Oleh : Ahmad Usman
Dosen Universitas Mbojo Bima
Inipasti.com, Berhenti menulis di tengah jalan, sama dengan muntah belum selesai, orgasme yang tak jadi”, demikian kira-kira kalimat inspiratif dari penulis-penulis beken.
Pramoedya Ananta Toer ketika ditanya seseorang apa resep jadi seorang penulis besar dan berkaliber internasional, ia hanya menjawab bahwa ada tiga tips untuk menulis yakni, “Pertama, menulis. Kedua, menulis. Dan Ketiga menulis.” Gertrude Stein (Reeves, 2008) menulis, “Menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis.” Dia juga menulis, “Mawar adalah mawar adalah mawar adalah mawar”). Maksud perkataannya itu tidak lain adalah bahwa menulis itu ya soal menulis, dari awal sampai akhir. Bahwa menulis adalah menulis. Pokoknya menulis. Bagaimana mulai menulis? Menulis. Bagaimana untuk dapat terus menulis? Ya terus menulis.
Sayangnya, banyak dari kita yang menganggap hal itu tidak sesederhana kelihatannya. Kita bermasalah saat akan mulai menulis, kita bermasalah untuk bisa terus menulis, dan seringkali kita menyerah begitu saja, semangat dan kegigihan kita sedikit demi sedikit menghilang, seperti sungai yang mengering.
Budaya menulis (lectary) berbeda dengan budaya bicara (oral). Budaya menulis merupakan nilai utama budaya akademik. Budaya menulis akan meningkatkan daya nalar kita. Pembinaan kecakapan berpikir atau daya nalar selama ini sering dianggap hanya dapat dilakukan dalam bidang-bidang tertentu seperti matematika atau fisika, padahal bukan matematika saja yang menuntut proses berpikir demikian. Kita mesti sadari bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika sudah diniati dan dimulai. Itu berarti angan-angan terlahir generasi yang lebih melek tulisan secara aktif adalah bukan sesuatu yang tidak mungkin (Yunus, 2015).
Ada beberapa cara yang sudah harus mulai kita lakukan untuk memperbaiki kemampuan guru dalam menulis. Supaya terjadi perubahan yang cepat, sebaiknya guru jangan lagi diajari menulis saja, tetapi yang lebih tepatnya kita harus mendukung guru untuk memiliki budaya meneliti. Alasannya sederhana, dengan meneliti, maka guru akan melakukan hal-hal yang sangat edukatif, antara lain : gemar membaca, rajin menulis, mampu mengidentifikasi masalah, dapat mengambil data di lapangan, kelas dan sekolah, bisa melakukan pengolahan data, terbiasa menarik kesimpulan, baik secara induktif, deduktif ataupun deskriptif kualititaf, dan makin senang melakukan diskusi yang pada akhirnya mau menghargai orang lain yang seprofesi ataupun bukan (Syafruddin, 2019).
“Ayat” Wajibnya Guru Menulis
Muchtar (2014), mengemukakan 9 “Ayat” wajibnya guru menulis.
Ayat 1 : Menulis menuntut berpikir logis dan sistematis
Ayat 2 : Menulis memaksa kita bertindak hemat dan praktis
Ayat 3 : Menulis melatih tanggung jawab
4 : Menulis melatih ketelitian
Ayat 5 : Menyebarkan ide lebih kekal dan luas
Ayat 6 : Menulis memperkaya diksi
Ayat 7 : Menulis sebagai alat pemaksa membaca
Ayat 8 : Menulis dapat jadi penghasilan tambahan
Ayat 9 : Menulis melepaskan stress.
Selain sejumlah kiat menulis di atas, berikut tips mengembangkan minat menulis untuk para guru, di antaranya: (1) niatkan diri; (2) menghilangkan kesan tidak bisa menulis; (3) mulai dari sesuatu yang Anda kuasai; (4) mengikuti berbagai lomba; (5) membuat blog; (6) kirim ke media cetak; (7) ikut pendidikan dan pelatihan; (8) ikut proyek tulis buku antologi; (9) baca, baca dan baca, (10) disiplin; dan (11) sikap pantang menyerah (Syarifuddin, 2019).
