INIPASTI.COM – Dengan tak terasa air mata Maipa Deapati melumeri pipi pauh-dilayang. Perasaannya nampak menguasai seluruh jiwa raganya, sehingga tak mampu meneruskan kata-hati ulasan jantungnya. Di balik itu terkenang pula ayah-bunda yang akan ditinggalkannya.
“Adindaku sayang…, aku tak ragu setengah hati pada cinta yang telah berpadu. Tak ada kuatir sedikit pun akan kelumeran cinta, kepupusan kasih mesra. Tidak, dindaku sayang. Aku bijak melihat, arif menyelidiki dan merasakan detak-detak jantung yang senantiasa beriramakan nyanyian kasih sayang semata. Itu tidak mungkin dipersoalkan lagi, sudah dibuktikan oleh paduan kasih agung kita berdua. Jika aku mengajak, itu karena adat bagi kita. Berunding bermufakat, seia-sekata, adalah pusaka turun-temurun dalam hidup yang beradab. Dan untuk kerelaan dinda, aku mengucap terima kasih. Apalagi segala keterangan ikhlas suci dari sanubari yang murni. Jika kata sudah sepakat, baiklah kita bersiap-siap sekarang juga, agar besok dapat berangkat tak tartunda lagi. Lebih cepat kita berangkat, akan lebih cepat pula terwujud tugas kewajiban kita”.
“Baiklah junjunganku. Sebentar dinda akan berkemas-kemas”.
“Ya, aku pun akan pergi mempersiapkan bahtera kenaikan kita yang akan digunakan menyeberang ke Makassar, negeri baru bagimu itu”.
Data Museng lalu pamit mengurus bahtera kenaikannya.
Keesokan harinya, ketika fajar sedang menyingsing di ufuk timur, Maipa Deapati menuju istana mengunjungi permaisuri bunda kandungnya dan ayahandanya, Maggauka Datu Taliwang.
“Bunda…, nanda akan pergi meninggalkanmu. Relakan segala asuhan ibu pada ananda. Kupergi ini bukan karena kasih sayang sudah lenyap, bukan karena jemu pada tanah tumpah-darahku. Tidak, sekali-kali tidak. Kepergianku karena perintah ayahanda Maggauka tak dapat dielakkan, tak dapat ditolak, harus diikuti sabda perintahnya sebagai kepala seluruh anak negeri”.
Maipa Deapati lalu merangkul bundanya, sambil menangis tersedu-sedu.
“Anakku, buah hati sayang”. Permaisuri membelai-belai rambut puf teri si birang-tulang, dengan airmata jatuh satu-satu di atas rambut panjang menghitam ikal, kemudian sambungnya lagi.
“Rangkaian hatiku telah putus karena kepergianmu. Hilang sudah cahaya semarak rumah-gedang istana ini. Dikau zamrud permata keindahan penghuni istana. Engkau pergi, gelaplah ruangan ini, tak bercahaya lagi. Keuntungan orang di Makassar mendapatkan kau sebagai bintang temarang di tengah malam. Menjadikan bunda di Sumbawa malang kesialan, laksana dalam kamar gelap tak berlentera. Hilang cahaya, tinggal gelap semata. Oh, anakku…, kami di Sumbawa kehilangan mustika hati dan hayati”.
Bersambung…
Baca juga:Datu Museng dan Maipa Deapati (59)










