INIPASTI.Com, MAKASSAR – Rapat Koordinasi (Rakornis) Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian Direktorat Jenederal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) RI berlangsung selama dua hari di Hotel Sahid Makassar (7-8/12/2016), dibuka oleh Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Dr Ir Nasrullah, M.Sc.
Hadir Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel, Ir H Abd Aziz, Z , kepala Dinas Peternakan kabupaten dan kota se Sulsel dan Sulbar, serta koordinator inseminator kabupaten dan kota se Sulsel dan Sulbar.
Ketua Panitia Pelaksana, Ir Ahdan Hamid yang juga Kepala Sub Direktorat Pakan Dirjen PKH, melaporkan, dalam rapat koordinasi UPSU SIWAB diikuti seluruh kepala dinas peternakan dan kesehatan hewan se Sulsel dan Sulbar, serta koordinator inseminator kabupaten kota se Sulsel dan Sulbar. Juga diundang tim ahli dari Fakultas Peternakan Unhas, diantaranya Dekan Fakultas Peternakan, Prof Dr Ir Sudirman Aco, Prof Dr Ir Hery Sonjaya dan Prof Dr Ir Tobang Batusamma.
Direktur Pakan Dr Ir Nasrullah, M.Sc yang juga sekaligus menjadi penangungjawab UPSUS SIWAB untuk wilayah Sulsel dan Sulbar, dalam sambutannya mengatakan, program UPSUS SIWAB ini moment yang sangat efektif sekaligus menjadi tantangan bagi kita semua didalam menyukseskan program ini.
“UPSUS SIWAB sudah harga mati sekaligus harga diri bagi Sulsel dan Sulbar. Sehingga program ini harus jalan dan hasilnya harus lebih baik dari sebelumnya,”tandas alumni Fakultas Peternakan Unhas.
Nasrullah, mengatakan, Kementerian Pertanian Direktorat Jenederal Petenakan dan Kesehatan Hewan telah menetapkan target masing-masing provinsi di Indonesia dan Sulsel sendiri ditargetkan sapi hasil IB (inseminasi buatan) atau kawin suntik di Sulsel 345 ribu ekor lebih dan Sulbar 19 ribu ekor dalam setiap tahunnya.
Oleh karena itu didalam Rakornis UPSUS SIWAB seluruh kabupaten dan kot di dua provinsi dapat melaporkan kesanggupan masing-masing daerah, berapa target akseptor yang bisa dicapai. “Validasi data yang disampaikan masing-masing wilayah betul-betul datanya akurat berdasarkan data dilapangan,”tandasnya.
Program UPSUS SIWAB termasuk langkah baru di Kementerian Pertanian dan ini harus kita apresiasi bersama sekaligus untuk didukung. UPSUS SIWAB dianggap langkah yang paling efektif didalam upaya meningkatkan produksi sapi, baik itu sapi potong, sapi perah dan kerbau. Diketahui bahwa kebutuhan pangan hewani kecenderungannya dari waktu ke waktu terus meningkat.
Terkait dengan target sapi IB yang ingin dicapai di dua provinsi Sulsel dan Sulbar maka diundang seluruh stakeholder yang ada dikabupaten dan kota se Sulsel dan Sulbar dalam hal ini para kepala dinas bersama tenaga inseminatornya untuk mendiskusikannya tentang upaya-upaya teknis yang harus dilakukan bersama.
Tujuan dari Rakornis UPSUS SIWAB sebenarnya untuk menyamakan persepsi, termasuk dalam kegiatan verifikasi maupun dalam validasi data. Juga akan menyampaikan bagaimana sistem pelaporannya dan ini harus disepakati sebaai bentuk komitmen bersama dalam mendukung UPSUS SIWAB.
Termasuk di dalam rakornis ini juga untuk mengklarifikasi berapa dana akseptor yang dibutuhkan tiap kabupaten. Kemungkinan akan dibagi berdasarkan rayon. Tiap rayon bisa mewakili 6 dinas.
Nasrullah juga berharap saat melakukan negosiasi di kementerian melaporkan yang sebenanrnya kemampuan akseptor IB masing-masing daerah. Nasrullah berharap data di daerah betul-betul sesuai dengan yang dilaporkan. Target akseptor IB adalah sapi potong, sapi perah dan kerbau yang semi intensif serta akseptor pendukung.
Terkait dengan data, Nasrullah juga meminta kepada daerah untuk tidak menyembunyikan potensi masing – masing kabupaten maupun kota. “Jangan ragu menyampaikan data yang benar,”harapnya seraya mengatakan Sulsel dan Jatim secara nasional adalah lmbung ternak sapi potong dan sapi perah dan secara nasional jika kedua provinsi ini digabung makan bisa memenuhi 60 persen kebutuhan sapi/daging secara nasional.
Dalam Rakornis juga dilakukan TOT sistem pelaporan bagi tenaga inseminator daerah.Bagaimana kesungguhana dalam melaporkan kegiatan IB dan berapa jumlah kebuntingan dilapangan. Juga mendata kelahiran. Penanggungjawab insiminator provinsi diharapkan dapat dilaporkan perrharinya dimulai desember 2016 dan ini akan dimonitor terus.
Selama ini laporan hasil IB di Sulsel masih belum optimal, olehnya itu Direktur Pakan meminta pelaporannya diperhatikan. Laporan kabupaten kota harus dengan angka yang realistis.
Sementara itu Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel, Ir H Abd Aziz, Z, mengatakan, program UPSUS SIWAB ini harus kita respon untuk mencapai target akseptor IB. UPSUS SIWAB di Sulsel sebenarnya sudah dilaksanakan, dan hasilnya per desember sudah mencapai 25.432 ekor sapi hasil IB.
Kadis Peternakan mengharapkan untuk mendukung target akseptor IB di Sulsel harus didukung oleh tenaga inseminator yang ada. Di Sulsel minimal tenaga inseminator dibutuhkan minmal 1000 tenaga inseminator. Sekarang ini baru tersedia 432 inseminator berarti masih butuh inseminator 568 orang. Selain itu sarana pendukung lainnya, seperti kendaraan roda dua dan kontainer gendongan.(nasrullah)










