INIPASTI.COM, MAKASSAR – Pada tahun 80-an di kotaku pernah ada Kandang Puyuh demikian masyarakat Makassar menyebut bus bertingkat (double-decker-bus) salah satu transportasi massal di Makassar pada saat itu. Daya angkut bus ini 105 penumpang duduk, ditambah penumpang yang berdiri bisa mencapai 200 orang sekali jalan.
Pada masa jayanya, moda transportasi ini menjadi icon. Orang-orang daerah yang berkunjung ke kota ini, tidak afdol jika pulang belum naik bus ini. Sayangnya tahun 1999 Kandang Puyuh tersebut terbang entah kemana dan akhirnya punah. Tahun 2000, Kandang Puyuh diganti oleh Bus Damri biasa (singgle-decker-bus) dengan berbagai jurusan di dalam kota bahkan sampai ke Maros dan Gowa. Pun transportasi massal ini punah pada tahun 2006 dan sekarang tinggal nama saja.
Kedua transportasi massal tersebut direspon oleh masyarakat Makassar sangat baik dan lebih disukai daripada angkutan mikrolet (pete-pete) yang juga ada pada saat itu. Dengan halte seadanya, Kandang Puyuh dan Damri tersebut, penuh sesak oleh penumpang dari berbagai jurusan. Sayang seribu sayang, transportasi publik ini bukannya semakin bertambah, berkembang, dan dikelola dengan baik, melainkan hilang begitu saja bak ditelan bumi. Penyebabnya, pemerintah kota tidak melakukan penambahan bus dan juga tidak melakukan peremajaan bus, sehingga bus yang ada semakin tua dan akhirnya punah. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah kota sama sekali tidak memperhatikan (atau tidak memikirkan) betapa pentingnya transportasi massal. Setidaknya oleh pemerintah kota yang berkuasa pada saat itu.
Sejak hilangnya kandang puyuh dan damri, transportasi umum di Makassar didominasi oleh Pete-Pete sebutan bagi mikrolet/angkutan kota berpenumpang 6+4 (+1 lagi duduk dipintu dengan bangku seadanya) di bahagian belakang, dan 1 penumpang + 1 Sopir di depan. Betapa angkutan umum ini tidak nyaman dan minim fasilitas. Angkutan umum lainnya yang merajalela di Makassar pada saat ini adalah Becak Motor (Bemtor, dibaca bentor). Angkutan umum tidak resmi (namun dibiarkan keberadaannya) ini di-create sendiri oleh masyarakat dengan cara “merusak” sepeda motor dan disambung dengan becak (roda 3) yang juga “dirusak”. Faktor keamanan dan kenyamanan tentu tidak menjadi prioritas dalam industri abal-abal ini. Bahwa kejadian ‘lepas”-nya motor dan becak tersebut sudah menjadi hal biasa di kota ini.
Tahun 2015, pemerintah kota Makassar kembali melahirkan transportasi umum berbasis bus dengan nama Bus Rapid Trans (BRT) melalui jalur khusus berwarna merah/ Bus Lane (Bus Lane adalah Bahasa Inggris dari Jalur Bus, entah kenapa Bahasa Inggris lebih disukai digunakan di kota ini).
Keberadaan BRT ini diikuti dengan penyediaan halte-halte dengan ruang tunggu seperti halte trans-Jakarta, halte panggung tanpa ruang tunggu, atau halte acrylic berbentuk kapsul. Dibandingkan dengan transportasi massal yang pernah ada sebelumnya, Bus BRT dengan jargonya ayo naik bus, jauh lebih canggih dan lebih nyaman, namun sistem pembayarannya masih konvensional.
Sistem pembayaran pendahulunya (kandang puyuh dan damri) jauh lebih baik, karena menggunakan tiket yang bisa dibeli dipool bus untuk kebutuhan bulanan, dan pula harga tiket masyarakat umum berbeda dengan harga tiket pelajar/mahasiswa.
Sejak diluncurkan tahun 2015, mulai terlihat satu dua BRT berwarna biru dengan tulisan ayo naik bus, berlalu-lalang di kota ini pada jalur khusus Bus Lane yang telah disiapkan sebelumnya. Namun sayang sekali, pada semua jurusan, bus tersebut lebih banyak kosongnya dari pada berisi penumpang.
Disamping itu, bus tersebut hanya sekali sekali saja terlihat di jalan. Entah kenapa keberadaan BRT yang canggih dan nyaman ini tidak disambut dengan baik oleh masyarakat Makassar. Kenyataan ini sangat ironis jika dibandingkan dengan pendahulunya kandang puyuh dan bus damri yang penuh sesak oleh penumpang pada berbagai jurusan. Sementara halte-halte yang ada sudah mulai rusak karena tidak terpakai dan tidak terpelihara. Dikhawatirkan nasib BRT ini akan terbang melayang mengikuti jejak pendahulunya.
Tergugah dengan kenyataan itu, penulis melakukan pengamatan sederhana dengan cara menumpang BRT dalam kota dan juga BRT bandara. Kenyataan yang didapatkan 1) Bus-bus tersebut berjalan tidak berbasis waktu, melainkan berbasis jumlah penumpang. Dengan demikian waktu menunggu bus tidak bisa diprediksi. Penumpang tidak mempunyai kepastian waktu jika menumpang bus ini (sebagai pembanding, di kota lain di dunia, transportasi massal berbasis waktu, sehingga penumpang mempunyai kepastian waktu). 2) Sistem pembayaran BRT yang rancu, penumpang bus berpotensi membayar dua kali ketika naik dan menuju ke halte yang berada di antara dua home-base bus tersebut, dengan demikian menumpang BRT menjadi sangat mahal (sebagai pembanding, di kota lain di dunia, penumpang membayar satu kali saja ketika naik, sampai dia turun). 3). Jumlah bus yang relatif sangat minim, menyebabkan waktu menunggu bus yang sangat lama, sehingga akhirnya masyarakat lebih memilih angkutan pete-pete.
Demikian, paling tidak 3 hipotesa tersebut (yang tentunya perlu penelitian yang lebih mendalam), yang menyebabkan BRT tidak disambut dengan baik oleh masyarakat Makassar, disamping fasilitas/ tempat menunggu yang tidak nyaman, jarak antara halte terlalu jauh, keamanan menunggu (waktu malam), dan faktor lain seperti kemudahan mendapatkan kredit kendaraan roda dua, juga mempunyai andil sehingga BRT tidak dilirik dengan baik oleh masyarakat.










