INIPASTI.COM – Hatinya amat masygul dan luka tak, terkira, karena tugasnya tak berhasil. Untuk pertama kali dalam sejarah pengabdiannya, ia gagal dua kali berturut-turut menghadapi seseorang. Apa dayanya sekarang ? Rupa-rupanya Datu Museng bukan sembarang Datu, tapi Datu pilihan yang lulus di atas batu ujian. Dia adalah manusia yang tak gentar pada kekuatan sesama manusia, kendati manusia yang dihadapinya jauh lebih berkuasa dari dirinya sendiri. Akh, sungguh lelaki sejati.
Ketika suro itu asyik memikirkan Datu Museng. ia tiba di benteng dan langsung mendapatkan I Tuan Jurubahasa di kamar kerjanya.
“Tuaanku, harap hamba diampuni. Datu Museng tak dapat diajak berdamai Keris tak dapat lekang dari pinggangnya dan alat senjata yang lain siap dipersilang. Putri Maipa Deapati haram disentuh kulitnya oleh lelaki lain sebelum mayat Datu Museng terhampar terbujur”.
”Apa? Terhampar terbujur, katanya?” sela Jurubahasa.
“Demikian katanya, tuanku” jawab suro Daeng Jarre.
Jurubahasa terdiam sesaat. Ia berpikir keras mendengar tutur abdinya itu. Inilah peristiwa yang senantiasa menghantuinya sejak rencana gila Tuan Tumalompoa itu dicetuskan. Pertumpahan darah, ya, pertumpahan darah akan terjadi apabila rencana itu dipaksakan juga. Hatinya mulai rusuh, perasaannya tak enak. Ia memang sudah yakin Datu Museng tak akan tunduk pada perintah gila itu. Apa dayanya sekarang? Bagaimana dengan Tumalompoa? Tuannya ini adalah orang yang berkuasa di sini. Kedudukannya yang tertinggi di antara anak negeri adalah berkat pengabdiannya kepada Gubernur Belanda itu. Kedudukan empuk itu pasti hancur jika ia mencoba menentang kemauan tuannya.
“Begini saja, suro. Kau ulang sekali lagi ke sana. Mudah-mudahan kali ini sudah lunak hatinya. Bujuk dengan segala daya, pergunakan kefasihan lidahmu. Jika kau gagal lagi, apa boleh buat. Katakan, kedatanganmu adalah yang terakhir. Beri pengertian sebaik-baiknya agar pertumpahan darah dapat dielakkan. Kau tentu maklum apa yang akan terjadi jika ia tetap pada pendiriannya. Pasti banyak korban yang akan jatuh. Kita ingin supaya ia dapat diringkus tanpa perlu mengalirkan darah pihak kita sendiri. Oleh sebab itu bujuklah sedapat mungkin!”
I Tuan Jurubahasa berhenti sesaat, kemudian tambahnya lagi: “jalankan tugas ini besok, mudah-mudahan amarahnya sudah cair. Sekarang, kau sampaikan pesan Tumalompoa kepada sahabat-sahabat kita Karaeng Galesong. Bolebolena Tallo. Pallakina Mallengkeri, Passikkina Parangtambung, I Bage Daeng Majjanji, Karaeng Lewa ri Popo dan Karaeng Nyikkori Kanaeng. Sampaikan bahwa I Tuan Tumalompoa mengharapkan bantuannya nanti jika maksud-maksud baiknya terhadap Datu Museng tidak berhasil suruh mereka bersiap-siap sambil menunggu berita dari kita. Suro. kau lihat sekarang, betapa kuatnya kita untuk menghancurkan panglima perang Sumbawa itu, jika jalan damai tak terbuka. Kau jangan gentar terhadap Datu Museng. Dia manusia biasa, bukan dewa. Jangan lupa kau sampaikan padanya besok bahwa jika ia tetap keras kepala, kepalanya akan diceraikan dari tubuhnya, kemudian diarak keliling kota.
Bersambung…










