INIPASTI.COM – Sejarah tidak berjalan dengan urut-urutan yang teratur, pasti, mulus dan rapi. Kadang tanggalnya yang menonjol, kadang pula peristiwanyalah yang menonjol. Terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika Serikat, misalnya, ternyata, bertepatan pula dengan peringatan runtuhnya Tembok Berlin. Hari yang sama di tahun 1989 itu menandai kemenangan simbolis kaum liberal, demokratik dan sebagian besar negara yang tergabung dalam tata dunia pimpinan Amerika Serikat yang telah menguasai belahan tertentu di bumi ini selama setengah abad berselang. Kemenangan Trump 27 tahun kemudian, ironisnya, justru menandai berakhirnya tata dunia global jualan Amerika tersebut.
Terlalu awal untuk mengatakan dengan pasti bagaimana kampanye gelap dan memecah-belah yang dilontarkan bintang reality show TV itu akan diterjemahkan dalam bentuk kebijakan. Di dalam negeri, dia akan dibatasi oleh konstitusi yang memang dirancang untuk menghalangi pemimpin negara untuk menjadi seorang tiran, seorang penindas. Sedangkan bagi dunia luar, masih perlu dilihat apakah Trump nanti akan bertindak proteksionis dan bersikap bermusuhan seperti yang diperlihatkannya selama masa kampanye.
Bagaimanapun juga, era dominasi Amerika–masa yang dimulai pada akhir Perang Dunia Kedua dan mencapai puncaknya pada ketika Uni Soviet runtuh–akan segera berakhir. Hal itu akan berdampak besar terhadap tata kelola dunia internasional dan perekonomian global.
Mantan negara adi daya itu membuka jalan bagi diturunkannya hambatan perdagangan dan pelonggaran pembatasan aliran modal di seluruh dunia, yang didukung oleh mata uang dolar Amerika. Negara itu mensponsori lembaga internasional seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional dan Organisasi Perdagangan Dunia, yang bergantung pada dukungan–dan pendanaan–Amerika Serikat untuk legitimasi lembaga-lembaga tersebut.
Sistem tersebut didukung pula oleh kekuatan militer AS, yang disalurkan melalui Pakta Pertahanan Atlantik Utara alias NATO serta serangakaian persekutuan dengan negara-negara lain seperti Jepang, Korea Selatan dan Arab saudi. Persekutuan tersebut dilandasi ideologi yang sama: keyakinan terhadap demokrasi, kebebasan dan penghormatan terhadap supremasi hukum. Hal yang menarik adalah ternyata Kanselir Jerman Angela Merkel justru–dan bukan presiden terpilih AS–yang merasa perlu menekankan kembali pentingnya nilai-nilai yang dianut bersama tersebut pada pagi pertama setelah kemenangan Trump.
Kemenangan Trump mengancam eksistensi seluruh sistem tersebut. Dia telah menegaskan akan menegosiasikan ulang Kesepakatan Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) dengan Meksiko dan Kanada, dan mengecam tarif impor barang dari China. Dia telah membangkitkan keragu-raguan tentang dukungan militer Amerika terhadap para anggota NATO. Sementara itu, kampanye Trump sering kali diwarnai dengan pelanggaran habis-habisan terhadap prinsip-prinsip demokrasi, independensi pengadilan, kebebasan pers, bahkan terhadap hak-hak dasar manusia.
Itu semua tidak dimaksudkan untuk menutup mata terhadap sisi gelap dari hegemoni AS selama ini: semua nilai-nilai luhur di atas tetap tidak menghentikan AS untuk mengobarkan perang yang menghancurkan di Asia Tenggara dan memberikan dukungan terhadap para diktator dunia ketiga. Upaya baru-baru ini untuk menghancurkan kelompok Islam ekstremis telah berkali-kali melanggar prisnsip-prinsip mereka sendiri. Pada saat yang sama, aturan-aturan perdagangan dan keuangan yang dibuat sering kali hanya menguntungkan perusahaan dan dunia perbankan AS dibanding negara-negara saingan.
Namun, tidak dapat diingkari bahwa pengaruh Amerika Serikan telah memudar beberapa waktu belakangan. Serangan pada 11 September 2001 menghancurkan kepercayaan mereka terhadap jaminan keamanan dalam negeri pasca-Perang Dunia Kedua yang kemudian menjerumuskan negara tersebut ke dalam perang Afganistan dan Irak yang mahal dan membawa kerusakan dahsyat. Krisis keuangan yang berujung pada bangkrutnya Lehman Brothers pada September 2008 bukan hanya membawa dunia Barat ke arah resesi tetapi juga menghancurkan kepercayaan terhadap para elite keuangan dan ekonomi.
Tamparan politik akibat kegagalan-kegagalan tersebut telah membawa Inggris keluar dari Uni Eropa. Kini Amerika mengangkat pria berusia 70 tahun denga reputasi bisnis dipertanyakan dan tanpa pengalaman jabatan publik satupun untuk memimpin Gedung Putih.
Namun, membedah isi-dalam Amerika tersebut akan memperlihatkan pula jauhnya dampak yang dapat ditimbulkannya terhadap dunia. Tindakan-tindakan proteksionis mereka mungkin akan mengundang pula tindakan proteksi balasan dari negara-negara lain. Para investor mungkin akan mencari mata uang alternatif untuk menanaman modal mereka. Negara-negara yang sebelumnya berlindung di bawah payung militer AS mungkin akan mempersenjatai ulang diri mereka, sehingga ketegangan regional akan meningkat.
Tidak ada hegemoni lain yang siap mengambil alih. Uni Eropa sedang direpotkan oleh perekonomian yang jalan di tempat, gelombang migrasi dan ancaman ekspansi Rusia. Sejumlah negara Eropa mungkin akan mengalami kejutan mirip Trump dalam pemilihan umum mereka tahun depan. Seandainya selamat dari ancaman ini sekalipun, Uni Eropa tetap akan bergelut untuk mendapatkan pengaruh di luar perbatasan mereka tak jauh di masa depan.
Sementara itu, China, akan mempererat cengkeramannya di Asia: Filipina dan Malaysia sudah menjalin hubungan hangat dengan negara Republik Rakyat tersebut. Namun, pertumbuhan ekonomi luar biasa China selama tiga dekade terakhir sangat bergantung pada kemampuannya untuk menunggangi sistem perdagangan dan keuangan global yang diawasi Amerika Serikat. Belum tentu peringkat kedua kekuatan ekonomi dunia itu akan sanggup membuat dan memaksakan seperangkat aturan baru secara global, meskipun negara tersebut menginginkannya.
Para pemilik suara Amerika Serikat telah pernah bermain-main dengan ideologi isolasionisme dan proteksionisme sebelumnya. Boleh jadi, para presiden masa depan akan mengobarkan kembali semangat keterbukaan. Bahkan Trump sekalipun, mungkin akan menjadi lebih pragmatis daripada yang diperlihatkannya di atas podium. Itulah kesimpulan awal yang ditarik oleh para investor, yang telah berispa-siap mendapatkan stimulus fiskal, namun tampaknya tidak terlalu mengkhawatirkan ancaman perang dagang. Meski demikian, pemilihan presiden Amerika Serikat harus dilihat sebagai indikator yang jelas bahwa dukungan Amerika Serikat terhadap liberalisme internasional telah berakhir. Mungkin perlu 27 tahun lagi untuk mengetahui dengan pasti apa akibatnya kelak buat dunia.