Tujuh (7) Jangan untuk Para Penulis
Hanya tujuh? Tentu tidak. Tapi sebagai langkah awal untuk menjadi penulis yang berhasil, tujuh hal inilah yang wajib dihindari seorang penulis. Untuk selanjutnya, biarlah pengalaman yang mengajari Anda (Mahardica, 2006).
Ketujuh jangan untuk para penulis sebagaimana dikemukakan Mahardica (2006) sebagai berikut.
Pertama, menulis buku tanpa melengkapi bagian-bagian buku, seperti prakata, daftar pustaka, indeks, glosarium. Kata pengantar/prakata penting untuk membantu pembaca meraba apa yang bisa ia dapatkan dari buku Anda. Daftar pustaka, indeks dan glosarium juga sangat membantu pembaca agar bisa lebih cepat menuju apa yang ia cari. Tak jarang sebelum memutuskan untuk membeli, seorang pembaca akan memeriksa daftar pustaka, indeks maupun glosarium sebelum memutuskan apakah buku tersebut sesuai dengan yang ia inginkan. Daftar nama, istilah, peristiwa, tanggal penting dalam sebuah indeks atau daftar definisi dalam sebuah glosarium sangat disukai, terutama oleh mereka yang sedang mencari bahan referensi.
Kedua, mengirim naskah tanpa pengantar atau proposal. Pengantar atau proposal bukanlah untuk berbasa-basi. Pengantar atau proposal yang Anda sertakan ketika mengirim naskah ke penerbit/media akan membantu editor mendapat gambaran apa yang Anda tawarkan. Pengantar yang baik dan menarik juga akan membawa kesan pertama yang baik untuk editor.
Ketiga, mengutip tanpa mencantumkan sumber kutipan. Ingat, ini adalah jaman di mana hak cipta menjadi satu tema pokok dan lumayan sensitif. Anda boleh saja tidak setuju dengan masalah hak cipta (dan masalah ini memang masih jadi bahan perdebatan). Namun terlepas dari masalah hukum tadi, penulis yang baik adalah yang menghormati sejawatnya. Jika Anda lupa darimana Anda mendapatkan kutipan tersebut, lebih baik urungkan niat Anda mencantumkan kutipan itu. Jika ternyata hanya mampu mengingat sebagian informasi (nama atau judul buku) dari sumber kutipan yang sangat penting, dengan terpaksa pakailah kalimat tak langsung atau akui saja dalam tulisan bahwa Anda memang lupa. Penulis yang baik bukanlah yang menulis dengan tujuan untuk mencari nama, popularitas, pujian maupun kekayaan belaka; memberi sumbangan pikiran dan membagi wawasan yang dimiliki kepada khalayak adalah tujuan yang jauh lebih mulia. Sebab itu tak ada salahnya terlihat ‘bodoh’ namun jujur daripada terlihat ‘pintar’ tapi ternyata hanya klaim palsu. Demikian juga tak ada ruginya ‘mempromosikan’ tulisan orang lain dalam tulisan Anda. Bahkan referensi/sumber kutipan yang lengkap malah membuktikan bahwa Anda menulis dengan landasan yang kuat.
Keempat, menulis tanpa berempati terhadap pembaca. Jika dalam dunia dagang dikenal ‘pembeli adalah raja’, hal yang sama juga terjadi pada dunia penulisan. Pembaca bahkan adalah dewa, karena hidup mati seorang penulis mutlak bergantung pada pembaca. Lebih dari sebuah hubungan jual beli, dalam dunia penulisan pembaca juga bisa menghasilkan produk yang sama (yaitu tulisan) dalam bentuk resensi, komentar atau kritik terhadap sebuah tulisan. Karena itu, jangan sekali-kali mengabaikan pembaca, mereka bisa sewaktu-waktu berubah menjadi sama atau bertukar posisi dengan Anda.
