Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamdulillahilladzi anzala ‘ala ‘abdihi al-kitaba, washshalatu wassalamu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Jamaah tarawih yang dirahmati Allah,
Alhamdulillah, kita masih diberi nikmat untuk menjalani Ramadan, bulan yang penuh keberkahan. Di bulan ini, kita mendengar lantunan Al-Qur’an lebih sering, baik di sholat tarawih, di masjid, maupun di rumah. Tahukah jamaah, Ramadan dan Al-Qur’an punya hubungan yang sangat erat? Al-Qur’an adalah cahaya hidup, dan Ramadan adalah waktu terbaik untuk menyalakan cahaya itu di hati kita. Mari kita simak bersama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 1:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan.”
Malam Lailatul Qadar, malam turunnya Al-Qur’an, ada di bulan Ramadan. Ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat membaca Al-Qur’an hingga khatam berkali-kali di bulan ini. Bahkan, malaikat Jibril datang setiap malam Ramadan untuk membaca Al-Qur’an bersama Rasulullah. Bukankah ini teladan yang luar biasa?
Jamaah yang berbahagia,
Al-Qur’an adalah cahaya yang Allah turunkan untuk menerangi hidup kita. Allah berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 1:
“Alif Lam Ra. Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Tuhan mereka.”
Di bulan Ramadan, cahaya ini bersinar lebih terang. Setiap ayat yang kita baca, dengar, atau renungi bisa menjadi lentera yang menuntun kita keluar dari kegelapan dosa menuju kebahagiaan dan ketenangan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan.” (HR. Tirmidzi)
Bayangkan, jamaah, di bulan Ramadan, pahala itu dilipatgandakan lagi! Satu ayat yang kita baca bisa jadi penutup dosa kita, pembuka pintu rahmat, dan penerang hati kita.
Lalu, bagaimana kita menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hidup di Ramadan?
Pertama, membacanya dengan rutin. Tidak perlu banyak, satu halaman sehari pun sudah cukup, asal kita istiqamah. Di tarawih ini, kita juga mendengar bacaan imam—dengarkan dengan hati, jangan hanya lelet menunggu selesai.
Kedua, merenungi maknanya. Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tapi direnungkan. Misalnya, saat kita baca ayat tentang sabar atau syukur, tanyakan pada diri: sudahkah aku menerapkannya?
Ketiga, mengamalkannya. Cahaya Al-Qur’an akan hidup di hati kita kalau kita jalankan perintahnya: menjaga puasa, bersedekah, atau berbuat baik kepada orang lain.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada kisah menarik dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Al-Qur’an adalah tamu yang datang ke hati kita. Jika kita sambut dengan baik, ia akan tinggal dan memberi cahaya. Jika kita abaikan, ia akan pergi.” Ramadan adalah waktu terbaik untuk menyambut tamu agung ini. Jangan sampai kita sibuk dengan dunia—televisi, gadget, atau urusan lain—sehingga Al-Qur’an hanya jadi hiasan di rak.
Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 82:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Di bulan Ramadan, Al-Qur’an jadi obat untuk hati yang sakit, penyejuk untuk jiwa yang resah, dan cahaya untuk langkah yang bimbang. Ketika kita membukanya, kita seperti berbicara langsung dengan Allah. Bukankah itu kebahagiaan yang tak ternilai?
Jamaah yang mulia,
Mari jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk menyalakan cahaya Al-Qur’an di hidup kita. Bacalah, renungi, dan amalkan. Semoga Al-Qur’an menjadi penerang di dunia, penolong di alam kubur, dan pembawa kita ke surga-Nya. Semoga Ramadan kita dipenuhi cahaya kalam Allah yang agung.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.










