INIPASTI.COM – Dalam darah hamba, tak setetes pun mengalir darah penjilat. Hamba tak akan menjilat tapak kaki musuh yang betapapun kuatnya, untuk lari dari tanggungjawab. Tidak…, hamba akan membela kehormatan negara seperti yang tuanku gariskan, kendati badan dan nyawa dipertanggungkan. Hamba akan lebih tenteram hidup di akhirat kelak, jika mati menjalankan tugas suci, daripada hidup mengkhianati janji. Inilah sumpah hamba!” kata Datu Museng sambil menundukkan kepala. “Terima kasih atas janjimu yang sungguh agung dan mengharukan ini anakku. Mudah-mudahan Tuhan menyertaimu,” sambut Maggauka yang diaminkan seluruh anggota adat.
“Tetapi ada satu permohonan dan harapan hamba, tuanku” kata Datu Museng lagi.
“Sampaikanlah yang tertera di hatimu, anakku. Agar kita dengar dan dipertimbangkan jika memerlukan pertimbangan!” jawab Maggauka.
“Tuanku, sudah ditakdirkan Tuhan, hamba dan putri Maipa tak bisa berpisah lagi. Izinkanlah kami berangkat berdua” pinta Datu Museng.
“Maipa Deapati adalah isterimu, anakku. Kami tak ada niat menceraikan kedua hatimu yang sudah bertaut. Dosa apalah gerangan yang akan menimpa kami jika berbuat serendah itu. Kami mengutusmu ke Makassar dengan sepenuh hati. Yang diutus pun harus pula sepenuh hati berangkat ke sana. Bukan setengah-setengah, tidak separuh hati, sebelah jantung. Berangkatlah dengan isteri belaian kasihmu itu, anakku!”
“Terima kasih, tuanku” sambut Datu Museng pénuh hormat.
Demikianlah, rapat anggota adat yang dipimpin langsung Maggauka, itu berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Yaitu menemukan jalan yang paling patut diambil untuk mangatasi masalah pelik yang menimpa negara. Rapat itu pun bubarlah. Para anggota adat mengundurkan diri. Gelarang dan Datu Museng kembali pula ke rumah masing-masing.
Sesampai di rumah, Datu Museng menceritakan kepada isterinya apa yang dibicarakan dan diputuskan oleh pertemuan adat.
“Dinda sayang Deapati… Aku datang dari pertemuan adat di istana. Di sana dibicarakan masalah yang sangat panting menyangkut hidup matinya pemerintahan ayahanda Maggauka. Dan sebagai hasil keputusan rapat, aku ditunjuk dan diperintahkan berangkat secepatnya ke Makassar untuk menyelesaikan peristiwa pengkhianatan Datu Jarewe terhadap tanah pertuannya. Perintah ayahanda ini tak dapat ditunda berlama-lama.
Intan zamrudku sayang, ayahanda Maggauka yang bersabda, kita yang harus melaksanakan dan mewujudkannya. Berdosalah kita jika tak dapat menu naikan tugas dan harapan rakyat. Tak ada gunanya hidup jika tak dapat memberikan dharma bakti pada ibu pertiwi. Kini tiba masanya ibu pertiwi memerlukan tenaga serta segala yang kita miliki, untuk menegakkan kewibawaan pemerintah dari pengkhianatan Datu Jarewe serta penyokong-penyokongnya. Bersedialah dinda, kita pergi ke Makassar menjadi utusan negara. Kepercayaan ayahanda dan anggota-anggota adat harus kita tunaikan. Siapa lagi jika bukan kita sebagai putranya yang harus menghapuskan arang yang dicorengkan Datu Jarewe ke wajah ayahanda. Kendati tak diminta, kita wajib memajukan diri. Dan aku telah bersumpah di balairung akan memikul segala beban itu” kata Data Museng sambil membelai-belai rambut isterinya penuh mesra.
Bersambung…










