. Keengganan Indonesia mengunci diri pada awal pandemi harus dibayar mahal yaitu dikunci oleh dunia!,” ucapnya.
IDEAS menilai, dengan standar global di kisaran 3 persen, angka CFR Indonesia yang berada diatas 4 persen harus dibaca sebagai tanda batas kapasitas sistem kesehatan. Tingkat kematian tertinggi ditemui di Jawa Tengah (7,2 persen), Jawa Timur (7,1 persen) dan Bengkulu (6,9 persen).

Baca Juga:  Rusia Lepas 800 Singa dan Macan Cegah Warga Berkeliaran?

“Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah episentrum wabah selain DKI Jakarta, dengan kasus aktif yang tinggi. Bengkulu menjadi kasus mengkhawatirkan karena dengan keterisian tempat tidur di RS (bed occupancy ratio/BOR) yang rendah, hanya 14,5 persen, namun memiliki CFR yang tinggi,” ungkap Nuri.

Untuk menilai kapasitas sistem kesehatan daerah, IDEAS mengkonstruksi indeks kapasitas RS Rujukan Covid-19 Daerah melalui dua variabel, yaitu jumlah tenaga kesehatan (nakes) dan keterisian tempat tidur (BOR). Terdapat korelasi antara indeks kapasitas RS dengan tingkat kesembuhan pasien. Provinsi dengan indeks kapasitas RS yang tinggi cenderung memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi, begitupun sebaliknya.

Hasil simulasi IDEAS menunjukkan tidak ada provinsi yang memiliki indeks kapasitas RS yang tinggi. Provinsi dengan indeks kapasitas RS tertinggi termasuk kategori sedang yaitu Kepulauan Bangka Belitung (0,32), Kepulauan Riau (0,29), Kalimantan Utara (0,28), dan DI Yogyakarta (0,27). Sementara provinsi dengan skor indeks terendah adalah Gorontalo (0,101), Papua (0,09), Sumatera Utara (0,08) dan Banten (0,07).

Baca Juga:  Mengapa Teori Konspirasi 5G Coronavirus secara Fisik Tidak Mungkin, Ini Penjelasannya

“Terlihat bahwa provinsi dengan skor indeks kapasitas RS yang rendah memiliki peluang lebih besar untuk gagal dalam mengendalikan tingkat kematian, seperti Banten dan Sumatera Utara. Sebaliknya, provinsi dengan indeks kapasitas RS yang lebih tinggi cenderung lebih mampu mengendalikan tingkat kematian,” tutur Nuri.

Dari temuan IDEAS Per 8 September 2020, jumlah kasus yang diperiksa baru di kisaran 1,4 juta, hanya 5.291 per 1 juta penduduk atau 0,53 persen dari total penduduk, salah satu yang terendah di dunia. Pemeriksaan inipun sangat tidak merata dimana setengahnya terkonsentrasi di DKI Jakarta yang penduduk-nya hanya 4 persen dari populasi nasional.

“Dengan baru 0,53 persen penduduk yang diperiksa, maka kita berada dalam kabut data: tidak ada basis data yang kuat yang memandu kebijakan. Pemetaan lokasi dan risiko penularan, pelacakan terhadap kontak erat dan isolasi suspek, tidak akan berjalan efektif,”ujar Nuri.

Dengan kapasitas pemeriksaan rendah dan temuan kasus positif (positivity rate) tinggi, maka diduga kuat banyak kasus yang tidak terdeteksi, dan sangat berpotensi menjadi penyebar virus. Jika tidak ada kebijakan yang tepat kondisi ini menjadi tidak berbeda dengan herd immunity.

Baca Juga:  Terkonfirmasi, 19 Positif Corona di Indonesia

“Dalam tiga bulan terakhir terlihat kecenderungan yang mengkhawatirkan dimana positivity rate secara konsisten terus meningkat dari kisaran 11,7 persen pada awal Juli menjadi kini di kisaran 13,7 persen pada awal September. Sedangkan standar positivity rate dari WHO di kisaran 5 persen, maka pengendalian transmisi Covid-19 dapat dikatakan mengkhawatirkan dan menunjukkan tanda-tanda semakin tidak terkendali,”tutup Nuri.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.