Clinton Memimpin, Bisakah Trump Mengejar?

Mahmoud Rashwani, T-shirt hijau, membantu menarik seorang pria dari reruntuhan gedung yang dibom di Aleppo, yang belum jelas hidup matinya.
Top Ad

INIPASTI.COM, DUA kelompok diskusi, terdiri atas perempuan pemilik suara di Columbus, Ohio, dan Phoenix, Selasa malam lalu, memberi masukan penting betapa isu tertentu dari kampanye pemilihan presiden, yang menghadapkan Clinton dengan Trump, benar-benar menarik perhatian pemberi suara awam.

Dari 20 pemilik suara pada kedua kelompok diskusi itu, kebanyakan di antara mereka hanya tahu sepintas saja tentang konvensi partai Demokrat dan Republik. Bebebrapa orang tahu Donald Trump bertengkar dengan orang tua tentara yang tewas dalam perang, namun rinciannya mereka tidak tahu. Hampir tidak ada yang memiliki kesan apapun terhadap kedua calon wakil presiden.
Itu merupakan berita bagus bagi Trump: Berita headline bulan lalu terlewatkan oleh banyak pemilih. Namun, hanya itu agaknya berita bagus yang didapatkannya.

Baca Juga:  Trump Ajak Rusia Bobol Email Hillary Clinton (3)

Apakah Semua sudah Berakhir?
Para jurnalis politik sangat enggan menyebut persaingan itu sudah selesai sebelum semuanya berakhir. Kita semua punya kenangan tentang kampanye yang berbalik arah selang beberapa minggu sebelum pemilihan berakhir.
Hanya saja, patut diingat bahwa semua kecemasan yang muncul belakangan itu berkaitan dengan isu rasial, bukan persaingan kepresidennan. Pemilik suara tidak terlalu peduli dengan senator dan gubernur–apalagi anggota DPR atau legislator–dibandingkan dengan para kandidat presiden. Pendapat mereka pun jauh lebih cair dan tidak berkubu.
Dalam persaingan menuju kursi kepresidenan selama lebih setengah abad terakhir, kita memiliki lima contoh di mana persaingan ketat selama masa kampanye akhirnya berubah arah pada 90 hari terakhir:
Pada 1968, Richard Nixon unggul jauh hingga memasuki Hari Buruh, namun Hubert Humphrey berhasil menyusul, memperoleh dukungan dari kalangan Demokrat yang bimbang dan nyaris menang.
Pada 1976, Jimmy Carter memimpin jauh di depan selama musim panas, namun Gerald Ford secara mantap memperoleh tambahan suara dan hampir menang.
Pada 1980, Ronald Reagan mengungguli Jimmy Carter dengan selisih besar hampir sepanjang musim panas, namun Jimmy Carter kembali pulih pada September dan Oktober sebelum akhirnya memudar menjelang penutupan.
Pada 1988, Michael Dukakis unggul pada pertengahan musim panas, namun George H.W. Bush melambung jauh pada konvensi partainya, berhasil mempersatukan partai dan tidak pernah tertinggal lagi.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.