INIPASTI.COM, GOWA – Syahrul Yasin Limpo (SYL) resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel). Hal itu ditandai dengan serah terima jabatan (Sertijab) kepada Soni Sumarsono sebagai Pejabat (Pj) Gubernur Sulsel, Senin, (9/4/2018).
Di balik semua itu, ada kisah menarik dari sosok Gubernur Sulsel dua periode ini yang mungkin belum banyak orang mengetahuinya. Namun, di beberapa kesempatan, sebelum mengakhiri masa jabatan -termasuk setelah Sertijab- SYL acap kali menyampaikan hal tersebut.
Putra kebanggaan masyarakat Gowa ini dalam setiap ia mencalonkan diri sebagai kepada daerah, ia selalu menyempatkan diri untuk melakukan sujud dengan shalat dua rakaat di Masjid Agung Syekh Yusuf. Ritual itu pun ia ulangi setelah resmi mengakhiri kariernya sebagai Gubernur Sulsel. Ia mengunjungi Masjid Agung Syekh Yusuf untuk sujud menghadap Penciptanya.
“Saya percaya, tidak ada yang menempati satu tempat, jika bukan rahmat Tuhan. Makanya saya Tidak pernah kalau Pilkada, saya tidak di sini, saya di sini sembahyang. 15 tahun lalu saya berdoa di sini untuk menjadi wakil gubernur, setelah itu lima tahun kemudian saya bersujud di sini memohon kepada Allah untuk menjadi gubernur,” urainya.

Sebagaimana diketahui, SYL telah mengikuti 5 kali Pilkada. 2 kali sebagai Bupati Gowa, 1 kali sebagai Wakil Gubernur Sulsel, dan 2 kali sebagai Gubernur Sulsel. Pada setiap Pilkada itu, ia selalu keluar sebagai pasangan yang terpilih. Ia pun mengakui bahwa itu berkat ia selalu sujud di masjid kebanggaan masyarakat Kabupaten Gowa itu.
Pada kesempatan itu pun, ia pamit dari jabatan gubernur kepada masyarakat. Seperti pada kesempatan semua, ia mengakhiri dengan sebuah ungkapan yang penuh dengan makna.
“Saya laki-laki Gowa, minta izin. Lepaskan saya mengarungi samudera yang luas untuk menghadapi tantangan baru dengan cara-cara yang baru,” pamitnya.
“Doakan saya sampai di Pulau Harapan, walaupun saat ini masih di balik fatamorgana. Saya tetap laki-laki Gowa, insya Allah, di mana pun saya berada. Sebagaimana simbol kita, kalau seorang laki-laki Makassar sampai disebuah pulau, ia akan menambatkan erat-erat perahunya. Tapi bukan hanya perahu yang ia tambatkan, ia tambatkan pula hati dan komitmennya untuk membangun pulau itu dengan baik,” sambungnya.
“Tidak ada yang berpisah. Kalau ada kerinduanku padamu orang Gowa, semua yang ada di sini, akan disampaikan kerinduanku di angin sepoi-sepoi di Tinggimoncong di sana., Bahkan akan aku pesankan pada awan yang ada di Parigi sana., Dan kalau engkau menembus sebuah pantai dan ada buih-buih mendekatimu, jangan kau tepis buih itu, karena pesan-pesan saya sebagai orang Bugis-Makassar saya titipkan pada buih-buih yang mendekatimu itu,” ujarnya lagi.
Di akhir ungkapannya, ia meminta kepada masyarakat agar mendoakan supaya akhir jabatannya ini menjadi sesuatu yang baik baginya. Ia pun berharap masih bisa memberikan sesuatu yang lebih besar lagi selanjutnya.
“Tidak ada kata perpisahan, karena bagaikan matahari yang akan terbenam, hanya akan berganti secara alami dengan malam. Matahari itu cuma bercumbu dengan rembulan sesaat, untuk menghadirkan cahaya yang lebih terang lagi. Doakan saya pula agar bisa mempersembahkan yang lebih besar, ” tutupnya. (Sule).










