INIPASTI.COM – Gelarang berhenti lagi. Ia batuk-batuk kecil sembari mengerling, untuk melihat reaksi kakek Adearangang. Dilihatnya, orangtua itu manggut-manggut dengan wajah cerah, tanda maklum dan simpatik. Gelarang menarik nafas panjang. Lega”.
Ia pun kemudian menambahkan, “Kukira jelaslah sudah ucapan ini. Mudah-mudahan pesan Maggauka yang bijaksana ini dapat diterima dan di-iyakan agar baiklah barang yang retak, tertimbunlah malu kita semua. Suka-dukanya adalah suka-duka kita pula. Jadi bijaksanalah kitanya, jika permintaan ini diterima dengan segala senang hati, karena buruk tidak, janggal pun bukan.
“Kami sungguh sangat bersyukur atas pengharapan Maggauka yang amat luhur itu”, akhirnya kakek Adearangang menukas. ”Bagi hamba, usul itu tak ada lagi jeleknya. Namun demikian, ada baiknya juga kita tanyakan kepada anak kita Datu Museng”. Sambil menoleh ke belakang, kakek memanggil cucunya, agar segera datang menemaninya.
Setelah berpakaian selengkapnya, Datu Museng keluar. Ia duduk bersila di sisi kakeknya dan bersalaman dengan para utusan. Kakeknya kemudian menyampaikan soal yang dibicarakan tadi. Dan meminta jawabannya.
Sambil memperbaiki duduknya, Datu Museng berkata, “harapan Maggauka Datu Taliwang sangat hamba setujui. Cuma hamba mohon semoga usul dan harapan itu suci dan ikhlas, keluar dari sanubari Tuanku Maggauka. Karena jika kemudian ternyata tidak demikian, pulang maklumlah tuanku sekalian. Tekad hamba sudah bulat, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup harus berputih-mata!”
“Percayalah Datu, anakku.” Tukas Gelarang, ”hati suci Maggauka dalam niat ini tak perlu diragukan lagi.” Ia pun menceritakan lebih jauh. Apa yang telah terjadi dengan pertunangan antara Maipa dengan Mangngalasa yang diputus oleh Maggauka. Dan disetujui seluruh anggota adat. Ini agar Datu Museng lebih yakin lagi terhadap maksud baik itu.
“Baiklah hamba percaya niat suci Maggauka” kata Datu Museng. Lalu, kakek pun menyela, “dan penyelenggaraanya kami serahkan semua kepada Maggauka. Apa yang dirasakan baik, itulah disetujui bersama”.
“Terimakasih atas persetujuan saudara. Baiklah kami mengundurkan diri pulang ke istana untuk menyampaikan persetujuan kita ini kepada junjungan kita. Supaya lekas dibuktikan laku yang baik ini” kata Gelarang, lalu minta diri.
Bersambung…










