INIPASTI.COM – “Dinda sayang Deapati… Aku datang dari pertemuan adat di istana. Di sana dibicarakan masalah yang sangat panting menyangkut hidup matinya pemerintahan ayahanda Maggauka. Dan sebagai hasil keputusan rapat, aku ditunjuk dan diperintahkan berangkat secepatnya ke Makassar untuk menyelesaikan peristiwa pengkhianatan Datu Jarewe terhadap tanah pertuannya. Perintah ayahanda ini tak dapat ditunda berlama-lama. Intan zamrudku sayang, ayahanda Maggauka yang bersabda, kita yang harus melaksanakan dan mewujudkannya. Berdosalah kita jika tak dapat menunaikan tugas dan harapan rakyat. Tak ada gunanya hidup jika tak dapat memberikan dharma bakti pada ibu pertiwi. Kini tiba masanya ibu pertiwi memerlukan tenaga serta segala yang kita miliki, untuk menegakkan kewibawaan pemerintah dari pengkhianatan Datu Jarewe serta penyokong-penyokongnya.
Bersedialah dinda, kita pergi ke Makassar menjadi utusan negara. Kepercayaan ayahanda dan anggota-anggota adat harus kita tunaikan. Siapa lagi jika bukan kita sebagai putranya yang harus menghapuskan arang yang dicorengkan Datu Jarewe ke wajah ayahanda. Kendati tak diminta, kita wajib memajukan diri. Dan aku telah bersumpah di balairung akan memikul segala beban itu” kata Data Museng sambil membelai-belai rambut isterinya penuh mesra.
“Karaeng Datu Museng, junjungan dinda…, sumpahmu adalah sumpahku, janjimu adalah pula janjiku. Tak usah dikata ke Makassar, menentang maut sekali pun aku rela menurut. Apalagi jika hanya ke tanah seberang, melintasi laut, menentang badai dan gelombang yang berjangka waktu selintas dalam angan. Kemana kanda pergi di situlah adinda. Jika harus mati, kita mati bersama. Sengsara dan duka ditanggung bersama pula.
Junjunganku, sudah kurelakan jiwa ragaku padamu. Jika maut datang menjemput, kita berangkat bersama. Kurasa runtuhlah tempatku berpijak jika harus berpisah dari kanda. Bukankah sejak dulu sudah kuserahkan bulat-bulat jiwa raga ini? Mengapa sekarang ragu, takut mati berkalang tanah di samping junjunganku. Oh, Datu…, sejak dulu kita memadu janji, jiwa dan baban menjadi satu. Adakah bayangan ragu dan bimbang terlintas sekilas dalam cahaya mata adinda? Adakah detak-detak ragu terasa dalam jantungku? Datu, nyala api dalam hati ini masih membakar seluruh jantung dan pembuluh darahku. Nafas hidupku adalah nafas kasih-sayang dan cinta mesra. Sehingga seluruh titik peluh di sekujur tubuh masih tetap mewangi keharuman cinta kasih yang tiada akan pudar, tak lekang oleh apa pun juga”.
Dengan tak terasa air mata Maipa Deapati melumeri pipi pauh-dilayang. Perasaannya nampak menguasai seluruh jiwa raganya, sehingga tak mampu meneruskan kata-hati ulasan jantungnya. Di balik itu terkenang pula ayah-bunda yang akan ditinggalkannya.
Bersambung…
Baca juga: Datu Museng dan Maipa Deapati (58)










