INIPASTI.COM – Bagaimana rasanya menjadi seorang istri tanpa pernah ‘tersentuh’ oleh suami yang ternyata mengidap disfungsi seksual? Bagaimana ia bertahan dari situasi itu dan merahasiakannya dari keluarga?
Sebuah artikel dari Quora (diposting oleh Qorin Karensi untuk menjawab pertanyaan judul) menarik untuk diikuti, curhatan seorang istri yang mengalami situasi tersebut.
_
Aku masih perawan, padahal umur pernikahanku sudah hampir 3 tahun.
Suamiku mengidap disfungsi ereksi. Dalam beberapa bulan setelah pernikahan kami, dia tidak pernah mencoba untuk yang lebih jauh dari foreplay dan oral sex, dan aku menceritakan ini pada ibuku. Buruknya, ibuku menceritakannya kepada iparku yang kemudian membuat situasi menjadi lebih buruk.
Setahun setelah pernikahan, aku dan suamiku hidup seperti orang asing yang saling mencintai. Kami tidak pernah berencana untuk bulan madu, hanya liburan keluarga biasa. Dia juga tidak pernah membawaku ke tempat kerjanya di sebuah kota berjarak 500 km dari tempat tinggalnya, tempat tinggalku selama setahun bersama orangtuanya.
Setelah beberapa kali sempat terjadi perdebatan panas di dalam keluarga kami, akhirnya kami memutuskan bahwa dia harus menjalani pengobatan dan aku harus tinggal bersama dengannya. Banyak sekali drama yang terjadi. Hanya saja aku sangat mencintainya. Aku masih memberi cinta kami kesempatan.
Sejujurnya, hari ini, setelah tinggal terpisah dari keluarganya, rasa suka kami meningkat satu sama lain, ikatan kami semakin kuat. Ia yang selama ini tidak pernah mencurahkan perasaannya padaku, kini mulai terbuka. Aku jatuh cinta, dia juga. Romansa telah bertambah sepuluh kali lipat.
Tapi kami masih belum bercinta.
Dia dan aku masih perawan. Kami sudah mencoba, dia juga sudah mencoba berbagai macam pengobatan. Dia telah mencoba semua yang dia bisa, tapi kami tetap gagal.
Terkadang aku menangis saat kami gagal melakukannya. Umurku sekarang di akhir dua puluhan, dan dia di awal tiga puluh. Masalah umur semakin memperburuk keadaan. Dia sangat ingin berada di dalamku, aku juga ingin dia di dalamku. Tapi ini tak pernah terjadi.
Air mataku hanya membuatnya merasa tak berharga. Dia selalu menghiburku dengan caranya sendiri. Dia merasa bersalah untukku. Dia berkata jangan khawatir, sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Beri aku waktu, aku akan mengusahakannya untukmu.
Entah bagaimana aku merasa bahwa ini tidak akan terjadi. Mungkin inilah jalan kami. Bercumbu dan tak bisa lebih dari itu.
Aku tak bisa membiarkan orangtuaku mengetahui ini. Aku tak mau ada kekacauan lagi di kehidupan pernikahanku. Aku tak mau melepas suamiku hanya karena dia tak bisa memuaskanku di ranjang. Aku sangat mencintainya.
Sekarang, yang orangtuaku tahu adalah semuanya baik-baik saja di antara kami. Kehidupan seks kami hebat. Mereka bisa melihat ikatan kami yang sangat kuat di foto. Mereka menetahui semuanya, kecuali yang sebenarnya terjadi.
Aku tahu, suatu saat mereka pasti akan mengetahuinya. Aku selalu ketakutan akan hal itu. Kami takut kehilangan satu sama lain hanya karena masalah ini. Suamiku juga masih ketakutan jikalau keluargaku mengetahui ini dan akhirnya mengahiri hubungan pernikahan kami.
Aku telah memberitahunya bahwa aku takkan meninggalkannya karena hal ini. Aku bersamanya bukan untuk bercinta. Aku bersamanya karena aku sangat mencintainya bagaimanapun keadaannya.
(quora)










