Pada 2000, Al Gore memimpin sejak konvensi dan tetap unggul sampai pertengahan September, ketika George W Bush berhasil menyusul. Akhirnya, Gore meraih suara lebih banyak, namun Bush yang memperoleh kursi kepresidenan.
Semua kampanya di atas memiliki dinamika hampir sama: Kandidat partai berkuasa mula-mula tertinggal, namun pada penghujung musim panas atau gugur, mereka berhasil memanfaatkan koalisi partai mereka yang sebelumnya sukses untuk menyusul lawan. Hanya satu kasus dari lima contoh di atas, yakni pada 1988, di mana calon dari partai berkuasa benar-benar berhasil menang, namun dalam kelima kampanye pemilihan tersebut mereka berhasil menghadirkan persaingan ketat.
Sebaliknya, pada pemilihan kali ini, kandidat dari partai yang tidak berkuasalah yang mengejar ketertinggalannya. Hillary Clinton tidak hanya unggul, tetapi juga diuntungkan secara politis sebagai partai berkuasa untuk mempertahankan selisih kemenangannya. Tugas yang dihadapi Trump menjai semakin sulit akibat terpecahnya internal partai Republik, yang diperparah lagi oleh Trump yang cenderung memperparah perpecahan daripada mengakurkannya kembali.
Bisakah Trump memutar balik arah persaingan? Mungkin. Debat calon pertama pada September nanti merupakan kesempatan untuk menjangkau banyak pemilik suara yang, seperti sebagian peserta diskusi kelompok tadi, hanya sesekali mengikuti jalannya kampanye kepresidenan. Namun, tugas yang ada di hadapannya adalah tuga berat yang belum ada presedennya.










