INIPASTI.COM – Dalam menggantang-gantang asap itu, suro Daeng Jarre sudah melewati Karebosi. Langkahnya nampak semakin cepat, dan kini sedang mendekati kampung Beru. Bahkan tak terasa kampung Maloku sudah dilaluinya pula. Kini kampung Galesong tak jauh lagi di depan. Itu berarti rumah Datu Museng yang menjadi tujuannya, sudah dekat. Semangatnya menjadi lebih besar lagi hingga mempengaruhi ayunan langkahnya yang kian panjang. Rasanya ia ingin cepat-cepat tiba ke tempat tujuan untuk menyampaikan perintah tuannya. Tak lama kemudian rumah Datu Museng tampaklah, dan ia semakin memacu langkahnya hingga menyerupai orang yang sedang berlari-lari kecil. Nafasnya sudah memburu, seperti anjing kelelahan. Dadanya naik-turun tak beraturan lagi. Ketika mendekati pekarangan rumah panglima perang Sumbawa itu, ia sudah bertambah payah. Sebelum masuk pakarangan, suro itu terpaksa berhenti. Ia berpegang pada jaun pintu pekarangan dan berusaha mangatur nafas yang sengal-sengal. Letak bidak (simpulan kain) yang melilit di batas perutnya pada tubuh yang setengah terbuka, tak sempurna lagi letaknya. Sedang peluhnya mengucur membasahi sarung dan Celana barocik (celana pendek yang panjangnya sebatas lutut).
Setelah nafas teratur lagi, lidah dijilatkan ke bibir. tangan menghapus keringat di dahi yang terus menetes ke pipi dan dagu sehingga turut melumeri kumis melintang yang seperti tanduk kerbau itu. Matanya yang nyalang, memandang tajam sekali ke halaman istana Datu Museng.
Setelah sempurna simpulan bidak, ia mulai melangkah perlahan memasuki pekarangan. Langkah diatur sedemikian rupa sehingga sopan dan santun tampaknya. Rasa gugup dilempar jauh-jauh, dan ia kini tiba di dekat tangga.
Sebelum kaki menjejak anak tangga pertama, bismillahirrahmanirrahim diucapkan perlahan, dengan harapan, tak akan ada aral yang melintang yang menghambat maksud dicita. Ia kemudian mulai menapaki tangga, dan Sesaat kemudian sudah berdiri di ambang pintu.
Joa (pengawal) yang berdiri di depan pintu rumah, menghadang jalannya. Terjadilah sedikit tanya-jawab, lalu joa masuk ruangan rumah gedang, menyampaikan kedatangan suro Daeng Jarre kepada Karaeng (gelar kebangsawanan) Data Museng.
Tak lama kemudian, joa muncul dan mempersilahkan Daeng Jarre ma-masuki rumah. Pesuruh kepercayaan Tumalompoa itu melangkah masuk sambil membungkuk merendahkan diri. Ia memegang lututnya dan berjalan selangkah demi selangkah, menuju Datu Museng yang sedang duduk bercengkerama dengan isteri kesayangannya.
Suro yang patuh itu mendekat dengan berjingkat-jingkat, seakan takut mengganggu tuan-rumah. Ketika melihat suro itu duduk agak jauh, Datu Museng menegur sambil menepuk-nepuk tilam permadani di sampingnya.
“Suro…, dekat-dekatlah di sini !” sapanya.
Bersambung…










