Penulis:
Yusril Yus
Mahasiswa UIN Alauddin Makassar
INIPASTI.COM, MAKASSAR- 10 November telah berlalu, hari di mana ingatan kita kembali merefresh perjuangan para pahlawan yang telah mendahului kita. Hal ini dikarenakan bentuk penghargaan jasa-jasa tokoh pahlawan nasional yang rela tubuhnya terkoyak-koyak peluru demi mengusir para penjajah yang mencoba memporak-porandakan bangsa ini.
Selain itu, hari pahlawan juga momentum untuk membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Pahlawan nasional juga ikut berperan dalam persaudaraan Suku, Adat, Ras, Agama (SARA) dan golongan. Perlu diingat, bahwasanya para pahlawan kita dalam berjuang untuk indonesia selalu tidak menyertakan SARA dalam perilakunya.
Perlu dicontoh sikap para pahlawan nasional yang saat ini rasa persatuan semakin memudar layaknya “goresan pena di atas tisu basah” karena banyak hal. Ternyata di era reformasi ada sosok pahlawan yang hampir terlewatkan oleh masyarakat Indonesia. Pribadi-pribadi yang anggun dan bersahaja seperti Gus Dur sepertinya sangat layak menyandang gelar pahlawan nasional yang berjasa dalam bidang pluralisme.
Pada dasarnya, pahlawan mempunyai aroma yang sangat berpengaruh bagi bangsa dalam meraih tujuannya. Berbekal paradigma tersebut. Masyarakat indonesia dapat mencontoh kepribadian anak bangsa yang dengan tulus membangun indonesia agar lebih. Mengapa saat ini masyarakat sepertinya terkotak-kotak dengan isu SARA?
Ada apa sebenarnya dengan bangsa indonesia? Pahlawan milenium ketiga sebagai pemersatu bangsa, disamakan dengan sosok Ahok yang kontroversial terkait pelecehan agama islam. Adanya kasus penistaan agama, telah mampu membangkitkan jiwa persatuan rakyat indonesia. Tetapi alangkah baiknya, jika jiwa persatuan digiring dalam hal meningkatkan pembangunan, bukan ke arah retaknya persatuan bangsa.
Pada hal dari Ahoklah sesungguhnya masyarakat indonesia terutama kaum muslim dapat haturkan terima kasih kepadanya. Keberadaan Ahok yang notabene sebagai calon pilihan satu-satunya di Pilkada Jakarta, harus kandas di tengah jalan. Selama ini, Ahok komitmen dalam membangun Jakarta yang tampak dari penghargaan Gusdur Award. Kurang apa sih Ahok? Kenapa umat islam yang berdemo pada 4 november enggan menyukainya? Padahal tuhan saja belum tentu berpihak pada umat islam yang melakukan aksi bela islam lho? Barangkali tuhan saja berpihak pada Ahok, karena kesucian niatnya dalam mewujudkan mimpi-mimpi Gusdur untuk Indonesia lebih baik.
Aksi bela Islam dari episode I, II dan III yang akan datang, menunjukkan bahwa Ahok menjelma pahlawan baru pemersatu umat Islam Indonesia. Apa kekurangan Ahok sebagai “super hero” umat Islam? Ahok malah dituntut agar dipenjara karena penistaan agama. Mungkin mereka yang menghakimi Ahok sebagai penistaan agama, sebenarnya mereka juga penista agama, Wallahu alam.
Faktor Ahok jugalah, yang mampu membuat Islam bergerak nuraninya untuk ikut serta turun ke jalan rapatkan barisan berdemo secara gotong-royong bersilaturrahmi ingin mengadilinya. Perilaku aksi yang seolah-olah mereka benar sendiri, dengan penafsiran sendiri, tanpa membuka mata lebar-lebar bahwa islam itu sangatlah luas dalam penafsiaran ayat-ayat suci Alquran.
Sepantasnya umat Islam mengucapkan rasa syukurnya dan banyak berterima kasih, atas momen surah Al-Maidah ayat 51 yang terlontar dari mulut Ahok. Karena itulah, umat Islam Indonesia merasa dipersatukan, tetapi dipersatukan untuk meghakimi Ahok.
Persatuan yang seperti ini perlu diminimalisir, karena mereka berteduh di negara Bhinneka Tunggal Ika. Ingatlah! Indonesia bukan dilahirkan sebagai negara Islam atau khilafah, tetapi negara pancasila.
Disinilah aneka umat Islam yang terlihat belum mampu menunjukkan rasa syukurnya dan terkesan arogan dengan akalnya sendiri-sendiri. Multi tafsir Alquran antar ulama itu merupakan sebuah bentuk dari keindahan islam yang rahmatan lil alamin, bukan dengan semaunya menghakimi orang lain atas penistaan agama dengan tafsirnya sendiri.
Momen tanggal cantik 10 november 2016, seharusnya umat islam memberikan gelar pahlawan kepada Ahok. Karena Ahok sudah dapat disejajarkan dengan tokoh nasional lainnya, yang mendapatkan gelar pahlawan nasional. Juga Ahok itu mampu membuat kaum oposisi kebakaran jenggot hanya dari sebuah video dari Bumi Yani yang akhirnya mempersatukan umat islam untuk melawan Ahok.
Sepatutnya umat muslim saling merapatkan barisan dan memecahkan rekor Muri Indonesia dalam rangka penyatuan gelar pahlawan nasional kepada Ahok. Rekor Muri dapat di rekomendasikan oleh pihak-pihak oposisi Ahok, atas prestasi dan keberhasilannya dalam memunculkan pahlawan nasional baru di bumi pertiwi.
Indonesia sudah gerah menunggu sosok putra bangsa yang mampu memeberikan revolusi dalam bingkai persatuan. Ahok adalah sosok pribadi yang dicari-cari ibu pertiwi akan rasa kerinduannya atas pahalwan sejati yang senantiasa berjuang membangun Indonesia ditengah serbuan seragam dari pihak oposisi. Andai umat Islam mampu merenungi keinginan Ibu pertiwi?.
Terlepas dari kasus penistaan agama, Gusdur saja banyak tidak disukai oleh umat Islam sendiri, kala mendukung Ahok pada pemilihan Gubernur Bangka Belitung beberapa tahun silam, Gusdur sebenarnya ummat Islam Indonesia itu inginnya apa? Pertanyaan yang dapat ditujukan kepada mereka yang sejak dari awal tidak menghakimi Ahok dan memilih sikap fanatisme pada lembaganya masing-masing. Indonesia seakan krisis sosok panutan berbangsa dan bernegara hingga lalai akan nilai luhur kegotong-royongan dalam membangun bangsa.
Rakyat indonesia harus merefleksikan lagi akan nilai-nilai yang terkandung pada pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ikanya. Cara yang demikian, akan mampu menciptakan suatu kondisi yang kondusif, aman dan tertib. Ahok adalah pahlawan baru yang dengan suka rela sudi membangun bangsa dan negara Indonesia melalui bersaingnya Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang.
Kesetiaan dan rasa pantang menyerah Ahok harus diancungi jempol untuk Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika dari mewujudkan cita-cita ibu pertiwi. Akankah calon dari pihak oposisi mampu menyaingi Ahok di Pilkada? Hanya tuhan yang lebih tahu.










