INIPASTI.COM, TORONTO – Meski beberapa pasien COVID-19 mengalami gejala ringan dan sembuh sendiri di rumah, namun pasien lain ada yang tampak baik-baik saja pada suatu saat lalu tiba-tiba harus dilarikan ke rumah sakit dan berjuang untuk tetap hidup.
Perubahan kondisi menajdi memburuk dalam waktu singkat, serta tanda-tanda klinis lainnya, membuat beberapa peneliti percaya bahwa sistem kekebalan tubuh pasien tertentu justru berbalik merugikan mereka dengan bereaksi berlebihan terhadap virus.
Fenomena ini secara luas dikenal sebagai cytokine storm atau “badai sitokin” dan telah didokumentasikan dengan baik sejak jauh sebelum dunia menghadapi wabah coronavirus baru. Bahkan, ada beberapa ilmuwan yang percaya bahwa badai sitokin dapat menjelaskan mengapa orang muda yang sehat meninggal karena flu Spanyol pada tahun 1918.
Menurut Dr. Douglas Fraser, peneliti utama dan dokter perawatan kritis anak di London Health Sciences Centre di Ontario, badai sitokin dapat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh memulai respons “berlebihan” terhadap suatu infeksi.
Selama respons imun, tubuh memproduksi sitokin, yang merupakan molekul yang dilepaskan oleh sel-sel tertentu ke dalam aliran darah untuk membantu mengoordinasikan serangan terhadap infeksi. Biasanya, tubuh melawan dengan menghasilkan sitokin yang cukup untuk melawan virus atau bakteri dan kemudian berhenti begitu penyerang dikalahkan.
Dalam badai sitokin, sistem kekebalan menjadi overdrive dan terus melepaskan molekul, yang kemudian menyerang organ-organ yang seharusnya mereka lindungi.
“Maksudnya adalah sitokin diproduksi dan dilepaskan pada jumlah yang jauh lebih tinggi yang menyebabkan kerusakan pada tubuh,” kata Fraser, yang saat ini mempelajari respon inflamasi tubuh terhadap COVID-19, dalam wawancara telepon dengan CTVNews.ca Selasa.
Jika tidak diobati, efek dari reaksi berlebihan oleh sistem kekebalan ini dapat menyebabkan hasil fatal dari komplikasi seperti kegagalan multi-organ, radang paru-paru, pneumonia bakteri, dan gangguan pernapasan.
Dalam pandemi saat ini, Fraser mengatakan penelitian tentang bagaimana badai sitokin dapat memengaruhi pasien COVID-19 masih dalam tahapan sangat awal. Namun, penelitian baru-baru ini dari Cina dan Eropa tampaknya memberikan bukti peningkatan kadar sitokin dan molekul kekebalan lain yang merupakan karakteristik dari badai sitokin pada pasien COVID-19.
Fraser mengatakan para dokter telah mengamati demam tinggi pada pasien mereka, peningkatan kadar protein ferritin, yang terjadi selama peradangan, dan beberapa garis sel dengan kadar hemoglobin yang rendah, sel darah putih dan / atau trombosit.
“Semua hal ini dapat terjadi dari sitokin yang tinggi,” jelasnya. “Jadi tidak ada bukti, belum ada bukti yang meyakinkan untuk mengatakan bahwa badai sitokin sedang terjadi; Namun, berdasarkan gejala klinis yang ada, hal itu mengkin saja bisa terjadi. ” (AR)
ctvnews.ca