Kelima, menulis tanpa referensi yang memadai. Tak hanya buku non-fiksi, buku fiksi pun memerlukan referensi. Kecuali Anda seorang yang memiliki imajinasi begitu luar biasa sehingga mampu menciptakan sebuah setting, karakter, dan sebuah realitas yang benar-benar murni dan belum pernah terpikirkan sebelumnya, barulah Anda boleh menulis tanpa banyak referensi selain dari imajinasi Anda sendiri. Semakin lengkap referensi yang dimiliki, tulisan akan semakin meyakinkan dan berkualitas. Ide yang sangat bagus namun referensinya kurang (kurang lengkap atau malah kurang tepat) akan berpotensi untuk cepat disanggah dan kemudian segera dilupakan.
Keenam, asal menulis. Jangan asal menulis. Meski saat ada ide Anda memang harus segera menuliskannya, namun lebih baik pakailah tulisan awal itu sebagai brainstorming dahulu. Setelah itu, tentukan teknik menulis terbaik yang akan Anda pakai. Tak jarang teknik atau cara menulis/bercerita lebih utama daripada isi cerita itu sendiri. Rencanakan segala sesuatunya dengan matang. Inilah perlunya outline/kerangka karangan. Tak ketinggalan, terutama dalam menulis fiksi, karakter juga memiliki peran penting. Ada pembaca yang tertarik mengikuti sebuah cerita karena penasaran atau jatuh cinta dengan karakternya. Rencanakan, dan setelah itu jangan lupa juga untuk segera menuangkannya dalam tulisan.
Ketujuh, menolak naskahnya disunting editor. Apakah Anda menganggap editor hanyalah seorang yang suka mengacak-acak tulisan orang lain dan menggantinya sekehendak hatinya? Ya, editor (dan kritikus) kadang memang menjengkelkan, bertindak seakan dirinya Tuhan. Tapi hal ini sebenarnya bisa diatasi dengan menjalin hubungan yang baik serta sering berkomunikasi untuk mencapai titik temu terbaik. Namun jangan sampai Anda menganggap peran editor tidak diperlukan. Tanpa editor, tulisan Anda bisa terjebak dalam subyektifitas. Pada akhirnya, kerendahan hati adalah karakter kunci untuk berkembang.
Poin nomor tujuh cukup menarik untuk disinggung. Kebanyakan orang mungkin memang tidak suka kalau naskahnya disunting oleh penyunting naskah. Dan mungkin salah satu yang menjadi alasan adalah naskahnya tidak lagi murni tulisan penulis, kurang otentik lagi karena sudah disunting.
Tapi yang lebih membebani adalah penulis yang “terserah editorlah”. Penulis model begini di satu sisi memang memberi kebebasan, tapi di lain pihak juga memberi dilema bagi seorang penyunting (khususnya penyunting pemula). Di satu sisi ia harus benar-benar menjaga maksud penulis, di lain pihak ia harus memperbaiki bahasa penulis. Dilemanya justru ketika ia harus memperbaiki bahasa itu. Bagi penyunting pemula, hal ini bukan sesuatu yang gampang karena bisa saja apa yang jadi penekanan penulis jadi hilang. Selain itu, bisa saja ciri khas penulis akan tergantikan oleh ciri khas penyunting.
Namun yang utama, dengan adanya komunikasi, bukan saja hal-hal penting atau ciri khas penulis itu tidak hilang, namun juga memberi sumbangan tersendiri bagi penulis untuk lebih memperbaiki tulisannya. Hal ini jelas membantu penyunting untuk memberi perhatian pada hal-hal yang lebih penting lagi, misalnya koherensi dari tulisan–tidak sebatas masalah tata bahasa dan ejaan belaka.
Mengasah Kemampuan Menulis
Kata kunci untuk bisa mahir menulis perlu latihan secara terus-menerus. Ibaratnya mata pisau, semakin sering diasah akan semakin tajam. Seorang yang sangat cerdas sekalipun bila lama tidak menulis biasanya merasa kesulitan ketika memulai lagi menulis. Menulis perlu dijadikan sebagai kebiasaan dan tidak perlu takut salah. Inilah penyakit umum dalam dunia tulis-menulis.
