Alkisah Sayyid Djalaluddin di Maudu Lompoa Cikoang

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Cikoang, Takalar. (Foto : Google)

INIPASTI. COM, MAKASSAR – Melalui hasil pertemuan Abdullah-Aminah, terciptalah roh dan akal. Setelah tercipta Nur dan Ruh-Akal, Aminah hamil, sampai melahirkan seorang bayi pria. Neneknya memberi nama Muhammad.

Pada saat menjelang kelahiran sampai dengan dilahirkannya Muhammad, sungguh banyak mukjizat yang nyata dialami Muhammad. Sepanjang perjalanan hidup dan kehidupan Muhammad SAW, bermacam-macam tantangan dan berbagai peristiwa yang dilaluinya. Dengan penuh ketabahan, keyakinan, ketakwaan, dan kesabarannya ia mampu melewati semua rintangan.

Inline Ad

Baca juga :Nur, Ciptaan ‘Pertama’ Allah SWT?

Prinsip Nabi Muhammad SAW menghadapi semua tantangan itu hanyalah cobaan iman dan ketakwaan baginya. Keadaan Muhammad SAW mengandung penuh kesedihan bila timbul kenangan atas dirinya. Tujuh bulan sebelum Muhammad SAW lahir, ayahnya berpulang ke Rahmatullah.

Yang menjadi kenangan Nabi Muhammad SAW ialah sejak masih kanak-kanak hingga dewasa, hanya Nur, Roh, dan Akal yang diwariskan kepada Muhammad yang lahir pada tarikh 12 Rabiul Awal. Atau tanggal 20 April 571 M. Berbagai rentetan peristiwa dialami Muhammad. Ketika berusia 25 tahun, tercapailah kata sepakat untuk dilangsungkan pernikahannya dengan Sitti Khadijah yang usianya saat itu 40 tahun (15 lebih tua dari Muhammad SAW).

Baca Juga:  Dalil Pacaran dan Cara Dapat Jodoh Tanpa Pacaran

Dalam sejarah, Khadijah melahirkan seorang putri satu-satunya, yaitu Fatimah. Fatimah ini adalah istri Saidina Ali. Dari perkawinan ini, Fatimah mendapat dua putera, di antaranya Al-Hasan dan Al-Husain. Al-Hasan tidak mendapatkan anak. Hanya Al-Husain yang menikah dengan Sahra Banu, dan mendapatkan seorang putera, diberi nama Zainal Abidin.

Dari sekian banyak peralihan keturunan, mulai dari Zainal Abidin sampai kepada ayah kandung Sayyid Djalaluddin, yaitu Sayyid Muh Wahid, dialah yang kemudian menikahi Sitti Halisah, putri Sultan Iskandar Alauddin di Aceh, Serambi Mekah. Perkawinan Sayyid Muh Wahid dengan Sitti Halisah dikaruniai tiga anak. Di antaranya, dua pria. Salah seorang di antaranya adalah Sayyid Djalaluddin dan Sayyid Rasyid dan satu orang putri, yakni Syarifah Fatimah.

Baca Juga:  Orang Pertama yang Mengajarkan Kebenaran di Cikoang

Sayyid Djalaluddin inilah yang menikah dengan Acara Dg Tamami di Banjar. Anak dari Bambanga ri Gowa tahun 1601 M. Semasa Sayyid Djalaluddin belum menikah, sampai akhirnya menikah, ia menetap di Aceh. Di sini, ia menggunakan kesempatan hidupnya menuntut ilmu untuk mengetahui ajaran dan pelajaran Islam. (*)

//

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad