INIPASTI.COM, JAKARTA – Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain membantah pernyataan Pelaku Bom Bali Ali Imron. Sebelumnya, Ali Imron menyebutkan bahwa orang-orang yang terpapar radikalisme sangat banyak di Indonesia.
“Seandainya yang radikal dan teroris itu satu persen saja, itu ada 2,3 juta orang yang akan menikam pejabat, habis pejabat negara di Indonesia. Itu kalau satu persen saja,” jelasnya pada ILC ‘Misteri Penusuk Wiranto’ yang tayang di tvOne, Selasa, 15 Oktober 2019 kemarin.
“Kalau ‘buanyaknya’ itu 10 persen, habis semua ini, keluar dari sini mati. Karena ada 23 juta orang yang terpapar radikal. Jadi jangan begitu, dan tidak ada kaitan dengan agama. Kalau mereka mengatasnamakan agama, itu urusan mereka, tapi agama tidak ada mengajarkan begitu, agama apapun,” tegasnya sambil menunjuk para pejabat yang hadir pada acara tersebut.
Tengku Zul pun mempermasalahkan kinerja Badan Intelejen Negara (BIN). Harusnya, kata dia, kalau memang ada oknum yang sudah dicurigai terpapar terorisme, harus dipantau 24 jam, dan tidak memberi kesempatan untuk melakukan aksinya.
Dia bahkan menyayangkan cara penanganan teroris di Indonesia. Menurutnya, menangani teroris, tidak serta-merta harus menggunakan senjata. Tetapi harus ada pendekatan religius yang dilakukan kepada pelaku.
“Sudah dibuat MoU antara BNPT dan Majelis Ulama Indonesia, bahwasanya pendekatan terhadap radikal dan tokoh-tokoh yang pernah terpapar radikal, tidak semata-mata security approach (pendekatan keamanan,red). Tapi ada spiritual approach (pendekatan agama,red),” ungkapnya.
“Pendekatan agama, disentuh nuraninya, itu diserahkan ke MUI. Tapi semenjak tanda tangan itu sampai sekarang, tidak pernah ada yang dibawa ke MUI,” tukasnya.
(Sule)










