INIPASTI.COM, Pada Rabu (16/12), Jokowi menegaskan akan menjadi penerima vaksin Corona pertama di Indonesia. Keputusan ini diambil Jokowi guna meyakinkan masyarakat bahwa vaksin yang digunakan aman.
Sebelumnya diketahui bahwa salah satu vaksin yang dipesan Indonesia sudah tiba di Tanah Air pada Minggu (6/12) sekitar pukul 21.30 WIB melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Hal ini tentunya mengundang banyak pertanyaan dari masyarakat mengenai keamanan dari vaksin yang berasal dari Beijing, China
Sebagian orang menginginkan suntikan sesegera mungkin, dan sebagian yang lain khawatir dengan vaksin ini karena hal ini berkaitan dengan memasukkan sesuatu yang tidak dikenal ke dalam tubuh mereka.
Mengenal Vaksin Sinovac
Dikutip dari Kompas.com, Nama dan produsen Vaksin ini disebut dengan nama CoronaVac dan diproduksi oleh perusahaan bioteknologi asal China, yang bermarkas di Beijing, Sinovac Biotech Ltd.
Perusahaan yang satu ini memang fokus pada bidang riset, pengembangan, pembuatan hingga komersialisasi vaksin-vaksin untuk mencegah terjadinya penularan penyakit pada manusia.
Apa Kandungan Vaksin Sinovac
Dilansir Nature, Rabu (2/12), vaksin Sinovac dibuat dengan menggunakan teknologi inactivated virus atau virus yang tidak aktif lagi. Teknologi ini memungkinkan vaksin dikembangkan lebih cepat.
Dengan menggunakan inactivated virus, pembuatannya banyak menggunakan partikel virus yang dimatikan untuk dapat memicu sistem kekebalan tubuh terhadap virus tanpa menimbulkan respons penyakit yang serius.
Selain itu, vaksin inactivated virus juga memungkinkan vaksin lebih mudah disimpan di lemari es dengan standar suhu 2-8 derajat Celsius dan dapat bertahan hingga tiga tahun.
Hal ini merupakan salah satu keuntungan yang ditawarkan Sinovac agar bisa didistribusikan ke wilayah-wilayah yang tidak bisa menyimpan di rantai dingin (cold-chain). Cold-chain atau rantai dingin menunjukkan serangkaian tindakan atau peralatan yang diterapkan untuk mempertahankan suatu produk dalam suhu rendah hingga dikonsumsi.
Cara Kerja Vaksin
Melalui uji klinis yang telah dilakukan di sejumlah negara, CoronaVac yang dibuat dari virus Sars-CoV-2 nonaktif ini bekerja dengan cara memicu respons kekebalan tubuh dengan cepat.
Namun demikian, mengutip Kontan, Senin (7/12), antibodi yang dihasilkan oleh vaksin ini di dalam tubuh tidak lebih banyak dari antibodi yang berhasil terbentuk pada orang yang telah pulih dari Covid-19. Ini berdasarkan publikasi Sinovac pada 18 November 2020 terkait dengan hasil uji klinis mereka.
Meski tidak sebanyak itu, akan tetapi antibodi yang dihasilkan dengan vaksinasi menggunakan vaksin ini disebut sudah cukup, berdasarkan studi praklinis yang dilakukan terhadap kera.
Efek Samping
Ketua Tim Uji Klinis Vaksin Covid-19 Sinovac di Indonesia, Prof Kusnadi menyebut vaksin dapat dikatakan aman, karena tidak terjadi hal-hal yang merugikan pada relawan yang menerima vaksinasi.
Efek samping ditemukan namun dalam skala kecil dan tingkat ringan pada sebagian sukarelawan.
Sementara itu, dikutip dari Kompas.com (22/7), Manajer Lapangan Tim Penelitian uji klinis vase 3 vaksin Sinovac, dr Eddy Fadliana menyebut efek samping yang ditemukan misalnya berupa nyeri di tempat suntikan (20-25 persen relawan).
“Fase satu dan fase dua menunjukkan tingkat keamanan cukup tinggi. Pada fase satu dan dua tidak timbul demam, hanya reaksi lokal nyeri di tempat suntikan tadi,” kata Eddy.










