Site icon Inipasti

Tuhan memang bukan Orang Arab

Penulis : Muhammad Zaiyani

INIPASTI.COM, OPINI — Statement KASAD Jenderal Dudung Abdurachman : “Kalau saya berdoa setelah shalat, doa saya simple saja, Ya Tuhan, pakai Bahasa Indonesia saja karena Tuhan kita bukan orang arab. Saya pakai Bahasa Indonesia, Ya Tuhan Ya Allah SWT saya ingin membantu orang, saya ingin menolong orang”, dalam acara Podcast Close the Door-nya Deddy Corbuzier mendapat respon beragam dari berbagai kalangan. Premis yang biasa-biasa saja namun cerdas tersebut dalam diskusi ringan dengan Deddy dan juga dalam ruang siar yang kecil, selanjutnya dipenggal menjadi “Tuhan bukan Orang Arab” dibesar-besarkan oleh segelintir orang dengan logika yang SALAH, untuk mempengaruhi/ menggiring opini orang-orang awwam, untuk sepakat dengan mereka bahwa statement tersebut keliru dan menistakan agama, untuk menyudutkan Pa Dudung.

Shamsi Ali seorang Imam di Islamic Center New York (dalam akun twitter @ShamsiAli2) : Bapak Jenderal, berdoa pakai bahasa apa saja tdk masalah. Tapi tdk perlu Tuhan dikaitkan dengan etnis/ bangsa. Statemen Jenderal Keliru: 1) Tuhan memang pastinya bukan orang. Karena bukan orang maka 2) Tuhan tidk dibatasi oleh kebangsaan/ etnis/ ras. Baiknya tuntaskan KKB di Papua.

Adi Hidayat dalam kanal YouTube-nya : “Anda tadi mengutip Tuhan itu bukan orang Arab, itu pernyataan, kita susul dengan pertanyaan lantas orang mana? Bisa terjawab ga? Kalau itu melahirkan kebingungan dan sulit mencari jawaban maka pernyataan yang dibangun itu rapuh” .

Bahar Smith dalam kanal YouTube-nya : “Tuhan itu tidak serupa, tidak sama dengan makhluk ciptaannya. Kalau ente bilang Allah itu orang, ente tidak usah main-main bahasa, mau bilang Allah orang Arab atau bahasanya orang atau bukan orang, disitu ada kata orang. Sama seperti ana mau bilang, ana ga mau ngobrol sama ente pake Bahasa Sunda seumpama, sebab ana punya aba Orang Sulawesi, contohnya seperti itu. Itukan berarti ana menyamakan ente dengan ana punya aba. Berarti sama sama orang kan? Sy tidak mau berdoa dengan Bahasa Arab karena Tuhan bukan orang Arab, berarti kan menyamakan dengan mahluk”. Bahar Smith kemudian melanjutkan ceramahnya dengan menghina, mengolok-olok, dan menghujat Pa Dudung.

“Ada persoalan serius dalam kemampuan berlogika para panutan ummat Islam di Indonesia”, kata Ade Armando dalam kanal Youtube-nya. Ya Memang perlu logika yang cerdas untuk memahami pernyataan Pa Dudung, setidaknya mengerti apa itu silogisme. Silogisme mengajarkan kita untuk berpikir dengan tertib dan jelas. Silogisme menyediakan kerangka berpikir untuk membedakan argumen yang sahih dan yang tidak sahih. Silogisme merupakan cara menarik kesimpulan secara deduktif, yakni dari premis-premis umum (mayor) dan khusus (minor). Silogisme juga disebut sebagai penyimpulan tidak langsung karena konklusi diambil dari dua permasalahan yang dihubungkan dengan cara tertentu.

Silogisme “Tuhan bukan orang Arab” adalah silogisme kategorik, yaitu silogisme yang premis-premis dan kesimpulannya berupa keputusan kategoris. Silogisme ini merupakan kesimpulan dari pernyataan khusus dan pernyataan umum, di mana pernyataan khusus menjadi subjek kesimpulan, dan pernyataan umum merupakan predikat kesimpulannya. Perhatikan contoh sederhana ini:

Pernyataan Utama : Binatang berkuku satu bukan hewan kurban

Pernyataan Khusus : Kuda berkuku satu

Kesimpulan : Kuda bukan hewan kurban

 

Pernyataan Utama : Semua begal tidak disenangi

Pernyataan Khusus : Sebagian gang motor melakukan begal

Kesimpulan : Sebagian gang motor tidak disenangi

Jika pernyataan Pa Dudung kita masukkan dalam kerangka berpikir yang benar, maka akan dapat disimpulkan bahwa pernyataan ini adalah benar. Berikut ini polanya :

 

Pernyataan Utama : Tuhan bukan manusia

Pernyataan Khusus : Orang Arab adalah manusia

Kesimpulan : Tuhan bukan Orang Arab

Sedemikian sederhananya statement dan cara memahami pernyataan Pa Dudung diatas, menyebabkan Shamsi Ali, Bahar Smith, Adi Hidayat, Mustofa Nahrawardaya, Gus Wafi, dll, sesungguhnya sangat kesulitan untuk merangkai kata-kata atau mencari silogisme lain untuk mendebat dan mematahkan statement tersebut, sehingga yang terjadi adalah hanya menyudutkan personal Pa Dudung saja. Dalam logical fallacy, hal semacam ini disebut Ad-Hominem.

Dalam KBBI online kata “bukan” (adv) mengandung arti : berlainan dengan sebenarnya; sebenarnta tidak (dipakai untuk menyangkal). Dengan demikian bahwa pernyataan “Tuhan itu bukan Orang Arab”  adalah sangat jelas Pa Dudung tidak sedang menyematkan sifat manusia pada Tuhan, tepapi justru sebaliknya, menyangkali/ membantah bahwa Tuhan adalah manusia atau orang, dengan kata “bukan”. Kata Arab dibelakang kata Orang juga bukan menyatakan kebencian kepada orang Arab (seperti yang dikatakan Bahar Smith), melainkan keterangan yang berkaitan dengan statement Pa Dudung sebelumnya bahwa, “kalau saya berdoa setelah shalat, saya pakai Bahasa Indonesia” (bukan Bahasa Arab).

Bahwa Pa Dudung memilih berdoa (diluar Shalat) menggunakan Bahasa Indonesia adalah pilihan beliau (prerogatif), dan dibenarkan oleh syariah. Setidaknya ada 2 fatwa yang membenarkan berdoa menggunakan bahasa selain Arab, dari Komite Fatwa Arab Saudi dan Fatwa Syekh Abdul Karim Al-Hudhair).

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Exit mobile version