INIPASTI.COM – Maggauka lalu bertepuk tangan tiga kali berturut-turut, dan tampak sang abdi mendekat sambil membungkuk-bungkuk memegang lutut, lalu duduk bersila dengan takzimnya.
“Suro, berangkat sekarang juga memanggil semua anggota adat. Katakan agar mereka segera menghadap ke istana atas perintahku. Jangan lupa sampaikan bahwa Gelarang sudah lama menunggu!”
“Hamba, tuanku” Suro berdatang sembah kemudian berlalu dari tampatnya. Tinggal Maggauka dan Gelarang sekarang duduk berdua sambil memperbincangkan terus paristiwa Datu Jarewe itu.
Beberapa lama kemudian, seluruh anggota adat sudah hadir di balairung, dan Maggauka mulai membuka kerapatan.
“Saudara-saudara anggota adat sekalian yang terhormat. Aku mengundang saudara karena ada berita yang sangat menusuk jantung memerahkan daun telinga dan memanas-mendidihkan hati. Yaitu perbuatan Data Jarewe di Makassar, di Gowa tanah seberang”.
Maggauka lalu menceritakan dari awal sampai akhir kajadian-kejadian di Makassar yang mengancam kedaulatannya yang merupakan pusaka turunatemurun.
“Pengumuman kekuasaan di tangan Datu Jarewe yang disebarkan di Makassar itu adalah pengkhianatan yang keji. Aku rasa pasti orang-orang Belanda yang berdiri di belakang pengkhianatan ini. Tanpa mengandalkan kekuatan kompeni, kukira Datu Jarewe tidak akan selancang itu. Sekarang apa bicara saudara-saudara sekalian. Aku minta agar dipertimbangkan bersama penyelesaian masalahnya” kata Maggauka sambil memandang anggota adat satu persatu. Kerapatan menjadi sepi, tak ada suara yang keluar, semua memeras otak berpikir.
“Tuanku Maggauka, sesudah hamba berpikir menimbangn-nimbang, rasanya tak layak tiada patut Datu Jarewe berbuat serupa itu. Mencium kaki orang-orang Belanda di Makassar untuk mendapatkan kekuasaan yang tak wajar, merupakan suatu perbuatan yang hina-dina. Perbuatan itu berarti penjualan tanah pusaka kepada kompeni. Mengalihkan kekuasaan dari tangan tuanku ke tangannya tanpa hak sedikit pun, tak boleh kita biarkan begitu saja. Kita harus mencegahnya, walaupun menempuh cara apapun. Tapi karena pengkhianatan itu tak berdiri sendiri, maka hamba rasa kita harus mencari jalan yang setepat-tepatnya. Hamba sependapat dengan tuanku bahwa Datu Jarewe mengandalkan kekuatan lain yang berada di belakangnya”.
Bersambung…