Untuk menghasilkan tulisan yang berbobot, tentunya tidak hanya mengandalkan pada teori, tetapi latihan yang intensif dan sungguh-sungguh merupakan faktor yang berperan dalam meniti karir sebagai penulis yang handal di masa depan. Tradisi menulis jika ditekuni akan menjadi hobi, sehingga kegiatan menulis tidak memberatkan lagi. Di setiap kesempatan akan muncul ide atau gagasan baru secara otomatis. Guru di samping tugasnya untuk mengajar, mendidik dan membimbing peserta didik ke arah pendewasaan. Guru juga mempunyai profesi sebagai penulis, kegiatan sampingan guru yang paling dekat dengan profesinya adalah tradisi menulis karena gurulah yang setiap hari yang berhubungan dan berkubang dengan buku (Syarifuddin, 2019).
Disadari atau tidak, sebenarnya seorang guru itu sudah melakukan aktifitas menulis. Fakta ini diperkuat oleh pendapat Hakim (2005) bahwa hampir setiap orang agaknya pernah melakukan aktifitas menulis, dari bentuk yang paling ringan dan sederhana sampai yang luas dan mendalam. Menulis dalam bentuk ringan seperti buku harian, surat, memo, pengalaman, opini, dan lain-lain. Sedangkan menulis dalam bentuk luas dan mendalam dapat berupa artikel, esai, kritik, laporan, buku, jurnal, dan sebagainya. Menulis bentuk lain juga bisa misalnya karya-karya fiksi (puisi, cerpen, dongeng, pantun, novellet, novel, dll). Memang secara garis besar, tulisan dibedakan antara tulisan fiksi dan non fiksi. Dengan demikian, bukankah menulis bagi guru itu merupakan aktifitas yang sudah menjadi rutinitas. Terlebih menulis yang berkaitan dengan tugas pokok guru dalam mengajar.
Dalam menumbuhkan budaya menulis, guru perlu memiliki kemampuan menulis. Kemampuan menulis yaitu kemampuan berbahasa yang bersifat produktif; artinya, kemampuan menulis ini merupakan kemampuan yang menghasilkan; dalam hal ini menghasilkan tulisan (Slamet, 2008). Menurut Solehan, dkk (2008) kemampuan menulis bukanlah kemampuan yang diperoleh secara otomatis. Solehan menjelaskan bahwa kemampuan menulis seseorang bukan dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh melalui tindak pembelajaran. Berhubungan dengan cara pemerolehan kemampuan menulis, seseorang yang telah mendapatkan pembelajaran menulis belum tentu memiliki kompetensi menulis dengan andal tanpa banyak latihan menulis.
Kemampuan menulis adalah kemampuan yang bersifat aktif dan produktif di dalam menghasilkan tulisan yang diperoleh melalui proses pembelajaran dan latihan secara terus-menerus.
Menurut Aliya (2021), terdapat 10 Cara jitu meningkatkan kemampuan menulis. Yaitu : 1. Sering membaca. 2. Menulis setiap hari. 3. Tuliskan setiap ide. 4. Tulis topik yang disukai. 5. Membaca ulang setiap tulisan. 6. Buat tulisan dari kalimat acak. 7. Jangan lupakan proses editing. 8. Belajar membuat rangkuman. 9. Baca tulisan dengan lantang. 10. Manfaatkan tren secukupnya.
“Cogito Ergo Sum”
Adam Grant (Fahriza, 2019) memaparkan bahwa menulis ekspresif dapat membuat peningkatan mood, kesejahteraan, dan tingkat stres yang berkurang. Laura King juga mengungkapkan hasil penelitiannya, bahwa menulis mengenai pencapaian tujuan dan impian masa depan dapat membuat seseorang lebih bahagia dan lebih sehat. Beberapa pakar menganggap bahwa menulis juga merupakan pengucapan syukur pada sang pencipta. Di mana saat seseorang menuliskan sesuatu dengan melibatkan hatinya yang tertuju pada pengharapan akan kasih sayang sang pencipta, hal tersebut memberikan dampak positif. Selain hati yang semakin lembut dan rendah hati, seseorang akan menjadi semakin kuat karena kepercayaannya terhadap sang pencipta.
