INIPASTI.COM – Membaca kisah Ario Kiswinar Teguh serta dua wanita bersaudara Adinda dan Devi (bacakabar.com) sungguh sangat miris. Ario Kiswinar, Adinda, dan Devi adalah tiga anak manusia yang tidak diakui oleh bapaknya, Mario Teguh dan Susilo Bambang Yudoyono. Kisah yang serupa tapi tak sama dialami oleh Muhammad Iqbal Ramadhan anak almarhum Murdiono. Serupa karena semua tidak diakui oleh bapaknya, berbeda karena Ario, Adinda, dan Devi dicatat oleh negara sebaliknya Iqbal tidak tercatat. Atas kelakuan bapak-bapak ini, maka mereka tidak mendapatkan hak-hak nya sebagai anak, baik hak asuh maupun hak waris, sementara bapak-bapak ini senantiasa dihormati karena kalem, teduh, dan bijaksana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silahkan ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Berbohong untuk menyembunyikan aib seperti kisah di atas untuk kepentingan dunia sudah terjadi sejak zaman nabi. Kisah menutup aib —yang akhirnya terbuka atas izin Allah Subhaanahu wa Ta-aalaa— adalah kisah sapi betina yang terjadi pada kaum bani Israil, kaumnya Nabi Musa ‘Alaihissalam. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah (sapi betina). Dikisahkan seorang ahli waris yang membunuh sepupunya yang kaya untuk mendapatkan warisan. Selanjutnya dia mengadu ke Nabi Musa ‘Alaihissalam seolah-olah untuk menuntut balas. Atas pengaduan ini, Nabi Musa ‘Alaihissalam memerintahkan kepadanya untuk menyembelih sapi betina. Sapi betina yang disyaratkan adalah sapi betina yang dipelihara di tengah hutan oleh seorang anak muda —yang ditinggal mati oleh bapaknya— yang sangat berbakti kepada ibunya. Setelah sapi tersebut dibeli dan disembelih kemudian memukulkan bagian sapi itu kepada korban pembunuhan sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selanjutnya orang yang terbunuh hidup sejenak dengan izin Allah dan berkata, “Yang membunuh saya adalah fulan.” Kemudian dia jatuh dan mati di tempatnya. Akhirnya sang pembunuh jadi terungkap dan gagal dapat warisan.
Hikmah dari kejadian ini adalah kita jangan pernah terpedaya oleh puji-pujian dan ujub (bangga) dengan amalan kita, karena kalau ada satu saja aib kita diungkap oleh Allah maka semua pujian akan menjadi celaan. Kata Muhamad bin Waasi’ rahimahullah: “Seandainya dosa-dosa itu ada baunya maka tidak seorangpun yang mau duduk bersamaku”.
Akankan kita menunggu Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan “sapi-sapi betina”-Nya untuk mengungkapkan kebohongan ini? Sesungguhnya bukan warisan (seperti kisah sapi betina) yang mereka minta melainkan “hanya” kejelasan hukum. AmpunanMu senantiasa hamba harapkan wahai Dzat yang menutupi aib-aib hambaNya.
Wallahu A’lam Bishawab










