INIPASTI.COM, MALILI – Mewakili Kabupaten Maros, salah satu pembina Rumah Tahfidz Wisatahati, Mallombasang ‘Thyo’ Zainuddin berhasil meraih juara pada gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-30 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Pada ajang yang digelar di Kota Malili Kabupaten Luwu Timur (Lutim) itu, Thyo menjadi juara 3 pada cabang Tafsir Bahasa Inggris.
Alumnus Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini memang sejak tahun 2006 lalu, ia selalu rutin mengikuti ajang yang diikuti oleh para hafiz Alquran ini. Thyo pun acap kali mendapatkan juara. Setidaknya, sudah 4 kali ia keluar sebagai juara pada ajang MTQ.
Pertama, pada Tahun 2010, Alumnus Pondokan Pesantren (Ponpes) Abnaul Amiir, Kabupaten Gowa ini meraih juara 2 Cerdas Cermat/Fahmil Quran pada MTQ Sulsel yang pada saat itu digelar di Kota Palopo. 4 tahun berikutnya, tahun 2014 ia kembali menjadi juara 2 pada cabang lomba yang sama, di mana pada kala itu MTQ Sulsel digelar di Kabupaten Pinrang.
Tak hanya pada tingkat provinsi, putra pasangan Zainuddin dan Hadawiah ini pernah juga menjadi juara harapan 3 cabang Fahmil Quran pada MTQ tingkat Nasional Mahasiswa di Universitas Indonesia (UI) tahun 2015 lalu. Ia pun berharap bisa menjadi lebih baik lagi ke depan.
“Semoga bisa menjadi lebih baik lagi. Say juga berharap bisa lolos ke tingkat nasional dan meraih juara nasional,” jelas hafiz 30 juz ini kepada tim inipasti.com, Selasa, (10/4/2018).
Thyo yang juga sering disapa Tiro ini memang merupakan hafiz Alquran. Setamatnya di Ponpes Abnaul Amiir, ia kemudian menjadi santri tahfiz di Ponpes Tahfiz Quran Al-Imam Ashim, Tidung Mariolo, Makassar. Ia fokus menghafal Alquran di Ponpes tersebut dari tahun 2009 hingga 2011.
Kini, bersama rekannya Muhadi, ia menjadi pembina Rumah Tahfidz Baitul Mu’minin. Sejak 2015 lalu, ia membina belasan santri pada rumah Tahfiz Wisatahati yang terletak di Komplek Pemda Jalan AP Pettarani itu.
Namun, dari kesemuanya itu, yang tak kalah membahagiakan bagi Putra kelahiran Pattallasang Kabupaten Gowa 15 Juni 1991 ini adalah bisa berkumpul bersama para hafiz-hafizah. Menang dan kalah baginya bukanlah soal, yang terpenting adalah silaturahim tetap terjalin di antara para Pemelihara Kalam Ilahi itu.
“Satu hal yang membahagiakan bagi saya adalah bisa bersilaturahim bersama dengan teman-teman peserta MTQ. Di mana kami hanya bisa bertemu di ajang MTQ saja, kita bertemu berkumpul bersama setahun sekali,” tutupnya. (Sule).