Bukan hanya dari sudut pandang psikologis dan medis, menulis juga menjadi aktivitas yang dibutuhkan di dunia pendidikan. Selain mengasah kemampuan analisa, seperti yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib (“Ikatlah ilmu dengan menulis”), menulis juga merupakan hal yang dapat membuat ilmu menetap lebih lama di dalam pikiran manusia. Menulis berbeda dengan ilmu yang sejenis matematika, fisika, ataupun kimia. Ketika menulis, seseorang akan dilibatkan dalam proses mental. Menurut Kellog, menulis adalah konkretisasi dari berpikir. Manusia adalah homosymbolicum, makhluk yang menciptakan simbol dan hidup dalam dunia simbol. Manusia menuangkan ide, simbol dan gagasan dari buah pikirannya salah satunya melalui tulisan.
Rene Descartes mengatakan “cogito ergo sum”, yang artinya “saya berpikir, maka saya ada”. Manusia adalah makhluk yang selalu menunjukkan eksistensinya di manapun ia berada. Maslow mengatakan bahwa kebutuhan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri. Menulis merupakan salah satu sarana untuk menunjukkan aktualisasi seseorang, baik di bidang pendidikan, maupun bidang yang lain. Bagi para pakar pendidikan, dengan menulis mereka dapat menunjukkan hasil-hasil penelitian yang bermanfaat bagi generasi penerusnya dan dapat dirasakan manfaatnya bagi kehidupan manusia. Beberapa riset tentang pelatihan menulis juga telah banyak dilakukan oleh banyak pakar, mengingat bahwa menulis sangat penting bagi kehidupan manusia (Fahriza, 2019).
Menulis bukanlah sekadar menorehkan kata-kata yang dirangkum dalam kalimat sehingga membentuk sebuah paragraf. Menulis juga merupakan aktivitas ruhaniah yang menjangkau dimensi transendental sebagaimana diwasiatkan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu “Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak.”
Menulis Ibarat Sekeping Mata Uang
Arswendo Atmowiloto (2003) menggubah sebuah karya ”Mengarang Itu Gampang”, Andrias Harefa mengulas buku ”Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang” (2003), Prasetyo menulis buku ”Menulis Itu Gampang” (2002), ”Aku Menulis Maka Aku Ada” (KH. Zainal Arifin Thoha, 2009), ”Sukses Menjadi Penulis Independen” (Amiruddin Zuhri, 2008), ”Cara Asyik Menjadi Penulis Beken” (Aguk Irawan MN, 2008), ”Jangan Takut Menulis” (Ahmadi Sofyan, 2006), ”Jurus Maut Menulis Buku Best Seller” (Badai Fisilmikaffah, 2008), ”Cara Mudah Menulis Buku Metode 12 Pas” (Dodi Mawardi, 2007), dan lain-lain, semuanya memotivasi kita untuk menulis, dan ternyata ”menulis itu gampang, mudah, dan asyik.”
Ersis Warmansyah Abbas telah menerbitkan beragam buku dengan berbagai tema. Tentang menulis, bukunya yaitu Menulis Sangat Mudah (Mata Khatulistiwa, 2007), Menulis Mari Menulis (Mata Khatulistiwa, 2007), Menulis dengan Gembira (Gama Media, 20080, Menulis Berbunga-Bunga (Gama Media, 2008), Virus Menulis Zikir Menulis (Gama Media, 2008), Menulis Mudah: Dari Babu Sampai Pak Dosen (Gama Media, 2008), Menulis Tanpa Berguru (Gama Media, 2009), Menulis Membangun Peradaban (Gama Media, 2009), ‘Jatuh Cinta’ Menulis (Wahana Jaya Abadi, 2011), Indonesia Menulis (Wahana Jaya Abadi, 2011), Suer, Menulis Itu Mudah (Elex Media Komputindo, KK Gramedia, 2011), Percaya Nggak Percaya, Menulis Itu Mudah (Wahana Jaya Abadi, 2012), Nyaman Membaca Mudah Menulis (Wahana Jaya Abadi, 2013), Mudah Menulis Memudahkan Menerbitkan Buku (Wahana Jaya Abadi, 2012), Menulis Menyenangkan (Wahana Jaya Abadi, 2012), Menulis Mudah Memudahkan Menulis (Wahana Jaya Abadi, 2013), dan Indonesia Menulis: Perjalanan Spiritual (Wahana Jaya Abadi, 2013).
