Oleh: Dr. Abdul Haris Sambu Daeng Matasa (Dosen Fakultas Pertanian Unismuh Makassar)
INIPASTI.COM, Di bawah langit bulan November, kita kembali diingatkan akan makna perjuangan — tentang arti setia pada janji, pada tanah yang kita pijak, pada leluhur yang menitipkan kehormatan bangsa ini.
Dalam denyut waktu yang tak pernah berhenti, hadir Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2018 tentang Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) — bukan sekadar teks hukum, tetapi sebuah ikrar kebersamaan. Sebuah wadah tempat berjumpanya putra-putri Nusantara yang masih menyimpan bara kepedulian akan warisan nilai-nilai leluhur dan semangat perjuangan para pendiri negeri.
Di sanalah kita merawat yang luhur — hubungan kita kepada Sang Pencipta dan kepada sesama manusia.
Kita belajar untuk menghormati, mengangkat, dan meneguhkan satu sama lain.
Sebab, bangsa yang besar tidak tumbuh dari persaingan menjatuhkan, melainkan dari tangan-tangan yang saling menegakkan.
Orang Bugis berkata, “Taro Ada Taro Gau” — satu kata dengan perbuatan.
Orang Makassar berpesan, “Sangkamman Bulunna na Tingkokona” — keselarasan antara ucapan dan tindakan.
Dan dalam semboyan yang menggema dalam hati para pejuang sejati, tertulis: “Kualleangi Tallangnga na Toalia” — lebih baik tenggelam daripada surut ke pantai.
Nilai-nilai ini bukan sekadar ungkapan, melainkan cahaya komitmen yang menuntun langkah kita agar tidak kehilangan arah dalam gelombang zaman.
Sebab seribu kata tanpa tindakan hanyalah gema di ruang kosong.
Dalam bahasa Konjo, leluhur kita mengingatkan, “Punna Tallangki, Sikatallangangki” — bila tenggelam, maka tenggelamlah dengan kehormatan.
Maka pada hari ini, 10 November, ketika kita mengenang para pahlawan yang telah menukar hidupnya demi kemerdekaan, marilah kita memandang ke dalam diri.
Sudahkah kita menjadi penerus yang menjaga bara itu tetap menyala?
Sudahkah kita menjadi manusia yang satu antara kata dan perbuatan, antara janji dan tindakan?
Warisan leluhur bukan sekadar pusaka di istana, bukan hanya naskah di rak sejarah.
Ia adalah napas yang kita hirup setiap hari — dalam kejujuran, dalam tanggung jawab, dalam keberanian untuk tetap tegak meski angin dunia mengguncang.
Semoga semangat itu terus hidup dalam dada kita:
semangat untuk menjadi manusia yang tahu hormat, tahu malu, tahu arah, dan tahu makna —
agar Nusantara tidak hanya dikenang karena masa lalunya,
tetapi karena generasi kini yang masih setia menjaga nuraninya.










