Perlu waktu sebelum Kanselir Jerman Angela Merkel muncul ke depan kamera. Ketika dia muncul, Merkel berbicara dengan nada menenteramkan dan terukur seperti biasa. Dia turut merasakan duka setiap orang, dia menghibur pemirsa, seperti yang dilakukan Clinton 17 tahun lalu, setelah peristiwa Columbine. Dan, Merkel berikrar bahwa pemerintah akan “berbuat apa saja untuk melindungi kebebasan dan keamanan rakyat Jerman”.
Tidak terlalu membangkitkan semangat, tapi apa lagi yang dapat dia katakan? Undang-undang pencegahan memerlukan pola: siapa yang kira-kira akan melakukan apa, di mana dan mengapa? Seorang penyendiri, seperti Mohamed Lahouaiej-Bouhlel di Nice, yang membunuh 84 dengan senjata tak lebih dari sekadar sebuah truk, hanya meninggalkan jejak yang baru bisa dilacak setelah kejadian. Dengan demikian, seorang pekerja lepas tidak bisa ditangkap sebelum beraksi, terutama ketika dia secerdik dan seteliti Breivik dan Sonboly. Boleh saja mereka gila, tapi mereka tidak bodoh.
Apakah kita akan mnjaga setiap warung McDonald? Atau menggeledah barang bawaan jutaan penumpang kereta api? Mungkin kita akan melakukannya, tapi berapa biaya yang harus dibayar? Kita turut berduka cita bersama leluarga para korban. Namun, realisme menuntut pula kewarasan. Bahkan negara polisi seperti Rusia sekalipun tidak dapat menghilangkan teror, baik yang mengatasnamakan ideologi maupun yang tidak punya keterikatan dengan organisasi apapun.
Pengawasan mau tidak mau akan diintensifkan: lebih banyak lagi kamera yang akan dipasang di tempat-tempat umum, pemantauan digital akan dilipatgandakan, batalyonan polisi akan diturunkan ke jalanan. Istrael telh hidup bertahun-tahuna di bawah ancaman teror terorganisasi di kafe-kafe dan diskotik dan bus-bus. Namun, pasukan antiteror paling berpengalaman di dunia sekalipun tidak dapat menciduk sebelumnya anak yang membawa pisau, pembunuh tunggal dengan buldozer bajakan.
Menerapkan kembali isi novel 1984 di negara demokrasi liberal harganya terlalu mahal untuk ditukar dengan keamanan total.