Untuk meningkatkan profesionalisme, guru hendaknya dapat menulis. Menulis dalam pengertian luas, seperti menulis buku ajar, buku pengayaan, artikel, makalah, atau penelitian tindakan kelas (classroom action research). Ini disebabkan menulis dan guru ibarat sekeping mata uang yang saling berkait dan saling mendukung (Johan Wahyudi, 2013).
Dengan menulis, seorang guru akan mendapatkan banyak keuntungan (Anonymous dalam Syarifuddin, 2019).
Menguasai materi pelajaran dengan lebih baik. Ketika menulis buku, sebenarnya guru telah belajar untuk materi pelajaran yang akan diajarkan. Secara otomatis, materi pelajaran itu dikuasai dengan lebih, bahkan sangat baik;
Bertambah kewibawaan dan kesahajaannya di depan siswa. Seorang guru yang menguasai materi pelajaran dengan baik, ia akan disegani, dihormati, penuh percaya diri dan tampak lebih berwibawa di depan siswa;
Menjadi teladan di lingkungan kerja dan masyarakat karena tidak berteori saja. Istilah lain : tidak jarkoni (iso ujar tidak bisa nglakoni = bisa bicara tak bisa menjalaninya). Ketika telah menunjukkan kemampuannya mengimplementasikan ide menjadi sebuah buku, seorang guru akan dikenal dan terkenal di masyarakat. Kemampuannya itu akan menempatkan dirinya sebagai figur atau teladan;
Memperoleh keuntungan finansial yang lebih dari cukup. Awal Januari 2008 lalu, pemerintah melalui BSNP, Badan Standar Nasional Pendidikan, melakukan sosialisasi penulisan buku ajar. Untuk buku yang dinyatakan lolos, pemerintah akan membelinya dengan banderol Rp 100 juta – Rp 175 juta per judul. Bayangkan jika ada seorang penulis mampu meloloskan lima buah buku. Ia telah mengantongi uang tak kurang dari Rp 500 juta. Itu yang menggunakan sistem beli hak cipta. Sekarang, bandingkanlah yang menggunakan jalur royalti. Saat ini, perusahaan penerbitan memberikan royalti berkisar 5% – 10%. Bayangkanlah jika sebuah buku dicetak 100 ribu per judul. Berapakah royalti yang akan diterimanya? Maka, adakah seorang penulis yang miskin?;
Dapat menaikkan pangkat dan golongan secara cepat. Untuk kenaikan pangkat dan golongan dari IVa ke IVb, seorang guru dituntut dengan kemampuan menulis karya ilmiah sejumlah 12 poin. Berdasarkan pedoman Penilaian Angka Kredit (PAK), sebuah buku ajar yang lolos bernilai 8 poin. Artinya, dengan dua buku saja, seorang guru sudah lebih dari cukup untuk nongkrong di golongan IVb. Bandingkanlah dengan penelitian tindakan kelas (PTK) yang hanya bernilai 4 poin;
Mengkomunikasikan idenya dengan leluasa. Penulis adalah raja. Ia dapat berbuat apa saja dengan tulisannya. Kebebasan berekspresi dan mengekspresikan ide akan membuahkan ide-ide cemerlang. Semakin sering penulis menuangkan ide, ia akan semakin pandai dan matang dalam menulis;
Dapat menguatkan, menolak, dan memunculkan ide atau gagasan baru karena terus belajar. Ketika menulis, seorang penulis akan mengendapkan atau sedimentasi ide. Penulis akan menyelaraskan setiap ide yang ditemukan. Jika ditemukan keganjilan, penulis akan melakukan pembandingan ilmiah. Akhirnya, apakah ide itu ditolak, dikuatkan, atau justru menemukan ide baru;
