INIPASTI.COM – “Karaeng Datu Museng, hamba datang atas kehendak I Tuan Tumalompoa dan I Tuan Jurubahasa untuk menyampaikan pesannya pada karaengku”.
“Baiklah, apa pesan itu? Kata Datu Museng sambil menatap tajam-tajam abdi ini.
“Anu, karaengku….. eee…., anu….“
“Apa, teruskan suro, jangan ragu-ragu !”
“Begini, karaengku. I Tuan Tumalompoa yang berkuasa di Makassar ini menyuruh supaya karaengku…, menyerahkan segala alat senjata yang ada pada karaengku, dan…, dan…. anu…”
“Ampun karaengku, hamba hanya bagai parang ditetakkan, kapak diayunkan”.
“Kumaklumi itu suro, katakan segera apa maksud tuanmu yang lain !” Datu Museng berusaha menahan amarahnya yang sudah mulai memuncak. “Ampun terlebih dehulu, karaeng…” Daeng Jarre Daenta Daeng Jumpandang tertegun bagaikan dicekik lehernya.
“Teruskan, akan kuampuni kau !”
“Anu karaeng… Isteri…karaengku…” Suro itu berhenti lagi, menelan air liur dan menjilat-jilat bibirnya.
“Kenapa isteriku, suro? Katakan apa maksud Tumalompoa dengan isteriku” Mata Datu Museng sudah mulai membara.
“Ampun, karaeng… Minta diserahkan juga…”
“Apa? Apa betul katamu itu?” Kemarahan panglima perang Sumbawa itu benar-benar telah dipuncak, Diingsutkannya pantatnya ke depan mendekati Daeng Jarre. Rasa-rasanya hendak dipatah-patahkannya tubuh abdi ini. Untunglah ia cepat sadar bahwa Daeng Jarre hanya orang suruhan saja.
“Harap diampuni karaeng… Itulah sabda Tumalompoa” jawab Daeng Jarre dengan wajah pucat. Ia sadar, jika Datu Museng tak mampu mangekang murkanya, entah bagaimana nasibnya sekarang.
“Sombong, pongah !” teriak Datu Museng sambil bangkit dari duduknya. Dengan memegang kuat-kuat hulu keris pusakanya yang bergelar “Matata-rampanna”. Ia melangkah ke jendela. Dadanya bergejolak, diamuk rasa jengkel yang amat sangat. Ia merasa amat terhina dengan permintaan Tumalompoa itu. Selama hidupnya, baru kali ini ada sesama manusia yang berani secara terang-terangan menghinanya. Jika tak cepat sadar bahwa Daeng Jarre hanya abdi saja, akan dicincangnya orang ini.
Di ambang jendela ia berhenti sambil tangan kiri bertumpu pada bingkai jendela dan tangan kanan tetap pada hulu keris, Ia mencoba melontarkan pandangan sekilas ke bawah. Lengang dan kosong. Sekosong dan sehampa parasaannya kini. Ya, tak satu pun benda yang dipandangnya dapat mengobat sakit hatinya. Semuanya seakan malah mengejek dan merendahkan martabatnya yang sudah menggunung.
Bersambung…










