INIPASTI.COM – Daeng Jarre mulai berpikir, mengembalikan ingatan dan semangat yang hilang, sambil mengejap-ngejapkan mata. Setelah sadar apa yang telah terjadi, ia cepat-cepat bangun, lalu berdiri dan tanpa berkata Sepatah pun, ia berbalik dan angkat kaki meninggalkan suami-isteri itu, seperti sudah kehilangan akal budi yang waras. Tak ingat pamit lagi, tak ada sopan santun, dan maksud yang dituju terlupa sudah.
Langkahnya yang panjang-panjang membuatnya sesaat saja ia sudah melewati pintu rumah, lalu bergegas menuruni tangga tanpa mengucapkan salam hormat pada joa pengawal rumah gedang. Ia menuruni tangga lebih cepat ketika datang beberapa saat berselang. Sarung yang tadinya tersimpul teratur rapih, kini menggantung kacau di atas kedua pahanya, membuat langkahnya agak tarkekang. Diraihnya sarung itu untuk disandang di atas bahu. Ketika kaki menjejek tanah, suro itu mengayun langkah panjang-panjang, labih panjang ketika la datang tadi. Entah berapa kali ia terjerembab, bangun lagi dan melangkah lebih cepat, bahkan ia sering berlari-lari kecil. Ia ingin benar tampaknya cepat tiba kembali ke benteng, ke tempat kediaman Tumalompoa dan Jurubahasa.
Ia telah lupa kewajiban yang diperintahkan tuannya telah dilalaikan. Ingatannya, bagaimana secepat mungkin menyampaikan apa yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri di rumah Datu Museng.
Ketika memasuki benteng, pengawal pintu gerbang melongo menyaksikan prilaku abdi Daeng Jarre. Seperti orang yang sudah kemasukan setan, tak menoleh kiri-kanan seperti yang sering dilakukannya apabila hendak memasuki kamar kedua tuannya.
Tanpa mengetuk pintu memberi isyarat lebih dahulu, suro itu melangkah masuk kamar I Tuan Jurubahasa, lalu duduk bersila dekat kaki tuannya.
Melihat suro demikian, Jurubahasa menyelidiki tanpa berkedip. Suro ini nampaknya tak sempurna lagi. Didorong hati ingin tahu apa yang telah terjadi, ia lalu bertanya.
“Hai suro…, apa yang tarjadi hingga keadaanmu seperti ini? Adakah Datu Museng menganiayamu? Katakan, supaya kita bertindak mencari balas. Jika kau dipukuli, berarti kitalah yang dipukuli. Serdadu kita siap mempersilang senjata jika perlu. Katakanlah !”
Kata-kata yang dikeluarkan I Tuan Jurubahasa penuh emosi itu meletup-letup hingga terdengar sampai ke kamar kerja I Tuan Tumalompoa. Gubernur Belanda itu lalu mendatangi kamar Jurubahasa untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi.
Dalam pada itu suro Daeng Jarre belum juga menjawab. Ia masih mencoba mengumpulkan ingatan. Kini Tumalompoa sudah memasuki kamar Juru-bahasa. Diambilnya sebuah kursi dan duduk dekat bawahan kepercayaannya. Kedua pembesar itu kemudian memandangi suro yang kini berangsur-angsur menjadi tenang.
“Suro, ceritakan apa yang telah terjadi, agar Tumalompoa mendengarnya pula !”
Bersambung…
Baca juga: Datu Museng dan Maipa Deapati (82)










