INIPASTI.COM, MAKASSAR – Sejumlah akademisi Sulsel berasal dari para Guru Besar dari sejumlah kampus ternama di Sulsel mengisyaratkan agar Syahrul Yasin Limpo (SYL) meninggalkan Partai Golkar, dan menerima tawaran politik di luar Golkar, agar memperoleh panggung politik yang lebih leluasa, dan dapat memberikan peluang politik yang lebih besar di masa mendatang.
Itulah benang merah dalam silaturahmi rutin SYL dengan para profesor, Kamis malam (29/7/2016) dari ketiga kampus negeri. Tampak hadir dalam silaturahim itu, Prof Dr Tahir Kasnawi, Prof Dr Saleh Ali, Prof Dr Armin Arsyad, Prof Dr Ambo Tuo, Prof Dr Djamaluddin dari Unhas.
Profesor lainnya, Hamdan Djuhannis dan Bahaking Rama dari UIN Alauddin Makassar serta Prof Dr Wasir Thalib dari UNM, dengan moderator dosen Unhas, Imam Mujahidin.
Dalam dialog dan silaturahmi malam itu, terungkap tiga opsi bagi SYL dalam menyikapi realitas politik. Opsi pertama, SYL tetap bertahan di Golkar dengan menerima posisi yang diberikan pengurus pusat Golkar.
Opsi kedua adalah, SYL meninggalkan Golkar dan menerima tawaran partai lain untuk bergabung. Parpol yang selama ini merayu SYL untuk bergabung adalah Partai Nasdem dan partai lain yang enggan disebutkan namanya. Dan, opsi ketiga, tidak ke mana-mana, konsentrasi membangun Sulsel dan pemerintahan.
“SYL itu seperti emas dua puluh empat karat, ditempatkan di mana saja, dia tetap emas yang berkilau.
“Kalau Golkar tidak memberikan ruang optimal untuk SYL, sebaiknya SYL keluar dari Golkar dan bermain di atas panggung lain, yang bisa mengoptimalkan kapasitasnya,” kata seorang Guru Besar, semalam di Gubernuran.
Realitas politik hari ini sudah tidak memungkinkan bagi sosok SYL melakukan kreativitas politik sehingga perlu mencari partai politik yang mampu memberi ruang kreasi itu, ungkap Hamdan Djuhannis.
Hal sama juga ditegaskan profesor politik dari Unhas, Armin Arsyad dengan mengatakan, kenyataan politik hari ini mengharuskan sosok SYL untuk memainkan kartu-kartu politik. “Kendaraan politik Golkar selama ini sudah tidak mampu memberi ruang kepada SYL untuk memainkan kartu politik itu,” kata Armin.
Ketua Senat Akademik Unhas, Prof Dr Tahir Kasnawi menegaskan, sejarah politik Sulsel akan mencatat bahwa SYL memiliki jejak selaku sosok yang memberi warna di Sulsel yang sulit dihapus dan itu merupakan modal.
“Sekiranya SYL memilih partai politik lain, seharusnya karakter pribadinya yang menjadi ciri khas pribdinya tetap mampu dipertahankan,” pungkas Tahir.










