INIPASTI.COM, MALINO – Satu yang menjadi ciri khas Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat menyampaikan pidatonya adalah bahasa puitisnya. Ia laksana pujangga yang dengan kata-katanya yang sarat makna mampu membuat orang yang mendengar hanyut. Dengan intonasi dan retorikanya ia mampu membuat hadirin terbawa suasana.
Hal itu pula tampak pada Puncak Peringatan HUT Satpol PP ke 68 dan Satlinmas ke 56 tingkat Provinsi Sulsel di Lapangan Prayudha, Malino, Senin, 19 Maret 2018 kemarin. Suasana riang gembira, riuh dan ramai, sejenak menjadi hening terbawa haru mendengarkan pidato Nahkoda Sulsel dua periode tersebut.
Berikut beberapa ungkapan puitis Sang Komandan yang menjadi inspektur upacara pada peringatan tersebut:
“Kalian telah mampu menyatukan air, api dengan tanah. Kalian telah mampu menyatukan Utara ke Selatan, Barat ke Timur. Dan sebagai orang Bugis-Makassar, siapa pun kita, hari ini matahari dan awan menyatu, ada sinar, ada cahaya, ada awan-awan tipis menatah kita di acara ini, tapi kita memiliki hati yang sejuk bersama, mengantar upacara ini.”
“Upacara ini adalah bagian dari aksara bahwa satuan polisi pamong praja akan makin kokoh dan kuat mengawal pemerintahan yang ada di Sulawesi Selatan ini, menjaga rakyat dengan sebaik-baiknya, membangun rahmat dan melindungi masyarakat, membangun pemerintahan yang memang lahir untuk kepentingan. Akhirnya, kehidupan yang makin maju, makin mandiri, makin modern di tengah-tengah kehidupan di Indonesia dan bangsa-bangsa.”
Yang paling mengharukan, pada kesempatan tersebut, SYL yang sudah 10 tahun memimpin Provinsi Sulsel ini meminta izin kepada ribuan peserta yang hadir di acara tersebut.
“Hari ini saya sekaligus minta izin kepada kalian. Saya bangga menjadi Gubernur kalian, sekaligus sebagai pembina Satuan Polisi Pamong Praja.
10 tahun, hampir tak pernah saya mendengar ada padi-padi dan tanaman yang rusak karena bersoal dengan masalah.
10 tahun saya tidak mendengar ada bencana alam yang sangat dahsyat dan mengganggu kita.
10 tahun saya tidak mendengar ada serangan hama yang membuat kita harus porak-poranda dalam kehidupan.
10 tahun bahkan saya tidak pernah mendengar ada huru hara, pengganyangan-pengganyangan, kenapa? Karena hadir pemerintahan yang mampu bersatu dengan rakyat, membela kepentingan rakyat, dan tidak berada pada senang-senang sendiri memenuhi kehidupannya.”
“Saya dan kalian harus bangga bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan kita semua adalah pemerintah yang terbaik di seluruh Indonesia saat sekarang ini. 10 tahun, provinsi ini mengalahkan dunia, pertumbuhannya 500 persen. Korea Selatan 30 tahun 1200 persen. Singapure, pertumbuhan yang paling tinggi kedua di dunia, 450 persen, Taiwan 400 persen, Malaysia 283. Sedangkan Sulawesi Selatan dalam setahun, 500 persen. Itu karena kita cukup damai, cukup tenteram, cukup teratur, dan di situlah tugas kalian dan saya.”
SYL pun menutup sambutannya dengan pesan yang membuat mata beberapa hadirin berkaca-kaca.
“Terima kasih, awan pasti berarak sebentar lagi. Jalan pun pasti akan bersimbah, tidak ada yang lurus-lurus, pasti ada tikungan. Tapi di tikungan itu bukan akhir dari sebuah perjalanan. Biarkan matahari berganti dengan malam. Biarkan Sang Matahari redup menikmati malam yang syahdu, bercumbu dengan rembulan. Matahari tentu berada di peraduannya bukan untuk tidak terbit lagi besok. Insya Allah, matahari akan kembali terbit membangun terang dan sinar yang lebih dahsyat dan besar bagi bangsa dan negara yang kita cintai ini.”
“Kepada kalian semua, kalau suatu saat ada hal-hal yang memang membutuhkan kalian harus hadir, tegak luruslah atas nama bangsa, tegak luruslah atas nama kepentingan dan perlindungan rakyat, tegak luruslah atas nama pemerintah. Negara hanya baik kalau hadir pemerintahan yang baik dan kuat. Siri’na tuma’buttayya intu niaki ri pammarentayya (Harga diri bangsa ada pada pemerintah,red).” (Sule)










