Setelah menyamai Hillary Clinton atau sedikit unggul di atasnya dalam polling yang diterbitkan pertengahan May lalu, Trump menyaksikan angka polling dirinya menurun di mana-mana. Penurunan angka polling itu berkorelasi dengan dikerahkannya jurnalis yang baik yang melakukan “introspeksi” itu bagi Trimp. Hampir setiap hari, pemaparan tentang dirinya terkumpul: dia tidak membayar tagihannya, sering kali meremehkan kontraktor kecil; untuk orang yang memproklamasikan diri sebagai multimilioner, dia ternyata menyumbang dalam jumlah sangat kecil; dia punya sejarah panjang sebagai orang yang memperlakukan perempauan sebagai barang mainan seks; dia juga menghadapi kecaman soal Universitas Trump yang meragukan dan Institut Trump yang tak kalah tidak bermutunya (seminar bisnis “rahasia dan strategi menciptakan kekayaan”).
Trump sering berbicara tentang batapa menyenangkan menjalankan bisnis dan berkampanya untuk jadi presiden, namun dia tampaknya hanya sedikit memperloleh kesenangan akhir-akhir ini. Orang yang mengamati emosinya akan tahu bahwa berkaitan dengan hal tersebut, emosinya bercampur baur. Salah satu bocoran yang bagus adalah akun online yang dipublikasikan pada Maret oleh Stephanie Cegielski, mantan direktur komunikaosi Make America Great Again. Cegielski berkata dirinya diberi tahu teman, Maret 2015, bahwa Trump akan ikut pemilihan presiden, dengan tujuan memperoleh polling sebesar, paling banter, dua belas persen, dan menempati peringkat kedua dalam pemungutan suara untuk memilih delegasi. (“Pencalonan sebagai Protes”) Lalu, tentu saja, bakatnya dalam menghasut dan kemuakannya terhadap kelompok mapan, baik di Washington maupun di dalam Partai Republik, telah mengubah wacana pemilihan presiden secara radikal.
Orang malang itu sebenarnya hanya ingin memasarkan merek dagang bernama “Donald Trump”, bukan memberi beban kepada Donald Trump untuk memikul tugas belajar hal-hal yang mengharuskannya memiliki disiplin-diri setara dengan tanggung jawab besar dan mulia yang harus dipikul oleh kepresidenan. Seorang kandidat dari partai besar seharusnya memiliki staf yang terdiri atas ratusan tenaga lapangan berpengalaman, jaringan pengumpul dana yang terkoordinasi secara rinci, ajang kampanye yang tersusun baik di setiap negara bagian, terutama yang belum menentukan pilihan. Sebuah headline terakhir Politico menyebutkan “tim kampanye pennsylvania trump hilang dalam tugas”. Ada pula laporan tentang kampanye Tump yang mencari donasi dari politisi Australia, Islamdia, Denmark, Finlandia, dan Inggris–suatu bentuk pelanggaran hukum federal. Jujur saja, pada awal Juni, dana kampanye Trump tinggal USD1,3 juta di bank. Maka, tentu saja dia butuh sumbangan uang.
Tidak ada kandidat serius yang akan begitu saja menggunakan tuduhan bernada rasis melawan pengadilan federal untuk kasus hukum yang melibatkan bisnis pribadinya. Seseorang yang bertekad untuk menang akan memperlengkapi diri dengan riset yang akan mendukungnya dengan informasi mendalam tentang kebijakan domestik dan luar negeri terkait isu-isu tertentu. Sehari sebelum referendum Brexit di Inggris, Trump diwawancarai oleh Fox Business tentang dia berpihak di mana dalam isu tersebut. “Saya pikir orang tidak harus mendengar saya, karena saya belum benar-benar fokus banyak terhadap masalah itu,” ujarnya. “Tetapi saya lebih cenderung memilih keluar.” Ketika dia terbang ke Skotlandia sehari setelah referendum, tanpa sadar bahwa orang Skotlandia jauh lebih banyak memilih untuk tetap bersama Uni Eropa, dia menulis tweet, “Tempat itu menjadi beringas menghadapi hasil referendum. Mereka membuat negara mereka menjadi negara tertinggal, sama seperti kita membuat negara kita tertinggal. Tidak ada permainan!”
Sebenarnya, bagi Trump ini semua hanya permainan, di mana dalam satu di antara permainan yang dia ikuti, meski tampak janggal menggambarkannya demikian, Trump secara fatal justru telah mempermaikan dirinya sendiri. Disebarluaskan bahwa dia hanya tidur empat jam sehari–cukup, kata orang, untuk lolos dari mimpi buruk headline pada 9 November sambil berteriak “Dasar pecundang!” Banyak bukti menunjukkan bahwa itulah justru yang paling ditakutinya sepanjang hidup. Namun, para pemilik suara yang mendukungnya tidak akan ke mana-mana. Kemarahan atau ketidakpuasan mereka yang dia eksploitasi untuk mendapatkan suara mereka akan tetap tinggal dan bertambah, sebagaimana hal itu akan tinggal di benak orang yang berpikiran sama di Eropa yang merasa terbebani oleh globalisasi dan, terutama, imigrasi. Pada suatu waktu nanti, pemilihnya akan sadar bahwa mereka telah dikibuli oleh seorang penjaja keliling yang mengincar suara mereka demi ego diri yang kolosal. Dan, sadar bahwa, selama ini, dia tidak punya apa-apa untuk ditawarkan.