Mendakwahkan ilmu dengan cara baik dan bijaksana. Metode dakwah atau menyiarkan ilmu yang paling baik adalah dengan menuliskannya. Artinya, seorang penulis sebenarnya juga seorang misionaris, dai, mubaligh, atau pun guru. Jika ia menulis dengan niat ikhlas berdakwah, maka ia tidak hanya mendapatkan keuntungan materi, tetapi akan mendapatkan lebih dari itu, yaitu keuntungan rohani/pahala;
Dapat menemukan metode pembelajaran yang paling tepat. Ini disebabkan karena guru telah menguasai materi pelajaran. Ketika materi pelajaran telah dikuasai, penulis buku yang juga seorang guru akan menemukan metode pembelajaran dengan tepat. Penulislah yang paling tahu materi dan metode pembelajaran yang paling tepat digunakan;
Berkesempatan berjumpa dengan petinggi negara. Ketika surat keterangan lolos BSNP akan diberikan, seorang penulis akan diundang pejabat berwenang untuk menerima SK tersebut secara langsung. Itulah saat paling membahagiakan karena dapat berjumpa dengan orang yang selama ini hanya dapat dilihat melalui media. Sudah diundang, diberi uang saku, diberi akomodasi, tiket pesawat gratis, dan lain-lain;
Berkesempatan untuk menjadi pembicara, narasumber, atau tamu pada forum ilmiah. Lagi-lagi, keuntungan berlipat akan didapat. Keuntungan untuk mempromosikan buku hasil tulisannya, mendapatkan sertifikat sebagai pembicara, dikenal dan terkenal, mendapatkan keuntungan uang saku, mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman, dan lain-lain.
Semua aspek dapat dimanfaatkan dan mendatangkan keuntungan. Semua celah akan menjadi sebuah kesempatan. Dan kesempatan tidak akan datang dua kali. Oleh karena itu, begitu kesempatan itu datang, hendaknya guru tidak membiarkan kesempatan itu berlalu. Memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan lebih dari sekadar bayangan. Karena memang sedemikian banyak keuntungan yang akan diperolehnya. Maka, seorang guru harus memotivasi diri agar secepatnya berkarya.
Publikasikan Atau Minggirlah
Ada dua pameo yang diyakini kebenarannya, khususnya di perguruan tinggi yaitu publish or perish (publikasikan atau minggirlah) dan all scientist are the same, until one of them writes a book (semua ilmuwan adalah sama, sampai satu di antara mereka menulis buku) (Widarso, 1997). Pameo tersebut pun penulis kaitkan dengan ungkapan “scripta manent, verba volant”. Menurut Arianto (20/Sep/2007), arti ungkapan tersebut adalah “yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap bersama hembusan angin”. Setidaknya saya menyadari bahwa isi dari ungkapan ini telah dapat dinikmati oleh Emha Ainun Najib, Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal Gus Dur, Budi Dharma, dan lain sebagainya. Sederet nama itu telah menghasilkan tulisan sangat kaya makna dan sarat nilai.
Budaya menulis guru di Indonesia masih memprihatinkan. Hal ini terkait dengan minimnya kebiasaan membaca di kalangan guru. Salah satu buktinya adalah belum banyak karya tulis ilmiah yang dilahirkan oleh kaum guru. Akhirnya ada yang mencoba jalan pintas dengan menjiplak karya tulis milik orang lain.
Keterampilan menulis adalah salah satu aspek penting dalam proses komunikasi. Tarigan (2008) mengungkapkan, “kemajuan suatu bangsa dan negara dapat diukur dari maju atau tidaknya komunikasi tulis bangsa tersebut.”
Semoga !!!










