INIPASTI.COM – “Rangkaian hatiku telah putus karena kepergianmu. Hilang sudah cahaya semarak rumah-gedang istana ini. Dikau zamrud permata keindahan penghuni istana. Engkau pergi, gelaplah ruangan ini, tak bercahaya lagi. Keuntungan orang di Makassar mendapatkan kau sebagai bintang temarang di tengah malam. Menjadikan bunda di Sumbawa malang kesialan, laksana dalam kamar gelap tak berlentera. Hilang cahaya, tinggal gelap semata. Oh, anakku…, kami di Sumbawa kehilangan mustika hati dan hayati”.
Ketika permaisuri bertutur beriba, Maggauka mendakat, sambil berkata: “kegelapan yang kau maksud itu dinda. bukanlah kegelapan yang akan merusak dan memadamkan semangat. Tapi kegelapan itu akan mandatangkan kecerlangan bagi kita dan negara. Kepergian Maipa Deapati dan junjungannya I Datu Museng ke daratan Makassar tidaklah pergi begitu saja, tetapi untuk menjalankan tugas mulia bagi kepentingan rakyat kita. Ya, mereka pergi sebagai pahlawan tanah-air yang seharusnya kita banggakan serta junjung tinggi. Kepergian ini tak layak ditangisi, tak baik diiringi air mata. Karena tangis dan air-mata besar pengaruhnya terhadap iman dan tekad yang sudah membaja, permaisuriku”.
“Tapi…” Permaisuri tak dapat meneruskan kata-katanya.
“Tapi apa? Teruskan bicaramu”.
“Kami…, kami kaum hawa, lemah hati halus perasaan. Tak sekuat dan sekeras hati kaum lelaki”.
“Oh…, tentang itukah Permaisuri maksudkan? Aku cukup mengetahui perasaan kaum hawa, dinda. Dan karena itulah kuperkenankan permohonan anak kita Data Museng membawa isterinya ke Makassar. Bukankah keduanya tak dapat berpisah lagi? Dalam hal ini kita harus memperbanyak pengorbanan rasa dan kepentingan diri pribadi daripada kepentingan rakyat banyak. Kendati kita cinta dan sayang putri kita, tapi karena kepergiannya untuk kepentingan negara, maka_rasa sayang dan kasih itu seharusnya dialihkan kepada kasih dan Cinta terhadap negara dan rakyat. Dengan jalan itu kesedihan akan hilang dan berubah gembira, karana memiliki anak yang patuh menjalankan kewajiban. Kuatkanlah hatimu melepaskan mereka. Jangan diiringi dengan genangan air mata. Iringilah dengan doa restu agar salamat dan lekas kembali pulang menemui kita. Semoga berhasil segala daya-upaya dan perjuangannya di tanah seberang. Cuma ini yang harus kita lakukah, menguatkan hati mereka agar tabah tak terbata-bata menempuh ombak dan badai mengarungi laut menuju Makassar.
Bersambung…
Baca juga: Datu Museng dan Maipa Deapati (60)










