INIPASTI.COM, MAKASSAR – Faktor figur atau aktor adalah elemen yang paling berpengaruh dalam meraih dukungan politik. Terutama dalam proses penentuan kepemimpinan melalui mekanisme demokrasi. Perjalanan hidup seorang calon pemimpin atau track record seorang aktor yang memasuki ranah demokrasi harus bersedia membuka diri dalam mengekspos warna warni kehidupan masa lalunya. Atau publik akan mencari tahu seluk beluk kehidupan calon pemimpinnya. Dengan cara ini publik akan menemukan pemimpin yang berkualitas dengan prinsip demokrasi substantif.
Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pilihan publik itu? Secara garis besar ada dua variabel yang bisa membujuk publik untuk menentukan pilihannya. Pertama, external political behavior dan kedua, internal political behavior.
External political behavior meliputi sikap politik yang diperankan oleh masing-masing aktor politik terhadap luasan jaringan politik. Seberapa luas kawasan politik yang pernah dan akan dimainkan oleh aktor politik tersebut. Bagaimana ia memainkan peranan politiknya terhadap partai politik yang ada. Apakah ia memainkan peran dominasi atau political sharing. Kalau ia memainkan dominasi politik, maka aktor semacam ini tidak terlalu disukai oleh parpol lainnya. Akan tetapi kalau ia memainkan peran political sharing ia akan mendapat dukungan dari parpol lainnya. Selain lapangan parpol, aktor juga harus memiliki jaringan ormas. Aktor politik harus memiliki hubungan yang baik dengan ormas, terutama ormas yang berpengaruh dan solid terhadap keputusan organisasinya. Kalau di Sulsel jenis ormas yang dimaksud antara lain; NU, Muhammadiyah, Wahdah, dan sejumlah organisasi yang kental dengan aktivitas keagamaan. Komunikasi politik aktor sangat menentukan hubungannya dengan ormas-ormas tersebut. Hubungan baik dan komunikasi politik yang dimaksud bukan saja komunikasi atau hubungan yang sengaja dibangun menjelang pilkada, tetapi hubungan yang bersifat permanen.
Sedangkan internal political behavior adalah kemampuan seorang aktor politik memainkan peranan personalnya untuk menangkap sentimen pribadi seseorang pada lingkungan politik maupun lingkungan sosial lainnya. Ketrampilan personal seorang aktor politik dalam hal; kesantunan, menjaga etika, menghormati orang lain, tidak sombong, tidak melihat dirinya yang paling pintar, tidak membeda-bedakan orang, dan mampu menarik perhatian orang lain akan menjadi magnitude politik. Dari sikap personal yang menarik dari seorang aktor politik, akan menjadi kapital politik yang terus menerus mengkapitalisasi dirinya. Kebaikan personal ini akan menjadi alat promosi yang sangat kuat merebut simpati publik. Sikap-sikap ini tentu saja tidak dapat dibuat dalam sekejap mata, apalagi hanya dilakukan karena menjelang Pilkada. Sikap pribadi yang hangat dan murah hati itu hanya dapat dilihat oleh publik manakala dilakukan sepanjang usia kita. Prinsip internal political behavior adalah, lebih bagus sedikit pengikut dari pada ada sedikit musuh, karena sedikit musuh akan dapat mengkapitalisasi dirinya untuk menciptakan kebencian yang semakin meluas. Kebaikan yang tidak terlalu banyak, jauh lebih baik, ketimbang kebaikan yang banyak disertai dengan jumlah musuh yang besar.
Perkembangan politik Indonesia di Sulsel menunjukkan bahwa aktor-aktor politik yang menyiapkan dirinya untuk maju pada Pilkada 2018, antara lain Agus Arifin Nu’mang, Ikhsan YL, dan Nurdin Abdullah. Ketiga aktor ini berdasarkan informasi hasil survei, mendapatkan dukungan yang kuat dari publik. Sebetulnya ada satu lagi aktor politik yang mendapat dukungan signifikan dari masyarakat, yakni Aziz Kahar Muzakar, namun Aziz hingga saat ini belum pernah menunjukkan niatnya mencalonkan diri menjadi Gubernur Sulsel 2018. Beda dengan Nurdin Halid, aktor ini sangat mempersiapkan diri untuk menjadi Cagub 2018 di Sulsel, akan tetapi masih sangat minim elektabilitasnya.
Siapakah diantara mereka ini yang memiliki kapasitas external political behavior dan internal political behavior yang lebih baik atau paling mumpuni? Agus Arifin Nu’mang, Ikhsan YL, atau Nurdin? Mari kita mencermati permainan politik para aktor ini. Kita mengharapkan aktor yang akan menjadi Gubernur Sulsel adalah aktor politik yang mampu mendorong pembangunan ekonomi, menjaga keberlanjutan pembangunan, dan mampu menjaga keseimbangan politik.










