INIPASTI.COM, Saya memanggilnya “Om Samsu”. Nama yang saya peroleh karena ponakannya, M. Lottong Makkarakka, memanggilnya demikian. Ponakan inilah yang menikah dengan Kakak kandung saya. Makanya, saya memanggil dengan nama yang kurang lebih sama, dan itu dimulainya sekitar sepuluh atau sebelas tahun yang lalu ketika pertama kali berjumpa dan ngobrol soal sepakbola di Perumahan Baruga, Antang Makassar. Tak ada yang istimewa, selain pembicaraan tentang Ivan Kolev dan taktik 4-3-3 yang diusungkan ke Timnas Indonesia saat itu. Syamsuddin Umar memang pernah menjadi asisten pelatih Ivan Kolev dan Peter White.
Tetapi perkenalan saya dengan nama Syamsuddin Umar jauh melampaui hari pertemuan dan ngobrol sederhana itu. Di zamannya, Syamsuddin Umar adalah pemain PSM Makassar yang sangat handal. Sebagai “anak stadion” yang besar dengan menonton kesebelasan Makssar Utama, PSM Makassar dan Bima Kencana, nyaris mustahil melupakan nama-nama mentereng di kitaran penyepak kulit bundar. Najib Latandang, Saleh Bahang, Gaffar Hamzah, Anwar Ramang hingga Gosse Halim adalah nama-nama yang sangat dikenal di mulut anak stadion. B ahkan mungkin banyak yang mencoba meniru gayanya. Padahal, pada masa itu hanya dapat mengakses mereka melalui nonton langsung atau dari siaran RRI.
Saya ingat benar tatkala Syamsuddin Umar melatih PSM dan Makassar Utama. Saya ada menyaksikan kala itu. Hampir rata-rata kesebelasan di Indonesia menggunakan 3-5-2 standar untuk formasi. Ketika di Timnas 4-3-3 atau atau 4-4-2 (dasarnya bek 4) seringkali menjadi sarapan utama. Dan tatkala Persita Tangerang seingat saya sering menggunakan 4-4-2. Mungkin juga karena mengikuti arus permainan yang banyak saat itu. Era 90-an tatkala Arigo Sacchi memonopoli Eropa dengan dasar 4-4-2 efektif dan taktis dengan banyak bergerak, AC Milan menjadi kampiun besar. Tak heran, jika Sacchi bahkan menerapkan metode latihan yang bergerak secara imajinatif alias bermain tanpa bola dan hayal jika ada bola. Gaya efektif, imajinatif dan kreatif. Gaya bermain ini yang kemudian kental ke sepakbola saat ini bersama lahirnya sepakbiola total football ala Rinus Michels yang dikembangkan sangat baik oleh Johan Cruyff di Barcelona. Apalagi ada begitu banyak murid Sacchi yang menjadi pelatih saat ini, sebut saja Carlo Ancelotti. Bagitu juga Cruyff yang menghasilkan Pep Guardiola.
Tapi Syamsuddin Umar seingat saya besar dari cara berlatih ala tim Brazil. Ia pernah disekolahkan untuk berguru di Brazil soal metode kepelatihan. Brazil sepemahaman saya jauh berbeda dengan cara main Italia yang kental dengan pola dan taktik. Brazil nyaris lebih banyak bermain dengan kreatifitas individu dan menghasilkan sepakbola cantik. Mungkin dari sinilah Om Syamsu mengenal cara bermain yang cair dibanding dengan cara bermain taktik ala Italia. Makanya, di timnya selalu mencari playmaker cerdas yang dapat menyuplai bola dengan baik. Ia mengenal pola tetapi juga mengenal cara untuk bermain kreatif dan cerdas.
Makanya, saya tidak pernah tahu pola main kesukaan Om Syamsu. Bahkan, kini saya sering bermain futsal dengan Om Syamsu dan rombongannya di Makassar, ia pun tak pernah membicarakan pola kesukaannya. Ia cair dan bisa ditempatkan di mana saja. Tak heran jika jangankan sepakbola, menjadi pejabat pemerintahan di daerah pun mampu dia lakukan dengan baik. Ada banyak jabatan mentereng pemerintah daerah yang pernah ia sandang, baik sebagai defenitif maupun sebagai pejabat sementara. Dan seingat saya, tidak ada masalah yang berarti tidak diselesaikan.
Sebagai anak stadion yang pernah lihat tumbuhnya pemain-pemain bagus yang kemudian menjadi terkenal, saya yakin Om Syamsu paham itu. Dia paham jika tempaan dan pelatihan serta menjaga konsistensi yang penting. Itu yang pernah ia ucapkan tatkala ia mengagumi sosok Bambang Pamungkas yang menurutnya salah satu pemain yang sangat profesional. Ia peminum kopi yang kuat, yang paham benar bahwa kopi menawarkan kepahitan yang mustahil diusir dengan gula tanpa merusak rasa kopinya. Ramuan pas menjadi segalanya, makanya seingat saya di tim Om Syamsu banyak karakter keras, sebut saja Bahar Muharram, sekaligus juga ada karakter sabar, lembut dan pendiam Luciano Leandro. Menyatu, rasa yang membuat sepakbola akan makin terasa.
Gagal dan keberhasilan adalah dua wajah yang nyaris sama dalam sebuah kepingan logam. Ia hidup bersamaan dengan kekalahan dan kemenangan. Mungkin itulah yang membuat Om Syamsu tetap santai dan rileks dalam hidup. Hidup dihadapi dengan senyuman. Oh ya, saya menulis sembari tersenyum, karena wa dari Om Syamsu, “Kapan main bola? Lama-lama mi tidak uji coba dengan anak stadion, he…he…he…” .[]
Oleh : Zainal Arifin Mochtar
(Penulis adalah anak Makassar yang besar dan tinggal di kitaran Stadion Mattoangin Makassar, kini sebagai dosen di FH UGM Yogyakarta dan Ketua PuKAT Korupsi UGM)










