INIPASTI.COM, SOPPENG – Pegunungan, jalan berliku-liku, pohon lebat, jauh dari pusat keramaian, tapi menyuguhkan pemandangan indah merupakan deskripsi yang bisa menggambarkan perjalanan menuju lokasi pelaksanaan kegiatan yang digelar oleh Seksi Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kantor Kemenag Kabupaten Soppeng. Lejja’, itulah nama tempatnya.
“Kawasan yang sudah dikenal dengan wisata permandian air panasnya ini dipilih menjadi lokasi pelaksanaan acara, agar peserta bisa rileks dalam keseriusannya mengikuti kegiatan,” kata A Barlianti Dulung selaku Kepala Seksi PAIS Kemenag Kabupaten Soppeng.
A Barlian -sapaan akrabnya- tidak tanggung-tanggung menggelar kegiatan ini. Keseriusannya itu terlihat dengan menghadirkan langsung Kakanwil Kemenag Provinsi Sulsel, Kabid PAIS Kanwil, para Kepala Seksi PAIS se-Sulsel, dan ratusan Guru PAI dari MGMP, KKG se-Sulsel. Mereka dikumpulkan untuk ‘NGOPI’ bersama di Hakata Resort Lejja’, Sabtu, (17/3/2018)
NGOPI disini bukanlah minum kopi, tapi merupakan singkatan dari Ngobrol Pendidikan Islam. salah satu dari 11 program prioritas yang di-direct langsung oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin di Tahun 2018 ini. Di mana salah satu tujuannya adalah diharapkan bisa melahirkan pemikiran konstruktif dan inovatif bagi perkembangan dan peningkatan program PAIS di masa yang akan datang, termasuk meningkatkan kualitas Guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulsel, Abd Wahid Thahir, setelah me-launching NGOPI menyampaikan bahwa ngobrol itu identik dengan percakapan serius tapi santai dan berlangsung dua arah. “Ada saling keterbukaan dan dialog di dalamnya dan ada banyak solusi bisa diperoleh. Ke depan, program NGOPI ini diperluas cakupan stakeholdernya, bukan hanya lingkup intern Kementerian Agama tapi kita melibatkan unsur eksternal seperti Pemprov, Pemda atau Pemkot, Dinas Pendidikan, legislatif, dan pimpinan lembaga keagamaan termasuk orangtua anak didik kita, supaya target dan capaiannya bisa lebih kena sasaran,” usulnya.
Dalam dialog yang digelar dengan model talkshow ini, sejumlah ide, gagasan dan pembahasan terkait masalah seputar PAI berkembang di forum NGOPI. Salah satunya yaitu bahwa sebagai guru PAI, hal pertama yang harus dituntaskan secara pribadi dan kelembagaan adalah merubah dan memperbaiki maindset sebagai tenaga pendidik, khususnya bidang PAI.
“Kita harus merubah maindset kita sebagai tenaga pendidik. Agar paradigma awal dalam melaksanakan tanggung jawabnya bukan berorientasi pada sesuatu yang semata sifatnya pragmatis, mengajar hanya untuk dapat gaji, mengajar asal gugur kewajiban misalnya. Akan tetapi lebih besar dari itu, yakni bagaimana meluruskan bahwa tugas utama kita sesungguhnya adalah menciptakan dan membentuk ‘Generasi Sukses Dunia Akhirat’, yang di samping berwawasan luas juga berakhlakul karimah dan membawa kemaslahatan bagi umat,” serunya.
Selain itu, menurutnya, seorang guru PAI juga harus ikhlas dalam melaksanakan tugas. Karena ia memandang bahwa salah satu kunci terserapnya ilmu dan suksesnya proses transfer pengetahuan ke anak didik adalah keikhlasan dalam mengajar.
“Tuntas dari paradigma awal tersebut, maka jenjang selanjutnya adalah bagaimana menjadi guru PAI yang berkualitas dan update perkembangan zaman. Karenanya guru PAI itu harus berprinsip ‘Pantang Mengajar Sebelum Belajar’. Jadi tidak ada kata berhenti belajar. Lalu ajarkanlah anak didik kita sesuai zamannya, jangan paksakan anak didik kita sesuai zaman kita (guru,red),” imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa guru PAI di zaman sekarang harus pintar berinovasi khususnya dalam hal metodologi pembelajaran yang berbasis IT. Kurangnya jam pelajaran PAI di Sekolah, ia sinyalir menjadi salah satu sebab kurang maksimalnya pembinaan keagamaan kepada anak didik. Maka ia merekomendasikan penambahan jam pelajaran bagi mata pelajaran PAI kepada anak didik, utamanya menjelang USBN dan UNBK.
Dalam dialog yang berlangsung sampai dini hari ini, peserta bersepakat untuk menghindarkan dan menjauhkan anak didik dari paham radikal khususnya yg mengatasnamakan agama.
Diusulkan pula bahwa perlu diagendakan ada forum khusus yang mempertemukan antara guru-guru PAI di sebuah sekolah dengan orangtua siswa untuk membincangkan dan mengkomunikasikan perkembangan masalah anak didik di bidang keagamaan. Dengan tujuan utamanya adalah bagaimana melibatkan orangtua dalam membina dan mengawasi anaknya di luar jam sekolah. (*)










