INIPASTI.COM – Dengan tetap menundukkan kepala, Datu Museng akhirnya melangkah menaiki tangga. Pikiranya menerawang.
Ia Tidak setuju dengan pernyataan Maggauka yang mengangkatnya sebagai putera dan mempersaudarakan dengan Maipa Deapati, kekasihnya. Jiwanya mungkin dapat mempertimbangkan tentang soal keputeraan itu, tetapi tidak dengan soal yang menyangkut dengan Maipa. Dengan perawan ini tak ada persoalan lain baginya kecuali adalah kekasihnya, yang akan direbutnya dengan paksa jika tidak mungkin dengan jalan yang lazim.
Ia maklum pernyataan Maggauka tidak berasal dari lubuk hatinya, tapi sekadar untuk mencapai maksudnya yaitu menggunakan Datu Museng menyembuhkan putrinya yang sakit aneh itu.
Ketika ia sedang bergulat dengan pikirannya, mereka tiba di atas istana. Ia kemudian diantar ke bilik sang putri yang hingga kini belum sadar.
Di pintu bilik Datu Museng berhenti. Dimintanya semua orang yang berada dalam bilik tanpa terkecuali meninggalkan ruangan.
Kemudian pintu ditutupnya dan mulai melangkah mendekati pembaringan Maipa Deapati. Langkahnya perlahan sekali, seakan takut membangunkan jantung-hatinya yang sedang tergeletak di hadapannya.
Sesampai di sisi pembaringan, Datu Museng membungkuk meraih kain selimut yang menutupi seluruh tubuh Maipa. Dadanya gemuruh, hatinya berontak. Rasa cinta kasih yang sekian lama terpendam kini bergelora dengan dahsyat seakan-akan hendak memecahkan rongga dada itu. Apalagi ketika wajah Maipa yang tertutup selimut sudah terpandang olehnya. Rasanya ia hendak menjatuhkan diri berlutut merangkul tubuh di hadapannya ini.
Bersambung…










